Banyak orang mengakui penikmat kopi, tak sedikit pula yang mengklaim pecinta kopi dengan sederet alasan, mulai dari soal rasa sampai idealime tentang kopi. Meski pada kenyataannya saya ataupun kamu misalnya masih bersetia dengan rentengan kopi sachet dengan alasan kepraktisan untuk dinikmati sehari-hari.

Lantas sah kah kalau kami mengklaim sebagai pecinta kopi “sejati” yang bukan tak mungkin akan jadi bahan lucu-lucuan bagi mereka yang menikmati kopi dengan racikan sendiri. Ada yang pernah mengalami? Bahkan ketika saya mencampurkan satu sendok gula, komentar pun tak urung muncul dari Barista salah satu kedai kopi di Jakarta.

Sempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan –Filosofi Kopi-

Rasa kopi itu dominan pahit tapi tentu saja ada rasa lain yang terdapat dalam secangkir kopi, ada asam, asin, pedas, manis, yah memang masing-masing jenis kopi memiliki kecenderungan rasa ikutan dari based kopinya sendiri yaitu bitter sweet.

Bagi penyuka kopi tentu akan susah jika ditanya mengapa suka kopi, mengapa kopi itu enak? Yah memang demikian, termasuk saya suka kopi sedari kecil saat saya mulai merasa betapa tidak enaknya susu putih yang kerap disajikan ibu.

Aroma kopi itu comforting, iya jujur saya akui, baru menikmati aromanya saja sudah bisa mem-booster mood saya beraktivitas atau sekadar menulis. Terlebih saat saya mulai menyeruput kopi panas yang begitu hangat dan nikmat meluncur di mulut saya. Ternyata benar yang banyak orang bilang kalau kopi bisa memberikan sugesti bagi peminumnya, and then itu juga berlaku untuk saya.

Arabica, Robusta atau Liberica hanya pembeda jenis kopi, esensinya kamu menikmati setiap hirup dan rasanya

Perbedaan paling kentara dari kopi sachet dengan racikan adalah pada proses pembutannya, karena muasalnya sama dari biji kopi. Jika kopi sachet kita cukup merogoh kocek mulai dari Rp1500/sachet kemudian diseduh dengan air panasatau tambahan sesuai selera jadilah kopi siap seruput. Sementara kopi racikan tak bisa dibilang mudah meski kalau sudah terbiasa akan tampak sederhana. Mulai dari membeli biji, roasting, grinding, sampai meracik dan mencampur dengan bahan lain.

Mengapa roasting? Karena bisa menghasilkan citarasa yang berbeda dan itu hanya bisa dikatakan saat kita mencoba sendiri. Roasting dapat dilakukan sederhana dengan pan di dapur selama kurang lebih 30 menit. Tapi arrange waktu tidak saklek, karena bagi penyuka kopi light tidak sampai 5 menit disangrai atau bisa lebih 30 menit untuk penyuka kopi pekat.

Membuat kopi dengan kondisi fresh from roasting akan menghasilkan rasa yang lebih istimewa. Semakin hitam maka akan semakin rendah kadar asamnya, pas bagi penyuka kopi yang punya gangguan lambung. Oya, jangan lupakan juga, jika terlalu lama nyeduh bisa berpengaruh pada kadar asam, secukupnya saja.

Dalam setiap seduhan kopi terdapat sekitar 1000 senyawa kimia, dan kalau antar senyawa kimia itu tidak balance maka akan beda rasanya.

Biji kopi sendiri terdapat dua jenis dari tanah tempat biji ditanam; ada Arabica dan Robusta. Perbedaan fisik kedua biji tersebut adalah jika arabica bagian tengah tidak rata, sebaliknya robusta rata. Arabica ditanam di dataran tinggi, sementara robusta dataran rendah. Sampai saat biji matang jika arabica sampai tua tidak jatuh, kalau robusta jatuh begitu matang.

Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya –Filosofi Kopi-

Maka di saat ‘gelas’ kita sudah penuh dengan rutinitas harian, kegiatan yang berulang dan lain sebagainya, sisakan sedikit celah, bukan untuk apa-apa tetapi sekadar ngopi untuk menggenapi celah itu. Kembalilah ke ‘rumah’, bikin kopimu sendiri, nikmati bersama keluarga, pasangan atau teman, seraya membayangkan tentang banyak hal yang menyenangkan sekaligus memberi semangat. Jadi, kapan kita ngopi bareng?

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Konsep kepemimpinan ‘Servant leadership’ yang diperkenalkan oleh Greenleaf pada tahun 1970 dan ‘Authentic leadership’ menarik perhatian saya ketika...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Parasite’ adalah film Bong joon-ho yang tidak bertele-tele. Efisien. Pengenalan karakter berlangsung cepat. Plotnya gegas. Premis cerita segera...