Suatu siang beberapa hari lalu, tiba-tiba berbagai group media sosial kelompok jurnalis dan aktivis yang saya ikuti geger. Sebuah screen capture di aplikasi jejaring sosial Path berisi tulisan dari akun Ndoro Kakung, milik wartawan senior Wicaksono, menjadi topik perbincangan seru. Isinya adalah informasi yang benar-benar baru dan luar biasa tentang Wiji Thukul, penyair yang hilang di sekitar masa runtuhnya Orde Baru. Di sana Ndoro Kakung menulis bahwa dalam siaran langsung televisi Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao menyatakan Wiji Thukul adalah pemasok sekaligus membantu merakit bom untuk pejuang Timor Leste. Kabar yang sangat mengejutkan bagai bom di siang bolong.

“Di TVTL Xanana bercerita tentang Thukul yang dinilainya sangat pintar. Thukul adalah orang yang memasok dan merakit bom yang dipakai tentara Timor Leste untuk melawan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia),” tulis Ndoro Kakung. “Kata Xanana, pada waktu itu, antara 1998-1999, tentaranya kehabisan amunisi. Lalu datanglah Thukul yang kemudian membantu bikin bom.”

Informasi lain yang tidak kalah mengejutkan, Ndoro Kakung menulis bahwa Xanana mengatakan Wiji Thukul terbunuh di sana. “Sayang, Thukul terbunuh di perbatasan oleh anggota ABRI. Dibom,” tulis Ndoro Kakung. Karena itu, Xanana memberikan penghargaan kepada Wiji Thukul yang dianggap sebagai pahlawan Timor-Leste. Putri sulung Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani, mewakili bapaknya menerima penghargaan itu. Selain penghargaan Wani juga mendapat uang.

Selanjutnya, Ndoro Kakung menutup tulisannya dengan pernyataan yang menggelitik sekaligus seolah menyakinkan pembaca bahwa informasinya itu adalah sebuah pengetahuan: “Kisah ini tentu saja merupakan pengetahuan baru bagi kita. Mari kita tunggu reaksi di Indonesia.”

Informasi itu menjungkirbalikkan informasi tentang Wiji Thukul yang saya ketahui selama ini. Setahu saya dari berbagai buku, berita, bahkan kisah para sahabat Wiji Thukul, Thukul memang sempat menjadi pelarian. Ia dikabarkan berpindah-pindah tempat di Jawa, Jakarta, Sumatera, bahkan Kalimantan. Namun saya tidak pernah mendapat informasi bahwa Wiji Thukul pernah pergi ke Timor Leste. Apalagi Thukul memasok dan merakit bom!

Tapi, tulisan Ndoro Kakung itu begitu menyakinkan, seolah ia menyaksikan siaran langsung di TVTL itu dengan mata kepalanya sendiri.

Saya tidak kenal langsung Wicaksono yang biasa disapa Ndoro Kakung di media sosial itu. Namun saya tahu benar bahwa pimpinan di www.beritagar.id itu adalah salah satu wartawan senior yang reputasinya cukup disegani.

Seorang wartawan memiliki prinsip wajib untuk selalu hati-hati, melakukan verifikasi bahkan kalau perlu konfirmasi, sebelum mengabarkan informasi melalui medium apapun: media massa maupun media sosial. Sebab hal yang paling berharga pada wartawan adalah kepercayaan publik. Sekali ia mengabarkan informasi bohong maka integritas kewartawananya bisa runtuh. Sebagai wartawan yang jauh lebih senior dibanding saya, prinsip itu semestinya sudah lebih mendarah daging di Ndoro Kakung.

Ndoro Kakung juga sudah sangat berpengalaman di dunia media sosial. Ia telah menggeluti jagad media sosial selama bertahun-tahun dan menjadi tokoh yang cukup dihormati di sana. Semestinya pula ia sudah sangat paham bahwa segala informasi yang kita lontarkan di group media jejaring sosial – baik itu Path, Whatsapp, atau lainnya – sangat rentan tersebar luas ke publik.

