Sehari di Semarang, Menikmati Kuliner Pecinan ‘Gang Lombok’ (1)

597
Lumpia Semarang. Foto: Ecka

Bila Anda menyusuri Kota Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Pecinan. Yah, Semarang merupakan salah satu kota yang terus berupaya melestarikan budaya, termasuk dari kaum Tionghoa. Dari kawasan Pecinan yang khas dengan bangunan lawas Lawang Sewu inilah roda ekonomi berputar secara dinamis.

Salah satu area yang kesohor adalah Gang Lombok di kawasan Pecinan, selain lunpia di sana terdapat pula es campur di Gang Lombok no. 9, Klenteng Semarang. Mau tahu seperti apa rasanya?

 

Lunpia Gang Lombok nan Legendaris

Lunpia atau loen pia dan Semarang adalah dua frasa yang tak bisa dipisahkan. Oleh-oleh khas Semarang ya lunpia, ada lunpia basah dan lumpia goreng. Jika berkunjung ke Semarang, jangan lupa mampir ke Gang Lombok yang sudah nyaris 100 tahun berdiri itu.

Sudah puluhan tahun tapi kios sederhana milik Purnomo Usodo ini tetap bertahan. Purnomo dibantu dengan beberapa karyawan yang terbagi menjadi beberapa bagian itu bisa menjual hingga ratusan lunpia.

Meski kios lunpia tampak sederhana tapi pembagian kerja terlihat merata. Mulai dari pegawai yang khusus meracik isian lunpia – dengan cara ditumis sampai harum dengan bumbu rahasia – hingga bagian yang mengisi kulit lumpia sampai bagian penyajian.

Kebanyakan yang datang ke sana adalah turis lokal. Satu orang bisa pesan sampai puluhan jumlahnya. Begitulah yang diakui salah satu pengunjung yang datang dari Jakarta. Sengaja mampir ke Gang Lombok hanya untuk menikmati lunpia yang masih hangat.

Kulit lunpia yang disajikan di sana memang lebih renyah dan tebal. Mereka membuat sendiri adonan tepungnya, pun isian lunpia. Dalam satu lembar lunpia berisi rebung, telur, tauge, dan udang. Penyajiannya bisa digoreng atau dikukus, dicocol dengan saus maizena dengan bumbu rempah, cabe rawit, selada, daun bawang, dan acar timun.

Cara menghidangkan sesuai dengan jumlah pesanan kemudian ditaruh di piring, dipotong-potong. Selanjutnya ditambah kondimen dan disiram saus lunpia yang berbumbu rempah lokal. Dengan ukuran yang cukup besar rasanya pas jika satu buahnya dibandrol dengan harga Rp. 12.000,-. Karena rasanya yang lezat, wajar jika makan satu atau dua lumpia tidak akan cukup.

Es Campur Segar dengan Sirup Asli ala Rumahan

Siang-siang panas, saya datang memesan salah satu menu favorit yaitu es campur, duh segarnya unik. Rasanya wajar sekali jika disebut favorit, bisa merasakan legenda es yang sudah 70 tahun berdiri. Bangunan sederhana seukuran 6×4 meter ini tetap bertahan apa adanya tanpa direnovasi. “Bangunan asli milik orangtua saya,” ungkap Cik Tin, salah satu keturuan sang pemilik warung, Woei Kok Tjeng.

Es campur gang Lombok, Pecinan, Semarang. Foto: Ecka
Es campur gang Lombok, Pecinan, Semarang. Foto: Ecka

Sekilas isian es campur ini tampak biasa. Terdiri dari kolang kaling, pepaya, nanas, mangga, kelapa, cincau, sirup gula pasir buatan sendiri, dan sirup frambozen. Mau tau yang bikin jadi spesial? Adalah manisan mangga yang dituang di es campur. “Kami bikin sendiri, manisan mangga dan manisan kolang-kaling,” tambah Cik Tin yang sambil asyik melayani pelanggan. Kolang-kaling yang istimewa, terasa empuk dan kenyal meski tanpa pengawet.

Dengan rasa segar khas manisan mangga yang unik, maka wajar jika es otentik ini dibandrol dengan harga Rp. 20.000,- per porsi. Selain buat sendiri Cik Tin mengatakan bahwa sirupnya murni tanpa sakarin dan pengawet. “Bisa dirasakan sendiri, kalau sirup kami murni,” ungkapnya.

Selain es campur ada juga es kopyor dan es kolang-kaling yang banyak dipesan pelanggan. Minum es campur di gang lombok ini serasa menempati kios jaman dulu, depan ada kali, kipas angin sederhana, aneka toples kaca warisan dari orangtua Cik Tin.

Ah, resep turunan memang selalu menyisakan kenangan, apalagi jika resep itu terus dilestarikan keasliannya.

(Bersambung)

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

“Palestine…tomorrow will be free” (Maher Zein) Belum lama ini Indonesia didaulat menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT LB...

Geliat tumbuh kembang pertelivisian Indonesia memperlihatkan grafik kemajuan yang sangat cepat dan luar biasa. Perkembangan itu terlihat jelas ketika Undang-Undang...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

Bila Anda menyusuri Kota Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Pecinan. Yah, Semarang merupakan salah satu kota yang terus berupaya...