Pelaut yang tangguh tidak terbentuk dari ombak yang tenang.

Mungkin nukilan itu bisa disematkan untuk sosok Irma Bule yang baru saja meninggal karena dipatuk ular saat manggung. Perempuan asli Sunda ini memang patut disebut  tangguh, ia berjuang mencari nafkah dengan cara luar biasa: menyayi dan berjoged berkalungkan mahluk paling berbisa di dunia. Dengan mempertaruhkan nyawa ia memadukan keindahan dan maut sekaligus dalam satu panggung.

Sebagai penyanyi dangdut, sosok Irma memang tidak setenar Zaskia Gotik pemilik goyang itik, atau Dewi Persik dengan goyang gergajinya, apalagi Inul sang ratu goyang ngebor. Suara dan wajahnya yang biasa saja memaksanya untuk bisa tampil beda supaya tidak tersingkir dari panggung. Dan tampaknya, bergoyang bersama ular kobra menjadi pilihannya.

Industri panggung hiburan memang terkadang kejam. Apalagi di dunia hiburan saat ini yang lebih gemar mengeksploitasi wajah dan tubuh: asal cantik, asal tampan. Kualitas dan kreatifitas seni tidak terlalu penting lagi. Hal tersebut tidak hanya berlaku di dunia hiburan Jakarta. Namun juga berlaku di dunia hiburan Karawang, pinggiran Pantai Utara, tempat Irma Bule biasa tampil dari satu panggung ke panggung lain.

irma bule

Di panggung-panggung yang biasanya diadakan oleh orang yang menggelar hajatan nikahan atau sunatan itu Irma Bule biasa beraksi. Sekali pentas, perempuan yang memiliki nama asli Irmawati itu hanya dibayar Rp 500 ribu. Padahal ia tidak tidak hanya bernyanyi dan berjoget, tapi sekaligus bergumul dengan ular berbisa. Penghasilan yang jelas tidak sepadan dengan kerja keras sekaligus resiko yang mesti ditanggungnya.

Tapi, itulah kenyataan, keterbatasan ekonomi membuatnya tidak banyak memiliki pilihan. Dan Irma tidak sendiri. Banyak perempuan pantura menikah di usia muda untuk bisa memperoleh KTP supaya bisa menjadi tenaga kerja wanita (TKW) berkerja sebagai buruh di negeri orang. Yang tetap bertahan di kampung halaman dengan cara mengais rejeki di bidang seni seperti Irma banyak. Mereka rela keliling dari kampung ke kampung lain menjual suara, menjual tontonan, dengan pendapatan ala kadarnya.

Bahkan ada yang rela tubuhnya dijamah para lelaki ‘hidung belang’ di atas panggung hanya untuk memperoleh beberapa ribu rupiah. Tangan-tangan binal para pria yang meraba dada atau bahkan lipatan celana atau rok biduan perempuan untuk menyelipkan duit lima ribu rupiah sudah menjadi tontonan jamak di sana.

Pun dengan Irma, di tengah tekanan tuntutan ekonomi ia menyanyi dan menari bersama bahaya. Dari sore sampai dini hari, demi sesuap nasi. Dan di ujung cerita, ia meninggal dipatuk ular, rekannya pentas satu panggung. Tanpa sengaja Irma menginjak ekor ular yang selanjutnya menggigit pahanya.

irma bule

Ibu tiga orang anak itu sempat jatuh, tapi entah kenapa dia bangkit dan seolah tidak terjadi apa-apa, ia terus bernyanyi dan menari hingga sekitar 45 menit. Ia juga menolak saran pawang untuk berhenti. 45 menit menahan sakit sambil tetap bernyayi, menari, dan menarik bibir untuk tetap tersenyum jelas hal yang sangat tidak mudah. Bahkan sekedar membayangkan saja saya tidak bisa.

Entah apa maksud Irma. Mungkin dorongan dedikasinya untuk pantang turun panggung sebelum pertunjukan usai? Atau khawatir akan ditinggal gagal pentas dan ditinggal penggemar? Atau takut bayarannya yang minim akan dikurangi? Entah.

Yang pasti usai lagu terakhir, Irma gontai turun dari panggung, roboh, dan meninggal. Racun neuro toksin king cobra menghentikan detak jantungnya.

Ketika itu publik seperti tersadar, bahwa kemiskinan yang diperparah ketimpangan sosial begitu kejam. Irma adalah contoh nyata. Toh kesadaran itu hanya sesaat, dan berhenti di riuh media sosial yang sering kali dibumbui kotbah tentang nilai serta moralitas.

Hampir tidak ada aksi nyata kecuali menebar kata-kata, tulisan, berita, dan video detik-detik Irma digigit ular.  Sampai kini adakah yang berpikir bagaimana nasib anak-anak Irma yang tak lagi memiliki seorang ibu? Bagaimana psikologi dan masa depan mereka, adakah yang berkenan peduli? Bahkan Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana menjenguk saja tidak. Jika tak sebagai pejabat, minimal sebagai sesama perempuan.

Ah begitulah kehidupan. Pejabat tetap pada kodratnya, ketika pemilihan datang ke masyarakat meminta suara. Ah Karawang ya Karawang, daerah paling melarat nomor empat di Jawa Barat. Hampir sejuta penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, namun mereka punya bupati sosialita dan kaya raya.

Dan di sudut-sudut Karawang, musik mengalun di panggung-panggung dangdut. Para biduan seperti Irma Bule akan tetap bernyanyi dan menari kembali. Mencari sesuap nasi sekaligus menghibur diri, bahwa kemiskinan akan segera pergi.

BERIKAN KOMENTAR