Apalagi di era euforia media sosial seperti saat ini. Hal-hal sepele bisa menyebar ke mana-mana, apalagi informasi sekontroversi serta melibatkan dua orang besar, Wiji Thukul dan Xanana Gusmao, yang ditulis tokoh selevel Ndoro Kakung. Terbukti, dalam waktu singkat tulisan Ndoro Kakung viral, ramai di berbagai media sosial. Tidak sedikit yang langsung percaya lantas menelan informasi itu mentah-mentah. Media-media massa ikut latah geger dan beradu cepat menghubungi keluarga Wiji Thukul.

Di Solo, Fitri Nganthi Wani marah dan menolak diwawancarai sebab sebagian besar informasi yang disampaikan Ndoro Kakung itu ternyata bohong. Keluarga Wiji Thukul shock.

Bantahan keras juga muncul dari Associacao Dos Combatentes Da Brigada Negra (ACBN) Timor Leste, lembaga yang memberi penghargaan terhadap Wiji Thukul. Melalui siaran pers pada Jumat, 18 Maret 2016, kemarin ACBN mengatakan bahwa Wiji Thukul adalah salah satu dari sekian banyak aktivis solidaritas internasional untuk Timor Leste yang diberi penghargaan. Ada sejumlah aktivis lain dari Indonesia yang diberi penghargaan bahkan juga ada yang dari Australia, Jepang, dan Portugal. Namun ACBN membantah bahwa Xanana pernah mengatakan Wiji Thukul adalah pemasok sekaligus membantu merakit bom untuk tentara Timor Leste. “Tidak pernah ada pernyataan tersebut dari Xanana Gusmao,” tulis ACBN.

ACBN juga membantah bahwa pernah ada pernyataan Xanana tentang Wiji Thukul yang terbunuh di perbatasan karena bom ABRI. ACBN justru mengatakan bahwa setahu mereka Wiji Thukul adalah salah seorang aktivis yang dinyatakan korban ‘penghilangan paksa’ menjelang reformasi pada bulan Maret 1998. Informasi bahwa Fitri Nganthi Wani menerima uang di acara tersebut juga tidak benar.

Dalam siaran pers yang sama ACBN dengan tegas meminta Ndoro Kakung mempertanggungjawabkan, menarik semua pernyataan, dan meminta maaf kepada keluarga Wiji Thukul dan Xanana Gusmao.

Penasihat media untuk Sekretariat Negara urusan Perempuan di Bidang Sosial dan Ekonomi Timor Leste, Nug Katjasungkana, yang ikut hadir dalam konferensi tersebut kepada saya menyampaikan bantahan dan kecurigaannya “Saya heran, kenapa sampai informasinya jadi seperti itu?” tambah Nug Katjasungkana.

Tudingan ngawur Ndoro Kakung itu juga mengingatkan orang pada ledakan bom di Tanah tinggi, Jakarta Pusat, Minggu petang, 18 Januari 1998. Inilah peristiwa yang menjadi alasan kuat pemerintah memburu para aktivisi Partai Rakyat Demokratik (PRD), termasuk Thukul. PRD dituding sebagai  kelompok yang merencanakan aksi terorisme. Hingga saat ini siapa pembuat dan peledak bom itu masih jadi misteri.

Bagi kalangan yang tidak kenal Wiji Thukul dan tidak paham kondisi saat itu, bisa terjebak dan mengaitkan peristiwa bom itu dengan Thukul yang disebut Ndoro Kakung pemasok dan pandai merakit bom. Secara tidak langsung Ndoro Kakung telah mendukung opini yang dibangun militer, bahwa PRD adalah gerombolan pengebom. Dan seakan ia ingin mengatakan bahwa Wiji Tukul adalah pemberontak dan penghianat negara, maka tidak layak negara menyebutnya sebagai korban.

Duh… Ndoro Kakung, apa maksud Anda menyebarkan informasi yang tidak benar itu. Apakah Anda sengaja? Atau apakah sekedar ceroboh dan serampangan mengabarkan informasi yang sangat sensitif itu tanpa verifikasi? Apakah kualitas anda sebagai wartawan senior dan tokoh media sosial ternyata serendah itu?

