Cerita Mami Vin dan Pendampingannya untuk Kelompok LGBT

518
Vinolia Wakijo

Bersama Kebaya, Mami Vin mengarahkan waria di Kota Yogyakarta untuk berkontribusi secara positif bagi masyarakat.

MajalahKartini.co.id – Di kalangan kaum lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Kota Yogyakarta, sosok Mami Vin sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Terlahir sebagai laki-laki, Vinolia Wakijo tidak malu mengungkapkan status orientasi seksualnya saat ini sebagai waria meski sepanjang hidupnya kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif.

Namun, secara perlahan Mami Vin mencari cara untuk mengatasi masalah yang ia hadapi bersama kelompoknya dengan mendirikan wadah Keluarga Besar Waria Yogyakarta (Kebaya).

Melalui Kebaya, Mami Vin dan kelompoknya banyak melakukan advokasi bagi masyarakat umum untuk membuktikan bahwa waria juga dapat melakukan banyak hal positif. Salah satu hal pertama yang ia kerjakan adalah merawat kawan-kawannya yang mengidap HIV/AIDS. Sebab, ia menilai waria kerap mendapatkan diskriminasi ganda sebagai pengidap dan penyebar virus tersebut.
“Banyak waria yang meninggal karena belum mengetahui banyak hal dan mendapatkan diskriminasi baik dalam lingkungan keluarga dan sosial. Waria sering dipandang tidak berpendidikan tinggi, tidak berkualitas. Saya juga tidak berpendidikan tinggi, tapi saya ingin berguna bagi masyarakat,” jelasnya dalam diskusi publik bertajuk ‘LGBT & Paedofil: Menyelamatkan Anak dari Eksploitasi Seksual’ yang diselenggarakan Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) di Jakarta, Minggu (21/2).
Sebelum mendirikan Kebaya, Mami Vin lebih dikenal sebagai ‘maminya’ anak-anak jalanan di Kota Yogyakarta pada periode 1994-2004. Niatnya saat itu adalah mencari cara agar ia dapat bermanfaat bagi orang lain. Kemudian ia memposisikan dirinya sebagai ‘orangtua’ bagi anak-anak jalanan dan mengajari mereka pengetahuan membaca dan menulis, bahkan hingga mereka dapat menginjak jenjang perguruan tinggi.
“Tapi kok saya lihat tidak ada yang menjadi LGBT. Itulah yang membuat saya kaget, banyak pandangan kalau LGBT merawat anak, maka anak akan menjadi LGBT juga. Itu rumusannya darimana? Saya sendiri tidak pernah lihat anak jalanan yang melakukan pelecehan seksual,” tutur Mami Vin.
Baginya paradigma publik yang kerap menghubungkan pelaku paedofilia dengan kelompok LGBT adalah satu hal yang salah kaprah. Padahal, menurutnya kasus pedofilia lebih banyak dilakukan oleh heteroseksual.
Oleh sebab itu, tuduhan tak mendasar yang selama ini ditujukan kepada kaum LGBT harus ditinjau kembali. Sebab pada dasarnya ia percaya bahwa kelompok LGBT dapat memberikan konstribusinya di lingkungan masyarakat.
Mami Vin pun menjelaskan agar praktik eksploitasi seksual tidak semakin meluas, orangtua harus semakin mendekatkan anak dengan dunia pendidikan. Berdasarkan pengalamannya mengurus anak jalanan, banyak orangtua yang sengaja menyuruh anak-anak mereka untuk bekerja sebagai pengemis untuk membantu ekonomi keluarga. Padahal para ‘predator’ seksual ada dimana-mana, tak terkecuali di lingkungan mereka sendiri.
“Makanya, pelaku (kejahatan seksual terhadap anak) bisa siapa saja. Yang bersalah adalah yang melakukan eksploitasi (seksual) itu, bukan yang berhubungan dengan orientasi seksual kita (kelompok LGBT),” pungkasnya. (Foto: Dok. FAA PPMI)

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Bila Anda menyusuri Kota Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Pecinan. Yah, Semarang merupakan salah satu kota yang terus berupaya...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Yogyakarta tak hanya tentang Malioboro, Kraton atau barisan pantai pasir putih di Gunung Kidul, tetapi juga ada banyak alternatif wisata...

Begitu turun dari motor, tiga bocah kecil itu berlari menuruni lembah. Di bawah sana, di depan danau, teronggok badak besar...

Berkaca pada kasus Via Vallen, dulu saya mengira kasus pelecehan seksual sangat susah untuk diselesaikan karena harus melawan dominasi laki-laki,...