Kini siapa yang tak kenal Anies Baswedan, sosok yang belakangan dikenal sebagai tokoh pembaharu dalam pendidikan. Sejumlah idenya memang cemerlang.

Kemarin saya beserta teman-teman Kelas Inspirasi Magetan bertemu Anies. Satu kalimat yang benar-benar saya ingat kira-kira begini: Dulu orang tua siswa sekolah di abad 20, sekarang anaknya sekolah di abad 21, ruangannya dulu bersekat karena kekurangan kelas. Sekarang pun sama!

Seolah dalam rentang abad demi abad itu, tak banyak perubahan berarti yang kita saksikan, sekecil-kecilnya dalam soal infrastruktur pendidikan. Pernah ada masa-masa kemajuan, memang, namun secara umum jalan di tempat.

Anies banyak bercerita kepada kami. Misalnya saat dia sekolah dulu, masa sekolah generasi yang kini sudah menjadi orang tua bagi generasi siswa-siswi baru — merasakan betul bagaimana memprihatinkannya kondisi ruang kelas, lebih-lebih di daerah pedalaman. Pokoknya serba kekurangan. Saat ini juga kurang lebih masih demikian.

Di tengah kondisi serba kekurangan itu, Anies mencoba sejumlah alternatif. Sebelumnya kita mengetahui dia menggagas gerakan Indonesia Mengajar, yang tujuan dasarnya ialah mengintervensi pandangan masyarakat serta institusi-institusi di sekitar lokasi penugasan pengajar terpilih, terkait pendidikan maupun tidak, lewat tindakan-tindakan nyata. Sekecil apapun tindakan itu. Apa yang lebih besar dari semua itu ialah keyakinan yang dibawa soal betapa berharganya pendidikan bagi generasi kita. Sebab itu semua haruslah andil.


Sedangkan di dalam kelas, Anies kini mencoba cara baru. Siswa dikumpulkan di ruang yang besar. Ada anak kelas I, II dan III dengan guru kelas yang sama. Hasil dari metode baru ini memang belum kelihatan. Mungkin di kota besar sudah ada yang berhasil. Bagaimanapun ini sekedar metode yang tak sampai menyentuh akar masalah pendidikan (dasar). Satu alternatif juga seringkali tak bisa dipukul rata, digunakan di semua tempat.

 

Misalnya dulu, saat saya pernah bertugas di daerah, di pedalaman HSS (Hulu Sungai Selatan), Kalimantan Selatan. Persisnya di Loksodo dan Daha Barat. Di sana juga masih parah. Tak hanya soal infrastruktur. Guru terlambat datang, itu biasa. Rata-rata kualitas guru belum begitu baik. Ruangan disekat juga tak kalah biasanya.

Kita tahu daya jangkau gerakan Indonesia Mengajar amatlah terbatas. Demikian pula dengan Penyala dan Kelas Inspirasi, dua gerakan literasi turunan Indonesia mengajar. Di titik tertentu ketiga gerakan itu dan gerakan-gerakan semirip lebih banyak ialah gerakan moral.

Anies Baswedan juga hanya satu. Ada 100 Anies Baswedan pun tentu saja masih kurang bila tanpa dukungan luas.

Kita berharap tiap gagasan dan kerja-kerja Anies ialah yang terbaik bagi masa depan pendidikan kita: Pendidikan yang lebih merata, kualitas guru yang lebih baik, infrastruktur, dan lain-lain… Daftar yang jelas panjang.

“Mengajar itu penting, mendidik itu baik, menginsprasi itu hebat, menggerakkan itu dahsyat.”

 

Sekali lagi semoga memang nanti ada perubahan besar, yang tak ada salahnya kita mulai dari langkah dan harapan-harapan kecil.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Publik dibuat terkejut ketika majalah pers mahasiswa Lentera Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ditarik peredaraannya oleh rektorat dan polisi pada...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...