Setelah muncul bantahan dan banjir kecaman, Ndoro Kakung lantas membuat status di media sosial dia yang berisi klarikasi mengenai informasi yang dia sampaikan melalui Path. Ndoro Kakung kali ini menulis bahwa informasi itu dia tidak dia peroleh dari acara siaran langsung televisi Timor Leste yang dia tonton, melainkan dari cerita seorang sahabatnya.

“Sahabatku itu bercerita bahwa dalam tayangan itu juga Xanana menjelaskan jasa-jasa Thukul. Sahabatku mengaku terharu dan terkejut karena ada sebagian cerita yang belum pernah dia dengar sebelumnya. Setelah mendengar cerita itulah status di Path muncul. Kenapa di Path? Karena dimaksudkan hanya untuk kalangan terbatas. Apa yang didengar temanku belum tentu benar, tapi belum tentu juga tidak benar,” tulis Ndoro Kakung.

Dalan tulisan yang sama Ndoro Kakung meminta maaf kepada keluarga Wiji Thukul. “Kalau kemudian ada pihak yang tak berkenan karena informasi yang tak akurat di Path, terutama keluarga Wiji Thukul, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Aku sama sekali tak berniat dan bertujuan membuka luka lama atau menyesatkan informasi,” ujar dia.

Saya sama sekali tidak bisa menalar penjelasan itu. Sebab dalam tulisan sebelumnya Ndoro Kakung sama sekali tidak menulis bahwa ia memperoleh informasi dari orang lain. Pada tulisan sebelunya, Ndoro Kakung begitu gamblang menggambarkan seolah menyaksikan dan mendengar sendiri siaran di televisi itu. Toh, seandainya benar bahwa Ndoro Kakung memperoleh informasi itu dari orang lain semestinya ia menuliskan itu sejak awal untuk menghindari salah persepsi.

Saya terpaksa curiga bahwa sosok “sahabatku” ini adalah sosok imajiner, hanya karangan semata sebagai pelimpahan kekeliruan. Kini informasi bodong itu telah menjadi persoalan publik, apa alasan Ndoro Kakung tidak membukanya ke publik? Sebab, bila tidak dilakukan, maka jangan salahkan orang yang menganggap bahwa sumber informasi bohong itu adalah Ndoro Kakung sendiri.

Pernyataan maaf Ndoro Kakung ke keluarga Wiji Thukul juga terkesan setengah hati. Ndoro Kakung justru melimpahkan kesalahan pada orang yang telah menyebarkan informasinya. Dengan alasan bahwa Path adalah untuk kalangan terbatas dan orang yang menyebarkan itu telah membuat screen capture yang tidak lengkap. “Padahal di bagian bawahnya ada peringatan untuk tak melakukan screen cap dan keterangan informasi itu belum tentu benar,” tulisnya.

Ndoro Kakung menyatakan merasa dirugikan karena statusnya yang dikutip secara tak lengkap dan kemudian disebarkan. “Itu telah menyudutkan diriku dan menimbulkan kesan aku telah menyebarkan fitnah dan kabar bohong,” katanya.

Apakah alasan itu mengada-ada? Mari kita coba kembali perhatikan screen capture dari Path Ndoro Kakung itu. Di sana memang tidak ada sama sekali tulisan tentang peringatan seperti yang dimaksud Ndoro Kakung. Namun, coba perhatikan bagian di bawah paragraf paling akhir tulisan Ndoro Kakung. Di sana terdapat keterangan waktu sekaligus lokasi pengunggah: “24 mins ago from central Jakarta”. Para pengguna Path pasti sudah tahu bahwa keterangan waktu dan lokasi dari sistem Path itu hanya tampil di bawah akhir pesan, atau dengan kata lain sudah tidak ada lagi pesan di bawahnya. Artinya screen capture yang beredar itu adalah screen capture utuh dari tulisan Ndoro Kakung, tanpa ada potongan di sana.

Screen capture dari Path Ndoro Kakung pertama yang menyatakan Wiji Thukul memasok bom ke Timor Leste (kiri) dan screen capture Path Ndoro Kakung yang kedua berisi klarifikasi  screen capture pertama (Kanan)
Screen capture dari Path Ndoro Kakung pertama yang menyatakan Wiji Thukul memasok bom ke Timor Leste (kiri) dan screen capture Path Ndoro Kakung yang kedua berisi klarifikasi screen capture pertama (Kanan)

Apakah ini klarifikasi itu sekedar mencari alibi? Saya berharap Ndoro Kakung bisa menjelaskannya dengan terbuka dan jujur.

