Bioskop dan Orang Tua Harus Patuh pada Klasifikasi Film

288
Diskusi FAA PPMI bertema "Mengurai Praktik Sensor dan Menggagas Film Indonesia Lebih Cerdas" di Pasar Festival, Jakarta, 3 April 2016

Praktik sensor film layar lebar, kepentingan perlindungan anak, dan anggapan bahwa keduanya membatasi proses kreatif para film maker menjadi isu utama dalam Diskusi Publik bertema “Mengurai Sensor Film dan Menggagas Perfilman Indonesia yang Lebih Cerdas”, yang diselenggarakan Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI).

Hadir dalam diskusi ini Rommy Fibri (Komisioner Lembaga Sensor Film/LSF), Maria Advianti ( Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia/ KPAI), Anggi Umbara Film Maker (Sutradara Comic 8), Ody Mulya Hidyat (Produser Film Maxima International) dan Khalid Fathoni (Kepala Bidang Pusat Pengembangan Film Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan).

Rommy Fibri mengatakan LSF saat ini mengedepankan dialog ketimbang main gunting atas karya para sineas nasional. “LSF tak lagi seperti dulu main gunting, sekarang modelnya direview, dicatat adegan tertentu yang tak sesuai klasifikasi usia,” tutur juru bicara LSF ini dalam diskusi yang berlangsung di Piring Jahit, Pasar Festival, Jakarta, Minggu, 3 April 2016.

Acara diskusi FAA PPMI, Minggu, 3 April 2016. (Kiri ke kanan) Anggi Umbara Film Maker (Sutradara Comic 8), Maria Advianti ( Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia/ KPAI), Rommy Fibri (Komisioner Lembaga Sensor Film/LSF), Ody Mulya Hidyat (Produser Film Maxima International), Khalid Fathoni (Kepala Bidang Pusat Pengembangan Film Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan), dan Andika Wardana
Acara diskusi FAA PPMI, Minggu, 3 April 2016. (Kiri ke kanan) Anggi Umbara Film Maker (Sutradara Comic 8), Maria Advianti ( Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia/ KPAI), Rommy Fibri (Komisioner Lembaga Sensor Film/LSF), Ody Mulya Hidyat (Produser Film Maxima International), Khalid Fathoni (Kepala Bidang Pusat Pengembangan Film Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan), dan Andika Wardana

Ia menekankan LSF lebih mengedepankan klasifikasi film dan penggolongan usia penonton dan mengedepankan dialog daripada sensor. Klasifikasi film dan penggolongan usia penonton nampaknya beririsan dengan hak anak untuk mendapatkan edukasi melalui medium film.

KPAI memandang bahwa seharusnya film dan sensor atas film harus memiliki perspektif perlindungan anak, bukan sebaliknya, memandang anak sebagai pasar semata. “Untuk trail film anak kemasannya harus disesuaikan, karena di ruang publik anak menyerap lebih dari 80 persen konten film dan menganggapnya sebagai dunia nyata,” ungkap Maria Advianti.

Dari kiri ke kanan: Maria Advianti ( Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia/ KPAI) dan Rommy Fibri (Komisioner Lembaga Sensor Film/LSF)
Dari kiri ke kanan: Maria Advianti ( Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia/ KPAI) dan Rommy Fibri (Komisioner Lembaga Sensor Film/LSF)

Sebaliknya, sebagai seorang film maker, Anggy Umbara yang juga Sutradara Comic ‘8’ memandang sensor yang harus dilakukan pertama kali adalah orang tua terhadap tontonan anaknya. Menurutnya, sudah menjadi hak prerogatif seorang film maker atas karya yang dibuatnya. “Terkadang film selain bermuatan pendidikan jika perlu sebagai kritik sosial, bahkan sebagai medium propaganda,” katanya menerangkan.

Ia meyayangkan industri bioskop Indonesia kurang ketat membatasi usia penonton, sehingga kerap didapati anak-anak menonton film kategori dewasa. Ia mencontohkan di Singapura setiap orang ditanya berapa usianya sebelum masuk ke bioskop.

Anggi Umbara Film Maker (Sutradara film Comic 8)
Anggi Umbara Film Maker (Sutradara film Comic 8)

Senada, Odi Mulya Hidayat Produser Film dari Maxima Pictures menyampaikan bahwa bioskop memegang peran penting dalam industri film. Dalam produksi film yang menjadi nadinya adalah berapa jumlah orang yang menonton film di bioskop. Untuk itu, ia sepakat bahwa sensor terbaik adalah keluarga , bagaimana orang tua saat mendampingi anak-anak menonton di bioskop harus benar mematuhi aturan klasifikasi film di bioskop,

“Kami sudah melakukan sensor sendiri. Ternyata banyak penonton yang tidak memperhatikan tanda klasifasifikasi usia film, “ tutur Odi Mulya Hidayat.

Ody Mulya Hidyat (Produser Film Maxima International)
Ody Mulya Hidyat (Produser Film Maxima International)

Khalid Fathoni (Kepala Bidang Pusat Pengembangan Film Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) mengatakan saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menyiapkan peraturan menteri yang mengatur agar bioskop ketat menyeleksi penonton sesuai klasifikasi film.  “Sekitar pertengahan tahun aturan ini akan keluar, sekarang sedang dibahas,” katanya.

Ia mengatakan pentingnya mendorong tumbuhnya industri perfilman. Karena jika tidak dikembangkan oleh masyarakat Indonesia sendiri, para cineas luar negeri siap mengakusisi industri film Indonesia, jika industri film Indonesia lemah.

Pendekatan bukan sanksi untuk meningkatkan industri film, memang harus difasilitasi. Industri film ini harus dibesarkan bersama, mencari titik tengah yang bisa menguntungkan semua pihak.

“Industri film Indonesia harus kuat, karena jika kita lemah maka orang asing yang akan mencuri pasar kita. Indonesia adalah pasar besar dalam Industri film, “ujarnya.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Berkaca pada kasus Via Vallen, dulu saya mengira kasus pelecehan seksual sangat susah untuk diselesaikan karena harus melawan dominasi laki-laki,...

Kadang kehidupan tidak berjalan linier. Tidak selalu berpola lahir, besar menjadi balita, sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya anak, punya cucu,...