Hari Pers Nasional atau HUT PWI?

622
Kongres PWI 1946 _Dihadiri antara lain oleh Mr, Soemanang, Soedarjo Cokrosisworo, Sjamsoedin, ST. Makmur, Soemantoro, BM.Diah (Dok. Muspen Kominfo)

Budaya latah di negeri ini kian menjadi. Setelah latah dalam pengucapan Hari Ibu pada 22 Desember silam, sekarang, 9 Februari juga latah diucapkan sebagai Hari Pers Nasional ( HPN).

Hari ini di jagad sosial media, di mana saya kebetulan berteman dengan banyak wartawan, bertebaran ucapan selamat Hari Pers Nasional. Pun dengan update status di kontak BBM. Bahkan, teman-teman pers mahasiswa juga ikut latah mengucapkannya.

Padahal jika ditelisik lebih dalam, 9 Februari yang disebut sebagai Hari Pers Nasional adalah tanggal lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Dan PWI hanyalah salah satu di antara organisasi wartawan yang ada di Indonesia.

PWI lahir pada 9 Februari 1946 di Surakarta. Entah dengan dasar apa, tiba-tiba pada Kongres PWI tahun 1978 di Padang muncul dorongan untuk menjadikan tanggal berdirinya PWI itu sebagai Hari Pers Nasional. Kala itu PWI di bawah kepemimpinan Harmoko.

Atas dasar usulan itu, selanjutnya Presiden RI kedua, Soeharto mengeluarkan surat Keputusan Presiden nomor 5 tahun 1985 tentang Hari Pers Nasional. Di era pemerintahan Presiden Soeharto yang represif dan antikebebasan pers itu, PWI memang diberi posisi istimewa. PWI dijadikan satu-satunya organisasi wartawan. Dan untuk meneguhkan keistimewaan itu, tanggal lahir PWI dijadikan Hari Pers Indonesia.

Semestinya penetapan Hari Pers Nasional mengacu pada lahirnya pers di Nusantara. Pers di negeri ini sebenarnya telah lahir sejak era melawan kolonial Belanda, jauh sebelum PWI lahir. Tengok Koran Bataviasche Nouvelle di Jakarta yang terbit sekitar tahun 1744. Disusul koran berbahasa melayu Pewarta Wolanda pada 1900. Dua tahun kemudian Bintang Hindia juga diterbitkan oleh Abdul Rivai. Menyusul koran Medan Prijaji yang diterbitkan Tirto Adhi Surjo pada 1 Januari 1907.

Kalau alasan penetapan Hari Pers Nasional berdasarkan munculnya organisasi wartawan pertama, penunjukan tanggal lahir PWI sebagai rujukan juga kurang tepat. Sebab, PWI juga bukan organisasi wartawan yang pertama kali ada. Pada 1914, Mas Marco Kartodikromo telah lebih dahulu mendirikan Inlandsche Journalisten Bond (IJB). Selanjutnya juga ada Sarekat Journalist Asia (1925) dan Persatoean Djoernalis Indonesia (1940).

Alhasil, menyimpulkan bahwa Hari Pers Nasional yang menjadi tanda sejarah pers Indonesia dimulai dari hari lahirnya PWI jelas sebuah kesimpulan yang sembrono dan tidak memiliki dasar kuat. Karena itu, wajar bila penetapan tanggal lahir PWI sebagai Hari Pers Nasional menuai kritik dan polemik.

Mari mencegah latah dengan belajar dan meluruskan sejarah. Dan terakhir, saya juga mengucapkan selamat Hari Pers Nasional… eh, selamat Hari Lahir PWI ding.

 

Tentang penulis:

MitaPramita Kusumaningrum.
Alumni LPM Kinday, Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Konsep kepemimpinan ‘Servant leadership’ yang diperkenalkan oleh Greenleaf pada tahun 1970 dan ‘Authentic leadership’ menarik perhatian saya ketika...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Parasite’ adalah film Bong joon-ho yang tidak bertele-tele. Efisien. Pengenalan karakter berlangsung cepat. Plotnya gegas. Premis cerita segera...