Hal tidak patut lain yang dilakukan Ndoro Kakung adalah ketika dia menolak meminta maaf kepada Xanana yang sekaligus membantah bahwa ia bersalah. Dalam berita di portalkbr.com berjudul “Minta Maaf Pada Xanana? Ini Jawaban Ndoro Kakung” pada 18 Maret 2016 Ndoro Kakung berujar: “Minta maaf bagaimana, itukan status, kan orang salah persepsi.”

Ndoro Kakung juga enggan memperkarakan orang yang menyalin pertama kali dan menyebarkan ke pengguna media sosial: “Tidaklah, kalau sudah ketemu terus mau diapain. Saya tidak mau memperpanjang, inikan hanya salah persepsi saja.”

Oalah… Ndoro Kakung, apakah Anda sudah tidak punya hati hingga menganggap masalah seserius sebesar ini hanya sekedar persoalan salah persepsi? Tidakkah Anda punya sedikit empati pada keluarga Wiji Thukul yang semakin menderita karena ulah Anda?

Ndoro Kakung mestinya tahu dalam Sidang Paripurna 28 September 2009, DPR memberikan rekomendasi terkait penanganan pembahasan atas hasil penyelidikan penghilangan orang secara paksa periode 1997-1998. Rakyat juga sedang menagih janji Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan yang mengatakan bahwa enam perkara pelanggaran berat HAM masa lalu akan tuntas pada tanggal 2 Mei nanti. Kasus penghilangan belasan aktivis secara paksa adalah salah satu dari enam perkara yang dijanjikan diselesaikan.

Kini ada berjuta masyarakat yang masih berjuang mendesak pemerintah mengungkap misteri hilangnya Wiji Thukul beserta 13 aktivis lain yang hilang. Sebelum menulis, seharusnya Ndoro Kakung sadar bahwa informasi sesat dia hanya akan memperkeruh dan bisa mengganjal perjuangan itu. Sebab informasi Ndoro Kakung itu seolah mengatakan Wiji Thukul bukan lagi korban pelanggaran HAM masa lalu, sebab Tukul mati di negeri orang saat memperjuangkan kemerdekaan Timor Leste. Ndoro Kakung seolah mengatakan bahwa hilang atau matinya Wiji Thukul bukan lagi urusan pemerintah Indonesia.

Menakar kapasitas Ndoro Kakung jurnalis senior dan aktivis medsos disegani yang berbanding terbalik dengan perbuatannya itu, wajar bila saat ini banyak pihak yang menduga Ndoro Kakung adalah buzzer. Ia dicurigai sengaja dipesan untuk mengalihkan perhatian publik pada isu lain. Namun, kali ini saya tidak ingin berspekulasi tentang apa motif Ndoro Kakung. Satu hal yang saya tahu pasti, perbuatan Anda telah menambah perih luka keluarga Wiji Thukul dan kami yang mencintai Wiji Thukul.

Dalam status Facebook, Wahyu Susilo, adik kandung Wiji Thukul menggambarkan kepedihan dan kekecewaanya terhadap Ndoro Kakung:

“Mas Ndoro Kakung hari ini Anda benar-benar membuat kami, keluarga Wiji Thukul, terfitnah oleh omongan Anda di Path walaupun Anda telah membantahnya. Ini memicu kehebohan kawan-kawan jurnalis yang juga secara serampangan memamah berita hingga membuat Fitri Nganthi Wani emosi dan tak mau diwawancarai media. Anda dengan mudah bilang maaf dan cuci tangan, tapi omongan Anda yang tanpa bukti membuat derita keluarga kami makin dalam. Camkan!”

Ndoro Kakung, saya berharap Anda membaca dan merenungkan kembali pernyataan Wahyu Susilo. Untuk selanjutnya mengakui kesalahan, meminta maaf dengan tulus, dan mempertanggungjawabkan perbuatan Anda pada keluarga Wiji Thukul dan publik. Sebagai bukti bahwa Anda masih punya hati dan empati.

 

BERIKAN KOMENTAR