Senja telah turun kala lampu-lampu panggung mulai dinyalakan. Nur, pria 43 tahun, terpekur di bawah panggung ludruk tepat di samping perangkat gamelan. Bajunya lusuh, matanya menerawang kosong. Sesekali dihisapnya sebatang rokok kretek lintingannya sendiri sambil menabuh pelan gong di sampingnya. Ia kelelahan setelah berjam-jam menyiapkan panggung pementasan.

Nur, adalah satu dari 46 orang tandak atau personil ludruk Bangkit Budaya. 27 tahun lalu, semenjak usia tujuh tahun ia sudah bergelut dengan dunia kesenian tradisional itu. “Ini adalah dunia saya,” demikian tuturnya di sela-sela persiapan pementasannya di desa Sukerejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo. Sudah hampir dua bulan kelompok ludruk satu-satunya di Madiun itu menggelar pentas di sana.

***

Pukul delapan malam pentas dimulai. Panggung kayu disulap menjadi istana, lanskap keraton lengkap dengan umbul-umbul kebesaranya menambah semarak. Seorang pria mengenakan kain warna-warni dengan keris terselip di pinggangnya naik keatas panggung, menari dengan rancak.

Wiji nama penari itu, usianya 50 tahun. Namun usia tidak menghalanginya bergerak lincah. Malam ini ia berperan sebagai kremo atau pembawa lakon. Kadang kakinya menghentak, kadang gemulai, kadang melompat, berputar akrobatik. Penonton menyambut dengan tepuk tangan.

Usai meliuk dan menghentak, Wiji berdiri di tengah panggung lalu berkidung tentang lakon yang akan dimainkan malam itu. Cerita ludruk malam itu berjudul Nur Manggolo, sebuah kisah dari negeri Darusalam. Negeri yang entah ada dimana, atau barangkali hanya ada di negeri ludruk.

Kelompok ludruk Bangkit Budaya berasal dari Madiun, berdiri sejak 1962. Pahit getir dunia pementasan telah menjadi bagian hidup mereka. “Kami ingin ikut membangkitkan budaya,” ujar Reni, pemilik kelompok ludruk ini.

Perempuan berwajah ayu itu lantas bertutur bahwa mereka kerap merugi ketika pengunjung sepi. “Saya lebih sering ngelus dada,” katanya. Seperti pentas malam itu yang tidaklah seramai sebelumnya. Kendati dengan tiket murah meriah, Rp 3000, namun hanya ada sekitar seratus penonton yang datang.

Pemasukan satu-satunya Bangkit Budaya hanya dari hasil penjualan tiket. Uang hasil penjualan tiket akan dibagi rata kepada 46 orang tandak. Itu belum termasuk pengeluaran tambahan untuk membayar listrik dan jasa keamanan. Alhasil, para tandak rata-rata hanya bisa digaji Rp 3000 per hari. Bila pengunjung sepi, gaji mereka bisa lebih mini lagi.

Minimnya penghasilan tidak menyurutkan para seniman ludruk itu untuk berkesenian. Bahkan mereka mengaku rela tidak dibayar jika pengunjung sepi. “Kami seniman, bagi kami yang penting bisa tampil,” ujar Wiji.

Untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari, para seniman itu mesti mencari penghasilan tambahan dengan menjadi pekerja serabutan di lingkungan sekitar lokasi pentas. Bitono, misalnya, untuk menjaga dapurnya tetap mengebul ia menyambi kerja sebagai tukang pijat atau urut. Begitu pula dengan Nur, setiap pagi hingga sore ia menjadi buruh angkut.

***

Kehidupan para seniman ludruk juga kadang berkelok-kelok. “Saya kalau malam jadi sinden, tapi kalau siang jadi punden,” ujar Nurmila Alita Sari, nama tandak dari Nur. Nur yang siang hari menjadi buruh angkut itu ketika malam berubah menjadi sinden ayu dan bersuara merdu. “Saya laki-laki tetapi hati saya perempuan.”

Ia lantas bercerita tentang warna-warni orientasi seksual para tandak di kelompok ludruknya. “Anggota ludruk yang Laura kurang lebih 15-20 orang,’’ ujarnya. Laura adalah istilah yang mereka pakai untuk menyebut waria. Biasanya para tandak waria ini paling banyak memiliki penggemar. Tidak jarang hubungan asmara terjalin antara mereka dan penontonnya.

“Saya sudah sehati dengan Nur,” ujar Bejo, pengunjung asal ponorogo. Sudah empat tahun ini Bejo menjalin hubungan cinta dengan Nur alias Nurmalia.

Terkadang hubungan asmara antara tandak dengan penonton itu menimbulkan masalah yang kerap kali dipicu oleh rasa saling cemburu. Tidak jarang konflik itu berujung pada perkelahian. “Saya pernah dipukuli karena ada penonton cemburu,” ujar Nur.

Ah, semoga tabah Laura.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Publik dibuat terkejut ketika majalah pers mahasiswa Lentera Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ditarik peredaraannya oleh rektorat dan polisi pada...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...