ARUS perang berbalik mengarah ke kota-kota Ionia pada 494 SM, ketika armada Persia yang terdiri dari enam ratus kapal bentrok dengan kapal-kapak Ionia di laut terbuka, persis di seberang pantai dekat Miletus. Persia sudah mempersiapkan diri untuk pertempuran besar. Mereka mengenal armada Ionia dengan baik; 300 dari 353 kapal armada Yunani pada awal perang adalah hasil penculikan dari angkatan laut Darius.

Banyak kapal yang diawaki oleh orang Ionia ditenggelamkan. Ketika perang berbalik melawan Yunani, banyak lagi yang pergi meninggalkannya begitu saja. Laksamana armada Ionia berlayar ke Sisilia dan menjadi bajak laut (meskipun dia hanya membajak kapal-kapal Kartagena dan Etruski, dan “tidak mengganggu kapal-kapal Yunani”). Aristagoras sendiri langsung meninggalkan Asia Kecil dan pergi ke Thracia, di mana dia dibunuh ketika mencoba merebut sebuah kota Thracia sendirian.

Pihak Persia yang menang berlabuh di pantai Miletus, kota dari si pembuat onar Aristagoras. Mereka menutup kota itu dari segala bantuan luar, menggali di bawah tembok-temboknya dan meruntuhkannya. Peristiwa lebih buruk masih akan terjadi. Darius belum melupakan partisipasi orang Athena dan orang Eretria dalam pemberontakan itu.

Pada 492, dia menempatkan jenderal dan menantunya, Mardonius, untuk memimpin dua cabang angkatan perang untuk menginvasi: sebuah angkatan darat yang akan bergerak melalui Asia Kecil, menyeberangi Bosphorus di atas jembatan ponton, dan turun ke Thracia dan Makedonia, dan sebuah angkatan laut yang akan berlayar melalui laut Aegea dan bertemu dengan angkatan darat untuk menyerang kota-kota Yunani di daerah Utara.

Akan tetapi, usaha ini berakhir dengan kegagalan. Dibutuhkan waktu dua tahun untuk membangun kembali angkatan laut. Namun, pada 490, armada baru sudah siap berangkat, dan Mardonius (yang sudah dipanggil kembali ke Susa untuk dicela) kembali bertugas.

Herodotus mengatakan bahwa angkatan invasi kedua terdiri dari enam ratus kapal; bahkan jika ini hanya cerita yang berlebihan, invasi melalui laut ini begitu besar sehingga pihak Persia tidak usah repot-repot lewat darat untuk memperkuatnya. Para tentara Persia mulai menyapu daratan dengan menghancurkan Naxos (Aristagoras pernah menjadi jenderal yang tidak kompeten di situ; Angkatan perang Persia melindas Naxos hanya dalam hitungan hari) dan kemudian merebut Eretria. Tujuan kedua adalah Athena: ratu dari Attica, kunci dominasi Yunani.

Pertahanan Eretria lenyap. Pihak Athena yang terpaksa berhadapan dengan malapetaka Persia, mengirimkan seorang utusan ke Selatan ke Sparta memohon bantuan. Urusan ini adalah Pheidippides, seorang “pelari yang terlatih” yang profesional dan katanya sudah menempuh 224 km antara Sparta dan Athena hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, sebuah prestasi kekuatan yang mengagumkan. (Barangkali Herodotus mengamati waktu yang dicapai dari perjalanan itu dengan teleskop, tetapi tidak ada alasan untuk meragukan jarak yang ditempuh). Namun pihak Sparta menolak untuk menjawab permohonan itu. Mereka sedang merayakan suatu liburan religius, dan tidak dapat pergi sampai bulan purnama.

Bangsa Sparta adalah orang yang religius (mungkin malah percaya takhayul), tetapi sangat mungkin mereka mencoba untuk menghindari perang langsung dengan Persia. Pihak Persia berdatangan menghukum Athena; kemarahan mereka diarahkan pada kota-kota Yunani yang bergabung dengan pemberontakan Ionia, dan pihak Sparta menolak. Sementara, orang Athena tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi pihak Persia tanpa bantuan.

Singkat cerita, Yunani mengalami banyak kemenangan di Platea dan Mycale yang mengakhiri Peperangan Peloponnesia. Kekalahan tidak membuat kehancuran yang besar bagi kejiwaan orang-orang Persia (mereka dibesarkan bertipologi darat, dan bukanlah perenang yang handal), meskipun mereka lebih suka membiarkan angkatan lautnya tenggelam daripada membangunnya kembali.

Tetapi kota-kota Yunani dan Sparta sampai melewati pantai Ionia, sudah bergabung bersama dalam persekutuan sukarela untuk mengalahkan musuh bersama. Itu merupakan tindakan gabungan pertama yang dilakukan oleh seluruh dunia Yunani, sebuah jagat yang dipersatukan tidak oleh perbatasan-perbatasan politik, tetapi oleh kebiasaan dan bahasa yang sama.

