Sembilan perempuan memukul lesung, bertalu-talu menggemakan sebuah pertanda. Pak Presiden, tidakkah kau dengar tanda bencana bertalu di depan istanamu? Sembilan Kartini Rembang Mencari Jokowi #DemiRembang. Begitu tagar yang tersebar dan tersemat di media sosial sejumlah rekan lebih dari setahun lampau.

Begitu menggetarkan, Sembilan perempuan dengan tekad baja meyakinkan semua orang, bumi adalah ibumu. Merusak bumi, merusak ibumu juga. Begitulah kira-kira pesan yang ingin mereka sampaikan kepada masyarakat luas, bahwa bumi adalah tumpah darah yang harus dipertahankan.Tanpa ada pabrik semen di Rembangpun, mereka tetap dapat hidup. Dan selalu begitu

Mereka adalah perempuan yang menjadi simbol moral perlawanan tanpa henti, abai terhadap semua sorotan karena perjuangan adalah keikhlasan. Mereka pun menyemen Sembilan pasang kakinya untuk membuka mata sang presiden. Secercah harapan tertumpah karena ditemui pejabat istana yang bekas aktivis organisasi non pemerintah yang selama ini membela suara rakyat.Hasilnya: pabrik itu tidak mungkin dihentikan. Pabrik semen tetap jalan…

Di era yang serba-uang, kegigihan para perempuan mempertahankan harmoni dengan alam seperti di Rembang, adalah sebuah cermin kecil betapa masih banyak yang tidak bisa dibeli sekadar dengan uang. Hal itu pula yang memantik Erni Susanti Musabine, dokter hewan dan aktivis lingkungan, rela bersampan berjam-jam mengantarkan harimau Sumatera(pantheratigrissumatrae) mengarungi Sungai Seblat Bengkulu untuk diobati. Sang Raja Rimba itu mesti disehatkan di tengah pemburu yang gelap mata melihat kilauan dollar yang menginginkan kulitnya untuk industri.

para perempuan pejuang sedang bersiap mengecor kaki mereka dengan semen di depan Istana Negara. Foto: Michele
para perempuan pejuang sedang bersiap mengecor kaki mereka dengan semen di depan Istana Negara. Foto: Michele

Sederet cerita perempuan perkasa, adalah secercah cahaya kecil bahwa di negeri ini masih banyak perempuan yang pantas menyandang penerus Kartini. Perjuangan dalam senyapnya, menumbuhkan optimisme baru bahwa sebagai ibu, kehadirannya dapat membuncahkan spirit keseimbangan harus dijaga dan dilestarikan. Kritisisme mereka adalah manifestasi keseimbangan itu sendiri, seimbang antara rakyat dan pemerintah.

Perempuan dan Harmoni

Menurut penulis, untuk meringkas dan tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap para pejuang perempuan hebat lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, dalam kasus Rembang dan Sungai Seblat adalah potret perempuan yang dapat menunjukkan sebuah eksistensi di tengah masyarakat patriarkhi. Di Rembang, kegigihan mereka bertahan membuat tenda menentang pabrik semen, menumbuhkan solidaritas sosial dari kalangan lelaki (dan para suami) untuk turut bahu membahu. Erni Susanti Musabine, pun tak urung menjadi lambang perlawanan atas dominasi lawan jenisnya. Seperti kita tahu dari media massa pelaku perdagangan satwa, kulit harimau, dan gading gajah di Sumatera dan pulau-pulau lainnya adalah kaum pria!

Tentu peran perempuan luar biasa ini hendaknya dijadikan pijakan bahwa harmonisasi antara rakyat dan penguasa, manusia dengan alam, menjadi sesuatu yang elementer. Kepantasan kita sebagai bagian dari masyarakat adalah menindak lanjuti pergerakan kaum perempuan di semua lini kehidupan. Mereka telah hadir sebagai pionir ketika para pemegang kebijakan absen.

