“Musik memberi warna kehidupan. Tapi sayang, sering kali musik diciptakan hanya untuk dijual.”

Dody M.Kholid gemas terhadap kondisi jagad musik di Indonesia. Dosen seni musik di Universitas Pendidikan Indonesia itu menilai bahwa industri musik kini cenderung abai dengan kualitas musik, mereka lebih asik mengejar produktivitas musik minim kualitas dan menjejalkannya ke masyarakat. “Tidak ada satu pun niat untuk keberlangsungan musik itu sendiri,” keluhnya.

Orentasi untuk sekedar mengejar keuntungan sebesar-besarnya dengan keringat seminim mungkin itu memberangus ruang para musisi berkualitas. Media massa juga setali tiga uang, sehingga makin lengkaplah penderitaan kita. Tapi di tengah kebisingan nada-nada sumbang, harapan tentang tetap tegaknya musik berkualitas justru muncul dari komunitas-komunitas musik underground yang tidak banyak terpantau oleh media. Di sana musik masih dianggap “suci” dan dihormati sebagai seni yang tercipta dari kesungguhan proses serta ideologi, jauh dari hasrat mengumbar orentasi kapitalis.

Di sudut-sudut Kota Bandung, di tengah kepungan bising industri, musik underground masih garang menggertak dan berdentum. Meski masih dipandang sebelah mata, bahkan sebagian masyarakat menilainya negatif, para pegiat musik ini terus bergerak, melantun di setiap ruang-ruang kecil yang mereka miliki. Komunitas musik underground itu saat ini makin berkembang, pun para penggemarnya terus bertumbuh.

Kekuatan utama musik underground bertahan dan berkembang memang terletak pada simpul-simpul komunitas. Tanpa sokongan industri, mereka bergerak dengan segala kemampuan sekaligus keterbatasan. Dari segi kualitas, bisa jadi sebagian musik underground masih memiliki kekurangan. Akan tetapi, dari segi lirik mereka memiliki daya tarik tersendiri, karena syair diciptakan dari hati nurani dan tanpa rekayasa. “Itulah musik!” kata Dody bersemangat.

Mari tengok kelompok musik Kontrasosial. Bagi mereka musik adalah media untuk menyampaikan protes. Ditemui di Fame Station, Ivan sebagai drummer, mengungkapkan bahwa musik merupakan sarana protes yang efektif. Musik memiliki daya tarik untuk mengajak pendengarnya merasakan kegelisahan untuk selanjutnya melakukan gerakan protes bersama-sama.“Musik yang dimainkan hanya kemasan, agar protes yang ingin disampaikan dapat diterima,” kata Ivan. Selain itu segala protes yang disampaikan melalui musik juga lebih aman dari resiko ditangkap pihak berwenang.

Nama Kontrasosial diambil dari pandangan mereka yang telah menyadari bahwa pilihan ideologis mereka tidak mungkin diterima oleh masyarakat social secara umum.

Meskipun demikian, Ivan tidak menyukai lirik musik yang terlalu fanatik, karena menurutnya itu bisa berpotensi membuat perpecahan. “Terlalu fanatic teh teualus…. Neangan musuh sorangan” keluhnya.

Lirik yang dibuat Kontrasosial selalu berdasarkan realita. Seperti dalam lagu Imperialisme Abad 20. Ivan menceritakan lirik tersebut dibuat karena fenomena penebangan hutan, perusakan alam oleh pengusaha yang hanya duduk santai menikmati hasilnya tanpa tanggung jawab.

Tiga tahun lalu Kontrasosial pernah mengokupasi acara Obscene Extreme Asia ke 15 karena tidak sepakat dengan konsep panitia yang menurut mereka telah melanggar ideologi musik underground. Okupasi itu berawal ketika diajak tampil pada acara Obscene Extreme yang merupakan salah satu festival DIY (Do It Yourself).

Awalnya mereka tidak mempermasalhkan pagelaran musik itu. Namun di tengah jalan mereka kecewa ketika mengetahui bahwa festival itu menggandeng sejumlah sponsor. Bagi Kontrasosial, sponsor dalam festival itu tidak sesuai dengan ideologis DIY Festival. “Urang sorangan ngalawan nu kitu, maenya urang kudu asup kasistem nu kitu” cerita Ivan dengan nada kesal.

Kontrasosial memang tidak memilih mundur dari festival. Karena mundur berarti tidak ada perlawanan. Mereka lantas memutuskan hanya membawakan satu lagu, lantas mengokupasi acara tersebut selama waktu yang diberikan panitia untuk mereka. Saat itu mereka membuka forum diskusi terkait okupasi yang dilakukannya.

Pentas musik underground. Sumber: Facebook Kontrasosial
Pentas musik underground. Sumber: Facebook Kontrasosial

Menurut Ivan, pada saat ini pergerakan musik cenderung mengutamakan eksistensi bukan resistensi. Musik yang baik dapat diketahui dari lirik yang tidak mengandung unsure seksis, fasis, fanatic medan homophobic. “Hidup itu pilihan, tak usah menilai. Bebas,” kata Ivan bersemangat. “Musik ideal itu adalah musik yang tidak penuhdengan kepura-puraan, musik yang lahir berdasarkan jiwa seseorang, musik yang bias mempresentasikan diri sendiri, musik yang tanpa rekayasa musik yang tanpa paksaan… ketika itu sebuah ketulusan untuk membunyikan sesuatu dengan ikhlas”.

Semangat yang sama juga diungkapkan oleh Reza, salah satu anggota komunitas DIY HC/Punk. Menurutnya musik underground memiliki dalil untuk bebas dari sponsorship. Menciptakan ruang tanpa sponsorship adalah tantangan tersendiri bagi sebuah komunitas. Ruang yang diciptakan harus benar-benar bebas, bebas dari tekanan dari pihak lain. “Kami mampu membuat gigs di Bandung tanpa pake sponsor dan tetek bengek lainnya, dengan udunan lebih terasa solidaritasnya. Selama kami bisa, kenapa tidak?” ujar pria yang biasa dipanggil Uwoh itu.

Menurutnya, ruang yang diciptakan dengan bantuan sponsor adalah tempat fasis, sehingga bertentangan dengan ideology musik underground terutama pada komunitas DIY HC/Punk.

Solidaritas dan kreativitas menjadi kunci untuk tetap bisa bertahan di tengah kesulitan pendanaan. Memang tidak mudah untuk menggelar acara tanpa dana. Karena bahkan untuk izin pagelaran saja mesti bayar. Itulah mengapa acara-acara musik ini digelar di sudut-sudut kota, menghindari pantauan pihak-pihak yang berwenang. Toh, equipment, tempat, dan transport menjadi kendala utama dalam pergerakan komunitasnya. “Tapi kami atasi dengan memutar uang hasil benefit dari kawan-kawan yang udah datang ke gigs (uang tiket) kami belikan drum, gitar, bass. Bahkan tenda pleton kami beli dari hasil udunan babarengan” kata Uwoh.

Semua itu mereka lakukan untuk menjaga marwah dan ideologi musik. Menjadikan musik sebagai wujud kebebasan berkreativitas, bukan sekedar tuntutan orentasi materi apalagi paksaan.

 

Tentang penulis:

Okky Ardiansyah
Okky Ardiansyah

Okky Ardiansyah. Lembaga Pers Mahasiswa Communications Magazine, Departemen Ilmu Komunikasi 2013, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia.

BERIKAN KOMENTAR