*****

THE HISTORIES terdiri dari dua bagian. Bagian kedua menguraikan peperangan antara Peloponnesia, dari Pemberontakan Ionian dari 499 SM, sampai kekalahan invasi Xerxes di 479 SM. Hal ihwal ini diawali dengan penjelasan tentang Perang Persia-Yunani itu dan pertumbuhan Kekaisaran Persia, serta negara-negara seperti Yunani, Athena dan Sparta. Dalam kata pengantar, Herodotus menulis tentang proyeknya ini:

Herodotus dari Halicarnassus, penelitiannya di sini ditetapkan untuk melestarikan ingatan masa lalu dengan menempatkan pada catatan prestasi yang mencengangkan bagi kita sendiri dan orang lain; dan lebih khusus, untuk menunjukkan bagaimana mereka masuk ke dalam arus konflik.

Lewat kalimat ini, Herodotus memulai secara ‘demonstratif’ penelitiannya untuk menyusun fakta-fakta penting dan pelbagai penyebab peristiwa (yang tak tertandingi) di dunia kuno. Herodotus memulai pendahuluannya dengan gaya prosais, namun dia sebenarnya telah menulis sejarah dari kelompok-kelompok tertentu atau kota atau laporan perjalanan dari seluruh dunia, yang dikenalnya secara mendetail. Dia telah mengumpulkan banyak peristiwa bervariasi dari Asia dan Eropa dan mendeskripsikan bangsa dan tanah mereka dalam sebuah karya utuh.

Dalam prolog, yang menyatakan tujuan dari proyek ini, mengarah langsung ke catatan mengenai sejarah Lydia dan penaklukan oleh bangsa Persia. Dalam hal ihwal ini, Raja Croesus dari Lydia ditakdirkan untuk membayar pembunuhan Raja Candaules oleh leluhurnya, Gyges. Ini diikuti dengan kisah dari kehidupan penguasa Persia, Cyrus (559-529): Kekalahannya dari Media, penaklukan kedua Ionia pasca Pemberontakan Pactyas, penaklukan Babel dan perang dengan Massagetae, yang merenggut nyawa Cyrus.

Buku ke dua The Histories menguraikan tentang peraturan yang dibuat oleh putra Cyrus, Cambyses (529-521), dan rencananya untuk menyerang Mesir. Buku ke tiga The Histories melukiskan penaklukan Cambyses atas Mesir, kegagalan invasinya ke selatan (Ethiopia) dan barat. Herodotus mengklaim, jelas terlihat dalam ejekannya tentang praktik keagamaan Persia,

jika ada orang yang mengusulkan bagi setiap orang, untuk memilih kebiasaan yang terbaik dari semuanya, ia akan melihat mereka acuh tak acuh dan memilih sendiri.

Kematian Cambyses yang menjadi episode penutup dari perebutan suksesi di Persia, berakhir dengan menobatan Darius sebagai kaisar (521-486). Sisa laporan dalam buku ke tiga ini, diambil sebagian besar dari narasi bernas tentang bagaimana Darius menggerakkan roda pemerintahannya di Kekaisaran Persia dan bagaimana dia ditekan oleh berbagai pemberontakan internal.

Buku ini juga berisi deskripsi dari tiga kejadian dalam sejarah Samians, karena orang-orang inilah, Herodotus mengklaim, yang bertanggung jawab atas tiga bangunan dan prestasi terbesar di dunia Yunani: terowongan mil panjang melalui gunung; pelabuhan yang diciptakan oleh pemecah ombak; dan kuil terbesar di jagat Yunani.

Buku ke empat The Histories menawarkan gambaran dari kebiasaan dan sejarah Scythians dari Rusia selatan dan cerita mengenai upaya Darius untuk menaklukkan mereka. Buku ke empat ini juga merinci serangan Persia dari Mesir ke Libya, dan sejarah dan geografi negara-negara itu. Herodotus menyimpulkan latar belakang sejarah konflik antara Yunani dan Persia.

Dalam peristiwa Pemberontakan Ionia, perasaan sakit hati antara Persia dan Yunani meletus menjadi kekerasan. Tindakan penindasan dari Pemberontakan Ionia didedahkan pada paruh pertama buku ke enam, seperti sifat hubungan antara Athena dan Sparta pada masa pemerintahan Cleomenes dan Leotychides. Kampanye dari Marathon (490), di mana Persia dikalahkan oleh orang Athena, memakan sisa buku ke enam ini.

Darius mangkat tidak lama setelah pertempuran ini dan penggantinya, Xerxes (485-465), berjanji untuk membalikkan hasilnya. Tiga buku terakhir meneropong ke Persia dan persiapan Yunani, perkelahian di tanah Thermopylae, Plataea dan Mycale dan pertempuran laut di Artemisium dan Salamis. Persia dapat dikalahkan dan dipukul mundur.

SEBARKAN
SebelumnyaPengembaraan Herodotus, Sang Globalis Pertama (1)
BerikutnyaPengembaraan Herodotus, Sang Globalis Pertama (3)
Sejarawan dan Pedagog. Menamatkan studi Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta (2009) dan Pascasarjana Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia (2014). Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Ekspresi, periode 2007-2008. Kolomnya “Corat-coret”, secara rutin menyapa pembaca Surat Kabar Harian (SKH) Media Kalimantan, setiap Kamis. Kini, dia bekerja dan menetap di Banjarmasin

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Bila Anda menyusuri Kota Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Pecinan. Yah, Semarang merupakan salah satu kota yang terus berupaya...

Konsep kepemimpinan ‘Servant leadership’ yang diperkenalkan oleh Greenleaf pada tahun 1970 dan ‘Authentic leadership’ menarik perhatian saya ketika...