Sebagai perempuan, mereka adalah ibu yang dengan segala pendekatannya bisa jadi berbenturan dengan pendekatan dewasa ini yang cenderung berkubang dalam prosedur formal dan prosedur tetap. Sebagai ibu terkadang perspektif pendekatannya bertabrakan dengan logika kekinian, dan atas nama kebenaran, terbukti mereka menumbuhkan gerakan massif dan lintas seksis.

Pendekatan seorang ibu bertujuan menciptakan harmoni, lepas dari segala bentuk sekat formal dan prosedur menanggalkan tata krama yang menjadi keniscayaan kekinian.Tidaklah berlebihan apabila perempuan-perempuan hebat itu memberikan warga justru karena pendekatan keibuannya yang kental dengan warna welas asih.

Para petani perempuan Kendeng menanam kaki mereka pada balok semen di depan Istana Negara
Para petani perempuan Kendeng menanam kaki mereka pada balok semen di depan Istana Negara

Di tengah beban berat sebagai perempuan yang melindungi dan menegakkan rumah tangga, kita merindukan perempuan-perempuan hebat yang dapat menciptakan rumah baru yang menanggalkan sekat-sekat busuk dan telah mengakar bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Dan, selama ini pula kita banyak melupakan “rumah” itu, dan cenderung meninggalkan rumah sebagai tempat dan nilai strategis membangun bangsa ini.

Sejauh ini kita yang abai, malu menjadi kepantasan untuk diapungkan sebagai bentuk apresiasi betapa pendekatan itu amat ampuh menciptakan kembali harmonisasi yang telah carut marut di negeri ini.Para perempuan hebat itu bukanlah para nyai yang berkubang kenikmatan semu di sangkar emasnya, tetapi mereka adalah seorang perupa  yang mencoba memberi pencerahan pada kanvas bernama Ibu Pertiwi.

Menunggu Kartini-Kartini Baru

Kartini-Kartini baru harus digemakan dan terus disemai. Kelahiran berjuta Kartini baru harus menjadi bagian dari desain besar Indonesia untuk mempertegas revolusi mental menjadi darah perjuangan.Tanpa syakwasangka, terkadang kelahiran dan kehadiran Kartini-Kartini baru ini bukan karena by design tapi justru karena by accident. Ketangguhannya justru distimulasi dan digodok kondisi sekitarnya yang memungkinkan mereka terpaksa menjadi penyintas.

Penulis meyakini terdapat ratusan bahkan ribuan perempuan yang bekerja seperti kalagremet, berjuang dalam sunyi dengan segala keterbatasan mereka.Berjualan jamu gendong sambil meminjamkan buku gratis karena tiadanya perpustakaan umum di kampungnya, menjadi advocator atas penceraian akibat penindasan perempuan di perkampungan nelayan, berjuang sambil mengabaikan ucapan nyinyir dengan menanam bakau untuk kelestarian lingkungan dan lainnya.

para perempuan pejuang sedang berada di tenda perlawanan pabrik semen. Foto: michele
para perempuan pejuang sedang berada di tenda perlawanan pabrik semen. Foto: michele

Kita hanya bisa membayangkan betapa indah ketika perempuan-perempuan hebat semakin banyak yang muncul di permukaan tetapi lahir dari desain semua anak bangsa yang mencintai negerinya.Mereka sejatinya adalah pribadi-pribadi sukses yang memberikan warna kehidupan sekitarnya. Bunga-bunga Kartini itu senantiasa kita harapkan terus bermekaran dimana-mana.

Peran-peran itu begitu ikonik, menghadang dan melawan segala bentuk hegemoni dan dominasi, di tengah deraan tawaran ekonomi dan investasi. Sejenak, mari kita berbangga atas kiprah hebat itu sambil melupakan anggota dewan (perempuan) yang terlibat korupsi atau artis yang disangka sebagai pelaku prostitusi di televisi. Sembari menanggalkan seremoni basa-basi di hari Kartini, sebab subtansi lebih penting dirayakan, agar perempuan-perempuan di Rembang tak merasa sendirian…

 

Tentang penulis

Ari Ambarwati
Ari Ambarwati

Ari Ambarwati. Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Unisma. Alumni Pers Mahasiswa SAS, Fakultas Sastra, Universitas Jember

BERIKAN KOMENTAR