Anak Jadi Korban Pedofilia karena Pendidikan Seks Dianggap Tabu

238
Suasana diskusi FAA PPMI tentang LGBT dan Pedofilia di Plaza Festival, Jakarta Selatan, 21 Februari 2016

Suara.com – Pendidikan seksual terhadap anak-anak sangat minim, bahkan masih dianggap tabu di tengah masyarakat Indonesia. Hal ini menjadi salah satu faktor anak-anak jadi sasaran dan korban eksploitasi pedofilia.

Koordinator Presidium Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI), Agung Sedayu mengatakan setiap anak memiliki hak tumbuh kembang yang baik, termasuk dalam hal pendidikan seksual. Namun pendidikan seksual yang baik terhadap anak masih menjadi barang langka di negeri ini.

“Keluarga, lingkungan, bahkan sekolah masih menjadikan seksual sebagai barang tabu untuk dibicarakan. Itu sebabnya anak secara diam-diam mencari tahu sendiri melalui berbagai sarana dan pergaulan di luar pengawasan orang tua,” kata Agung dalam diskusi di sebuah kafe kawasan Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (21/2/2016).

Padahal, lanjut dia, teknologi informasi dan kemudahan akses internet sudah sangat maju‎. Anak-anak saat ini sangat mudah mengakses internet dengan bebas..

“Akibatnya, anak yang belum paham konsekuensi aktivitas seksual yang mereka lakukan itu menjadi rentan terperosok dalam pergaulan seksual bebas bahkan menjadi korban eksploitasi seksual orang dewasa,” ujar Agung.

Dia menjelaskan, beberapa waktu lalu masyarakat dihebohkan dengan munculnya akun‎ Twitter @GayKids_botplg ‎yang memasang, memamerkan foto serta pelajar SMP dan SMA secara fulgar dan menyebut mereka sebagai anak-anak gay. Akun Twitter ini salah satu contoh bentuk eksploitasi seksual terhadap anak.

“‎Perbuatan eksploitasi seksual, pedagangan anak, dan praktik fedofilia jelas sebuah kejahatan serius. Polisi harus tegas menindak dan menghukum siapapun pelakunya,” tegas dia.

Sementara itu, sikap intoleran, eksklusi dan diskriminasi membuat kelompok minoritas LGBT dalam posisi yang rumit. Masyarakat dengan modal stigma negatif cenderung sembrono mengaitkan keberadaan minoritas LGBT sebagai tersangka utama fedofilia atau predator pemburu anak-anak.

“Padahal kejahatan seksual terhadap anak bisa dilakukan oleh siapa saja,” jelas Agung.

Kebencian dan sikap mendiskriminasi kelompok minoritas LGBT jelas bukan soslusi untuk menekan angka korban perilaku menyimpang pedofilia atau mengakhiri eksploitasi seksual pada anak.

“Memberikan ruang pendidikan seksual yang wajar dan seimbang dengan tingkat pertumbuhan anak nampaknya lebih tepat, ketimbang menduga pemilik akun twitter Gaykids‎ adalah generasi muda yang sesaat tak bermoral. Perlu komitmen dari semua pihak melawan prilaku pedofilia,” kata dia.

Sumber: suara.com

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Pertanian sebaiknya jangan disempitkan artinya sebatas produksi pangan, tapi merupakan kehidupan itu sendiri. Meski setiap hari bersentuhan dengan pangan, namun tak banyak...

"Saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah Pancasila. Sila itu artinya asas atau dasar dan...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things — Henry Mille Kabupaten Sumenep merupakan labuhan terakhir di...