Hari ini, 25 Desember 2015 umat Kristiani merayakan Natal. Tentunya hari yang sangat spesial dan bermakna bagi umat Nasrani.

Sebagian kecil umat Islam masih mempersoalkan boleh dan tidaknya ucapan Natal. Wajar saja karena cara memahami dan memaknai sebuah ucapan itu dengan perspektif dan metode yang tidak sama juga.

Sama halnya ketika mengucapkan “durian ini nikmat dan harum”. Bagi penggemar durian kalimat itu benar. Namun bagi bukan penggemar durian, ungkapan itu dianggap tidak tepat karena ia tidak bisa menikmati durian dan tidak merasa harum. Padahal durian jelas-jelas nikmat dan harum (bagi penggemarnya).

Untuk menjawab perbedaan boleh tidaknya ucapan Natal, Gus Dur saat masih hidup selalu memberikan petuah yang sangat tajam dan bermakna. Apalagi ia dikenal sebagai Bapak Pluralisme.

Ketika melihat tulisan Gus Dur pada 20 Desember 2003 di Koran Suara Pembaruan dengan judul “Harlah, Natal dan Maulid” sungguh indah. Menurut Gus Dur, Natal secara bahasa sama dengab hari kelahiran yang hanya dipakai Nabi Isa. Natal mempunyai arti khusus, beda dengan istilah medis pre-natal (perawatan sebelum kelahiran).

Oleh sebab itu, Natal adalah kata spesial bagi Nabi Isa yang dilahirkan di muka bumi oleh perawan suci Mariam jelas mempunyai makna tersendiri.

Lain halnya dengan kata Maulid. Sama-sama upacara kelahiran, menurut Gus Dur ini dipakai oleh Nabi Muhammad. Dimana perintah pertama kali untuk mengadakan Maulid Nabi dimulai saat Sultan Shalahudin Al Ayubi dari Dinasti Mamalik berkebangsaan Kurdi. Saat itu ia menyemangati umat Islam bermaulid agar menang perang Salib (crusade).

Enam abad lahirnya Nabi Muhammad telah berlalu, namun Shalahudin Al Ayyubi mendendangkan kecintaan pada Sang Idola Nabi Muhammad. Walaupun ada sebagian Dinasti Saud melarang Maulid di Saudi Arabia.

Dari makna literal itu dapat ditarik kesimpulan oleh Gus Dur bahwa dua kata (Natal dan Maulid) memiliki makna khusus dan tidak bisa disamakan. Dalam istilah kaidah fiqh, dua kata ini adalah yutlaqu al-‘am wa yuradu bihi al-khas (kata yang lebih sempit maknanya, dari apa yang diucapkan). Sebab asal muasal lahirnya kata itu sebagai identitas perkembangan manusia yang kemudian menjadi istilah resmi dalam agama Nasrani dan Islam.

Gus Dur menegaskan bahwa istilah Natal juga terdapat dalam Al Qur’an dengan istilah “yauma wulida” (hari kelahiran, yang secara historis oleh mufassir disebut kelahiran Nabi Isa). Maka Gus Dur mengutip ayat Al Qur’an Surat Maryam ayat 15 dan 33.

Ada wilayah yang berbeda yang ditegaskan oleh Gus Dur bahwa yang dibahas disini bukan soal keberadaan Nabi Isa sebagai anak Tuhan menurut iman Nasrani. Tetapi bagaimana Al Qur’an memberikan ruang makna kelahiran Nabi Isa yang perlu dihormati. Jadi sesungguhnya tidak ada lagi yang perlu dipersoalkan.

Bagi Gus Dur mengucapkan Natal sebagai bagian dari penghormatan tidak ada masalah. Ada petuah yang diambil Gus Dur dari Al Mukarrom KH Achmad Sidiq yang mengatakan: “Orang Islam terikat pada persaudaraan sesama muslim, persaudaraan sesama bangsa dan persaudaraan manusia”.

Ketiga model persaudaraan itu bagi Gus Dur yang menjadi dasar hiasan kehidupan bersama di negara Indonesia. Gus Dur sangat meyakini kebenaran agamanya Islam, akan tetapi ia tidak menghalangi merasa bersaudara dengan pengikut agama lain.

Gus Dur menegaskan kembali bahwa merayakan Natal berarti meneguhkan kembali ikatan semua pihak sebagai bangsa Indonesia. Dan Gus Dur sangat bersedih jika masyarakat Indonesia saling bertentangan dengan menggunakan senjata. Mereka salah pengertian, bahwa negara Indonesia butuh kedamaian. Jangan sampai dirusak oleh orang jahat, sedangkan sudah berabad-abad Indonesia hidup tenang dengan kerukunan.

Selamat Natal bagi Umat Kristiani.

Selamat Haul keenam Gus Dur. Nasehatmu tetap hidup walau dirimu sudah bersama Nabi Isa dan Nabi Muhammad di Surga.*)

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Ada anekdot yang pernah penulis baca, tersebutlah seorang remaja di beri tantangan untuk menghasilkan uang dari sebuah lahan sawah, dengan...

Kesadaran seperti apa yang kita harapkan dari ruang-ruang penjara kumuh penuh sesak, dari para sipir yang semena-mena menyiksa namun sekaligus...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...