BPJS Kesehatan Gali Alasan Keluarga Bayi Khiren Abaikan Prosedur

109

PaLEsNXcDk

M Rodhi Aulia – 09 Agustus 2015 21:25 wib

metrotvnews.com – Jakarta: Peserta BPJS Kesehatan, Bayi Khiren Humaira Islami dan keluarganya, harus menanggung biaya perawatan sendiri lantaran tidak mengikuti prosedur yang berlaku. BPJS berjanji akan menggali alasan keluarga bayi Khiren sehingga prosedur itu terlewatkan.

“Kita butuh analisa lagi kenapa bisa lewat 3×24 jam,” kata Asisten Manajer Departemen Hubungan antar-Lembaga BPJS Kesehatan Suciati Mega Wardani kepada wartawan di Deresto Cafe, Pasar Festival, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu, (9/8/2015).

Padahal, kata dia, keluarga bayi Khiren sudah diinfokan untuk mengurusi berkas penjaminan rawat inap dalam waktu 3×24 jam. Selain itu, keluarga Khiren pun sudah menandatangani inform consent, atau bukti keluarga sudah diberitahu soal pengurusan berkas tersebut.

Namun, hingga waktu yang ditentukan habis dan sampai bayi Khiren dibawa pulang usai menjalankan operasi, keluarga tak kunjung mengurus berkas. Baru keesokan hari, setelah pulang, keluarga mengurus itu.

“Jadi berdasarkan prosedur, kalau sudah lewat, apalagi dia sudah pulang, jatuhnya, dia jadi pasien umum (bukan BPJS). Asuransi manapun pasti seperti itu,” tukas dia.

Total biaya dari seluruh perawatan di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita itu, keluarga Bayi Khiren harus menanggung biaya sebesar Rp 124.826.395. Hingga detik ini, Suciati mengaku belum dapat memastikan dispensasi untuk bayi Khiren. Sebab, belum ada pembahasan lebih lanjut mengenai kasus bayi Khiren di internal BPJS Kesehatan.

“Sampai saat ini kita belum bisa memberikan statement apapun,” tandas dia.

Berikut kronologi yang dimiliki BPJS Kesehatan yang diterima Metrotvnews.com langsung dari Suciati.

Bersama ini kami sampaikan kronologi peserta BPJS Kesehatan sebagai berikut:

Nama : Khiren Humaira Islami
No. Kartu BPJS : 0001438401205
No. Medical Record : 2015 383223

1. Pada tanggal 19 Mei 2015 pagi, pasien berobat ke poli umum dengan menggunakan jaminan BPJS Kesehatan dan ditangani oleh Prof. Ganesja Harimurti dengan diagnosa VSD, Mitral Valve.

2. Pada tanggal 19 Mei 2015 pukul 15.09 WIB pasien melapor ke loket central admission office (CAO), dengan membawa surat permintaan masuk perawatan (SPMR) atas rekomendasi dari Prof. Ganesja Harimurti dan pasien direncanakan untuk dilakukan tindakan operasi VSD Closure pada tanggal 20 Mei 2015.

3. Diloket CAO keluarga pasien telah dijelaskan dan diinformasikan oleh petugas RS bahwa untuk pengurusan jaminan rawat inap harus dilakukan paling lambat 3 x 24 jam dan keluarga pasien atas nama: Syaifuddin telah menandatangani Inform Consent tersebut.

4. Pada tanggal 20 Mei sampai dengan 30 Mei 2015 pasien masuk ruang ICU Medikal.

5. Pada tanggal 31 Mei sampai dengan 01 Juni 2015 masuk Ruangan IW Medikal.

6. Pada tanggal 01 Juni sampai dengan 04 Juni 2015 pasien masuk ruangan perawatan anak.

7. Pada tanggal 04 Juni 2015 pasien dipulangkan. Total biaya selama dalam perawatan di RS Jantung Harapan Kita sebesar Rp 124.826.395,-.

8. Pada tanggal 05 Juni 2015 pasien baru melapor ke loket BPJS Kesehatan untuk mengurus jaminan rawat inapnya. Dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka BPJS Kesehatan tidak dapat menjaminkan perawatan pasien tersebut.

9. Pada tanggal 10 Juni 2015 dan 12 Juni 2015 pasien kembali berobat ke RS Jantung Harapan Kita dengan menggunakan Jaminan Pribadi ke Poli Eksekutif.

Demikian kronologi ini dibuat sebagaimana mestinya. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
AZF

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...

Bila Anda menyusuri Kota Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Pecinan. Yah, Semarang merupakan salah satu kota yang terus berupaya...

Those who hate shopping don’t know how to shop

Saya tidak pernah sadar bahwa saya termasuk produk kawin-silang, penyerbukan budaya, atau apalah namanya, yang tidak hadir dalam banyak benak...