Tak semudah membalik telapak tangan untuk bisa memahami makna sebuah puisi. Hati serta pikiran dipacu, berikhtiar menyelami kata demi kata, kalimat per kalimat, baris dan bait. Agar penafsiran mendekati makna tersirat.

Tak ada arti pasti dalam sajak. Justru di sini letak keasyikannya. Menginterpretasi sajak seperti bertamasya memasuki hutan tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati. Bila cakrawala-harapan si penafsir bisa meluas, setidaknya ia akan mendekati makna utuh keinginan si penulis sajak.

Karya sastra tak ubahnya sebuah artefak purba. Ia mempunyai arti bila diberi makna oleh arkeolog. Istilah pemberian makna pada puisi sebagai anak rohani si penyair disebut konkretisasi. Teori konkretisasi pertama kali disampaikan filsuf kelahiran Polandia, Roman Witold Ingarden.

Menurut Ingarden pembacaan puisi adalah penerapan lapis bunyi (sound stratum) sebagai norma pertama. Lapis bunyi menjadi dasar timbulnya lapis kedua, yaitu lapis arti. Lapis arti (units of meaning) berupa rangkaian fonem, suku kata, frase, dan kalimat sebagai satuan-satuan arti.

“Rangkaian satuan-satuan arti ini menimbulkan lapis ketiga, berupa latar, pelaku, objek-objek yang dikemukakan dan dunia pengarang berupa cerita atau lukisan,” tulis Rachmad Djoko Pradopo dalam buku Pengkajian Puisi.

Dalam sebuah pertunjukan puisi, acapkali dimasukan unsur musik (lapis bunyi) agar tercapai makna (lapis arti) dan memberi efek puitis. Era kekinian menyebutnya musikalisasi puisi. Proses puitisasi mengalir mencari muara kebatinan, menghipnotis pendengarnya!

Semua orang boleh menulis puisi. Seperti bidal yang platonis, siapa tersentuh cinta maka mendadak ia bisa menjadi penyair, bisa pula menjadi fotografer.

(Foto 2)
(Foto 2)

Nah, sekarang perihal fotografi yang menurut para ahli terbagi dalam beberapa style. Ada foto human interest, foto panggung, glamour, candid, bentang alam, potret dan berbagai aliran lain. Sebuah foto tetap bisa dinikmati meski tanpa keterangan (caption). Data teknis tentang foto lazimnya diinformasikan bila mengikuti pameran. Sementara bagi fotografer, foto yang bagus adalah foto yang bercerita, tanpa perlu dituturkan oleh fotografer, karena foto telah mewakili peristiwa itu sendiri.

Bagaimana bila sajak dan fotografi dikombinasikan? Menurut penyair Simon HT, sah-sah saja menyematkan teks puisi di atas selembar foto. Hanya saja perlu disiasati letak teks puisi dalam gambar, agar estetika fot tak terganggu.

“Kalau dilacak penggabungan sajak dan foto bisa jadi mirip tradisi lukis Cina di masa lampau yang hingga sekarang masih diterapkan,” tutur Simon yang baru-baru ini menerbitkan antologi puisi Sebab Kau Tak Berada di Sana.

Karakteristik lukisan Cina kuno, terang Simon, ditandai dengan menerakan kaligrafi Cina (Hanzi) atau aksara Han, stempel artis, dan satu atau dua sajak. Kesatuan unsur estetis ini melebur dalam lukisan. Ciri khas lukisan Cina tersebut hampir tidak dijumpai pada lukisan Barat. Laman www.china-culture.com menjelaskan bahwa pesona artistik lukisan Cina memiliki makna tak terbatas. Alam berpikir Cina tradisional menganggap susunan semesta terdiri dari napas (qi) yang berunsur padat, selalu bergerak untuk mendorong kehidupan. Qi tercipta karena hubungan langsung antara alam semesta, lukisan, dan manusia.

Sementara itu, apakah fotografi? Seperti disebut Orang Yunani, photos berarti cahaya dan graphos berarti menulis atau melukis. Fotografi berarti menulis atau melukis dengan cahaya. Keinginan manusia bisa merekam gambar sepersis mungkin adalah cikal bakal kehadiran teknologi kamera. Ilmuwan Arab Ibnu al-Haitam atau Al Hazen telah menulis buku Al-Manazir atau Buku Optik pada abad 10 SM. Sebagai bukti dari teori dalam buku itu, fisikawan muslim legendaris ini membuat Al-Bayt Al-Muzlim, atau kamar gelap (camera obscura). Gemma Frisius mengambil peluang ini, ia mematenkan istilah camera obscura pada 1554. Walhasil, kemudian lahir teknologi fotografi analog hingga fotografi digital di era paling kiwari.

Sejauh ini belum ada definisi teori dan pembakuan istilah puisifotografi ataupun fotopuisi. “Sebaiknya tak perlu diteorikan, biar mengalir tapi punya tujuan yang jelas. Kalau dibakukan kesannya mengekang kebebasan berkreasi,” tandas Simon.

Istilah photopoetry pernah digunakan fotografer asal Mexico, Manuel Alvarez Bravo (4 Februari 1902-19 Oktober 2002) dalam judul bukunya yang terbit 29 Oktober 2008 lalu. Buku setebal 336 halaman karya fotografer yang dianggap mewakili jiwa Amerika Latin itu menampilkan ratusan foto-foto dokumentasi. Membentang dari kategori landscape, portrait, human interest, still life hingga nude. Namun ia tidak menjelaskan definisi photopoetry. Mungkin Manuel ingin mengungkapkan, “Foto-fotoku seperti puisi…”

Fotopuisi di atas adalah contoh nyata (foto 1). Sajak Karnaval Orang-orang Kalahan karya Simon HT cukup relevan bila disandingkan dengan foto berjudul Mereka di Jalan. Puisi ini menceritakan bagaimana situasi setiap orang yang berkubang dalam lingkaran mesin kapitalisme yang tanpa kepastian. Namun kenyataannya banyak orang mempercayai mesin ini. Mereka yang terpinggirkan oleh sistem berusaha menuntut haknya dengan berdemonstrasi di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat. Sementara seorang pemulung terlihat sedang mengikuti di belakang barisan para demonstran.

Contoh berikutnya adalah foto Korban Pengusuran dengan sematan Sajak Orang Kepanasan karya WS Rendra (foto 2). Sajak ini berkisah tentang nasib orang-orang miskin yang bertahan hidup dan berusaha melawan keadaan. Potret seorang perempuan pemulung korban penggusuran di bawah jembatan layang Jakarta Inner Ring Road cukup mewakili suasana, seperti yang tergambar dalam sajak.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Publik dibuat terkejut ketika majalah pers mahasiswa Lentera Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ditarik peredaraannya oleh rektorat dan polisi pada...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...