Benarkah JPNN.Com Bersahabat Dengan Jonru?

398
ilustrasi wajah. dok. gambardankata.com

JPNN adalah pemain besar dalam industri media. Berderet jawara jurnalis menjaga gawang media ini. Kita tidak harus mengajari redaktur mereka bagaimana etika menulis, karena saya yakin mereka hafal semua kode etik jurnalistik dari A-Z. Tapi entah tiba-tiba saya merasa tertampar (ini perasaan yang sama seperti ketika saya tahu Tere liye adalah laki-laki bernama Darwis yang pernah bersekolah di Lampung). Mendadak saja saya harus kehilangan kepercayaan pada kadar etika redaktur JPNN.com ketika dengan terbuka mereka menurunkan berita tentang gadis belia yang mengunggah foto selfie ” setengah telanjang” di akun FB nya :

http://www.jpnn.com/read/2016/03/03/361033/Ya-Ampun-Bocah-Ingusan-Ini-Sudah-Berani-Pajang-Foto-Begituan- ,

Gadis itu begitu belia, wajahnya begitu polos dan mereka menayangkan wajah polos setengah telanjang itu dengan tanpa SENSOR. Bahkan dengan sadar redaksi JPNN.com menulis, menguraikan betapa belianya bocah itu :

” Dari profil fotonya, Ina terlihat baru kelas 1 SMP atau mungkin malah masih duduk di bangku SD. Ina dalam beberapa fotonya yang diunggah ke Facebook memang terlihat mengenakan seragam SD.
Tapi, postingan terakhir Ina yang bikin Facebooker terkaget-kaget. Yakni fotonya di atas tempat tidur bersama cowok yang umurnya tak jauh beda. Keduanya terlihat tidak mengenakan baju. Hanya selimut yang menutup bagian dada ke bawah…” demikian tulis JPNN.com dalam pemberitaannya.

Lebih menampar lagi JPNN.Com dengan sengaja membagikan berita tanpa sensor tersebut di Fan pagenya yang memiliki 1.260.937 likes ini. Sudah bisa dipastikan, berita itupun menyebar menjadi viral di bagikan oleh ribuan orang. Dan dengan entengnya setelah menyebar redaksi JPNN.com baru memblur dan menyensor foto tersebut. Namun mereka barangkali lupa bahwa media sosial itu tidak sama seperti koran cetak yang bisa di retur begitu saja.

Dalam laman webnya JPNN setidaknya membuat ulasan 11 berita mengenai foto tersebut. Entah sadar atau tidak, ada satu berita yang juga menarik : http://www.jpnn.com/read/2016/03/03/361101/Yang-Pengin-Bully-Si-Nononk-Simak-Imbauan-Psikolog-Cantik-Ini-

Berita tersebut memuat komentar psikolog ayu Kasandra Putranto, komentar Psikolog ini cukup menarik berbicara mengenai penyebaran konten pornografi .

” Makanya saya bilang, setop share-share foto Ina. Apa bedanya sama Ina itu atau yang upload foto itu di Facebook? Secara nggak langsung sama saja mereka telah menyebarkan pornografi. Masyarakat harus lebih bijak menyikapinya,” komentar Kasandra sebagaimana di muat dalam berita tersebut. Sepakat dengan Kasandra, bahwa penyebaran konten pornografi adalah kejahatan. Dan tentu saja penyebarnya harus di pidanakan. Bukankah begitu JPNN.com?

Tidak elok rasanya menyamakan kualitas redaktur JPNN.Com dengan om Jonru yang ‘ budiman’. Seorang budiman seleb medsos yang kerap dalam memposting status menggunakan moto ” Sebar bagikan, minta maaf dan hapus kemudian”.

Sedikit mengingatkan, Ashadi Siregar (2006:224) dalam bukunya Etika Komunikasi mengatakan, “Ideologi paling ideal dalam jurnalisme adalah kesadaran eksistensial untuk melayani khalayaknya”. Berkaca pada pernyataan tersebut, seharusnya redaksi JPNN. Com menyadari bahwa tindakan tersebut turut mencoreng kredibiltas media mereka.

Dalam kode etik jurnalisme dijelaskan bahwa penulisan berita tidak diperbolehkan menyudutkan satu pihak dan subyektif, melainkan harus bersifat netral. Dari sisi kode etik jurnalistik terjadi dua pelanggaran: pertama, melanggar etika kehidupan pribadi atau privasi dan, kedua, mengabaikan perlindungan dalam pemberitaan pers bagi anak-anak yang masih di bawah umur, sebagaimana yang berlaku bagi pelaku tindak pidana yang belum berumur 16 tahun.

Dalam pasal 4, Kode etik Jurnalistik yang berbunyi, “Jurnalis tidak menyajikan berita atau karya jurnalistik dengan mengumbar kecabulan, kekejaman, kekerasan fisik dan psikologis serta kejahatan seksual”. Pada berita tersebut diperlihatkan gambar pemilik akun tersebut dalam kondisi setengah telanjang yang hanya tertutup sebagian oleh selimut. Secara etika hal tersebut tidak layak menjadi konsumsi publik karna semata-mata dapat menimbulkan nafsu birahi. Selain itu dari segi hukum pemuatan foto remaja ini dapat melanggar Pasal 13 UU Perlindungan Anak.

Pengantar Kode etik merupakan panduan moral yang perlu ditaati oleh para wartawan professional. Kode etik jurnalistik menjadi ‘kitab suci’ bagi wartawan. Kode etik dijadikan panduan tentang bagaimana berperilaku serta supaya tidak merugikan orang lain. Dengan berpedoman pada kode etik jurnalistik, wartawan diharapkan memiliki kesadaran moral untuk menjalankan kerja jurnalistik sehingga dapat tercapai fungsi jurnalisme yaitu untuk menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya agar masyarakat mengetahui hal-hal yang terjadi di luar wilayah mereka.

Anak adalah pribadi bersih, polos dan tak berdosa. Apapun kesalahan mereka kitalah manusia dewasa yang patut di salahkan karena gagal menberi contoh dan mendidik mereka. Berita bernada stereotip dan judgement seperti itu diatas lebih layak masuk kotak sampah. Berbicara soal siapa yang tak beretika dan paling ” sontoloyo’ maka JPNN.Com lah yang paling sontoloyo karena ikut menyebarkan kejahatan pornografi. Dan secara tidak langsung mengajak masyarakat untuk melakukan kejahatan pornografi dengan membagikan foto tersebut di media sosial.

Jika kemudian hari bocah itu di temukan bunuh diri karena depresi, atau drop out dari sekolahnya. Maka saya berani menunjuk bahwa redaksi JPNN.Com itulah yang paling bertanggung jawab. Ayolah bung, jangan sadis.

Tentang penulis:

me

Teguh Kurniawan. Redaktur Pelaksana di Publica Pos.co.id, alumni pers mahasiswa al- Millah, STAIN Ponorogo

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Those who hate shopping don’t know how to shop

Saya tidak pernah sadar bahwa saya termasuk produk kawin-silang, penyerbukan budaya, atau apalah namanya, yang tidak hadir dalam banyak benak...

Bila Anda menyusuri Kota Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Pecinan. Yah, Semarang merupakan salah satu kota yang terus berupaya...