LGBT, Pedofil, dan Eksploitasi Seksual Terhadap Anak

582
Marc Chagall, The Falling Angel

Orientasi Seksual

Perbincangan tentang orientasi seksual akhir-akhir ini mengemuka setelah muncul kasus adanya sejumlah akun twitter yang mengklaim sebagai gay anak dan remaja. Kegagapan menghadapi fenomena itu memunculkan perdebatan tentang orientasi seksual seseorang.

Menurut Asosiasi Psikolog Amerika, orientasi seksual merujuk pada pola emosi, romantis, dan ketertarikan seksual pada laki-laki, perempuan, atau dua jenis kelamin itu. Orientasi seksual biasanya menyangkut karakter individual seperti jenis kelamin, identitas jender, dan perilaku terhadap orang lain.

Riset beberapa dekade menunjukkan, orientasi seksual memiliki banyak varian, biasanya terbagi dalam tiga kategori yakni heteroseksual (memiliki ketertarikan emosional dan seksual kepada lawan jenis), homoseksual (punya ketertarikan emosional dan seksual kepada sesama jenis), dan biseksual (ketertarikan secara emosional dan seksual pada laki-laki dan perempuan).

Sementara orientasi seksual orang dewasa pada anak-anak di bawah umur atau pra pubertas disebut pedofilia. Orientasi seksual itu dianggap gangguan perilaku, bahkan termasuk kejahatan seksual. Perilaku itu dapat dilakukan pria terhadap anak laki-laki dan anak perempuan, dan bisa juga dilakukan perempuan dewasa.

Secara biologi, jenis kelamin, jender, dan orientasi seksual saling memengaruhi tapi terpisah, karena struktur otak pembentuknya terpisah. Struktur otak tak tunggal. Rangkaian sirkuit otak yang melibatkan banyak bagian di otak membentuk jenis kelamin atau orientasi seksual. Misalnya, pria feminin berorientasi seksual ke perempuan.

Beragam orientasi seksual telah digambarkan dalam beragam kultur dan bangsa di dunia. Di Indonesia, ekspresi keragaman orientasi seksual dituangkan dalam kesenian seperti ludruk.

Menyoal LGBT

Salah satu orientasi seksual yang menuai pro dan kontra, bahkan gelombang penolakan adalah orientasi seksual pada sesama sejenis maupun pada lelaki dan perempuan atau biseksual. Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) merupakan realitas sosial di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Ini menyangkut keragaman aspek orientasi seksual, identitas, dan ekspresi jendernya.

Asosiasi Psikolog Amerika sejak tahun 1975 telah menyatakan, LGBT bukan merupakan penyakit mental atau gangguan kejiwaan, melainkan merupakan varian orientasi seksual. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menerima LGBT sebagai varian orientasi seksual.

Namun, Seksi Religi, Spiritualitas, dan Psikiatri Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa menyatakan, LGBT masuk dalam kategori ODMK (Orang Dengan Masalah Kesehatan Jiwa. itu merujuk terminologi ODMK pada Undang Undang Nomor 18 tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Diskriminasi dan stigma pada orang dengan LGBT berdampak buruk terhadap kesehatan mental mereka. Kementerian Kesehatan Amerika Serikat menyebutkan, kelompok LGBT mengalami tingkat depresi dan kekerasan lebih tinggi dibanding populasi umum.

Sementara perempuan lesbian dan biseksual berisiko lebih tinggi mengalami obesitas dan kanker payudara. Adapun lelaki suka lelaki (LSL atau gay) termasuk kelompok rentan terinfeksi HIV dan infeksi menular seksual. Di Indonesia, angka kasus penularan HIV pada LSL terus meningkat.

Laporan PBB menyebutkan, jutaan individu dengan LGBT dan keluarga mereka mengalami kekerasan atau pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Ada banyak kasus kekerasan fisik dan psikologis terhadap individu LGBT di semua kawasan, termasuk pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, kekerasan seksual, dan sulit mengakses layanan kesehatan.

Padahal PBB telah menyerukan agar semua orang mempunyai hak sama untuk hidup bebas dari kekerasan, stigma, dan diskriminasi. Hukum internasional HAM mewajibkan negara menjamin semua warga negara, tanpa kecuali, mendapat hak-haknya.

Eksploitasi Seksual pada Anak

Pro kontra soal keberadaan LGBT mencerminkan selama ini masalah seksualitas masih dianggap tabu untuk dibahas di kalangan masyarakat. Di tengah menghangatnya isu LGBT, justru masalah kerentanan anak terhadap eksploitasi seksual terabaikan.

Beberapa waktu lalu, muncul akun twitter yang menyebut gaykids, gay SMP dan gay SMA. Akun-akun itu mengajak untuk mempedagangkan anak-anak itu. Terlepas dari benar atau tidaknya anak-anak di bawah umur itu merupakan gay, itu merupakan bentuk eksploitasi seksual pada anak.

Minimnya informasi mengenai seksualitas baik dalam keluarga maupun sekolah membuat anak-anak mencari informasi dari sumber lain. Derasnya arus informasi di media sosial membuat anak-anak rentan terpapar materi pornografi, sehingga bisa menjerumuskan mereka pada perilaku seks bebas.

Dalam hal ini, pemerintah seharusnya berperan dalam melindungi anak-anak dari kekerasan seksual di sekitar mereka dengan mewujudkan lingkungan yang ramah anak. Hal itu disertai sosialisasi pendidikan seksualitas demi memenuhi hak tumbuh kembang anak.

Pendidikan seksualitas mengajarkan anak mengenali tubuh mereka. Dengan mengenali tubuh dan seksualitas, anak bisa mengenali tanda-tanda pelecehan seksual seperti meraba bagian tubuhnya, sehingga bisa menghindarinya.

Pendidikan kesehatan reproduksi itu juga bisa dilakukan secara informal dalam keluarga. Ini membutuhkan keterbukaan antara orangtua dan anak dalam mendiskusikan berbagai hal seputar seksualitas.

Pemerintah juga mesti menjamin pemenuhan hak asasi bagi semua warga negara, termasuk LGBT, dan penegakan hukum bagi pelaku pelanggaran hak untuk hidup sebagai manusia. Tujuannya, agar semua warga negara tak mengalami diskriminasi dan memperoleh layanan kesehatan berkualitas.LGBT, Pedofil, dan Eksploitasi Seksual Terhadap Anak.

Tentang Penulis

Evy Rachmawati
Evy Rachmawati

Evy Rachmawati adalah alumni pers mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang. Saat ini menjadi jurnalis di Koran Kompas

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Publik dibuat terkejut ketika majalah pers mahasiswa Lentera Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ditarik peredaraannya oleh rektorat dan polisi pada...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...