Disabilitas Tidak Sama dengan Sakit

"Mereka harus mendapat kesempatan yang sama untuk bisa berkembang."

Dipublikasi diBeritaterbaru.com
117
Diskusi Publik Peringatan 70 Tahun Indonesia Merdeka bertema “Menanti Undang-Undang yang Menjamin dan Melindungi Penyandang Disabilitas”, Jakarta, 17 Agustus 2015. (Beritasatu.com/ Herman)

Oleh sebagian masyarakat, penyandang disabilitas masih dianggap sebagai orang yang tidak berdaya dan tak bisa mandiri. Namun ditegaskan Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atmajaya, Prof. Dr. Irwanto, disabilitas tidaklah sama dengan ketidakmampuan.

Penyandang disabilitas menurutnya juga tidak sama dengan barang rusak yang harus direhabilitasi. Mereka adalah makhluk Tuhan yang juga memiliki potensi.

“Di antara kelemahan dan keterbatasan yang juga dialami oleh kebanyakan orang, ada kemampuan, aspirasi, kreativitas, dan semangat yang juga dimiliki orang-orang disabilitas, itu yang harus selalu kita hargai,” kata Irwanto dalam acara Diskusi Publik Peringatan 70 Tahun Indonesia Merdeka bertema “Menanti Undang-Undang yang Menjamin dan Melindungi Penyandang Disabilitas”, di Jakarta, Senin (17/8).

Irwanto juga menegaskan bahwa disabilitas tidaklah sama dengan sakit. Bila ada yang lumpuh dan terpaksa harus duduk di kursi roda, menurutnya itu hanya sebuah kondisi yang membuat seseorang tersebut tidak bisa berjalan, tetapi tidak sakit.

“Karena tidak sakit, mereka (penyandang disabilitas) juga bisa melakukan pekerjaan apapun. Mereka harus mendapat kesempatan yang sama untuk bisa berkembang. Bila pemahaman seperti ini ada di masyarakat, maka masyarakat akan melihat orang-orang disabilitas dengan lebih positif, lebih optimis,” pungkas Irawan.

Herman/YUD

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Suatu siang beberapa hari lalu, tiba-tiba berbagai group media sosial kelompok jurnalis dan aktivis yang saya ikuti geger. Sebuah screen...

Sempat beberapa tahun lalu saya menerima pertanyaan, apakah sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada Pers Mahasiswa?

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...