“Mengalami proses magic dan kreativitas yang tidak sebentar, saya berharap film dengan latar bersejarah ini bisa menginspirasi para penonton”

Demikian harapan klise sang produser film Surat Cinta untuk Kartini (SCUK) Lukman Sardi kala ditemui di Gala Premiere beberapa waktu lalu. Ideal bukan? Tetapi apakah sesederhana itu wahai Lukman?

Euforia film SCUK mulai nampak beberapa hari sebelum tanggal 21 April, pas sekali mengambil momen Hari Kartini. Saya sebagai penonton awam turut bahagia donk ya, hadirnya SCUK turut meramaikan khasanah film Indonesia berlatar sejarah. Apalagi sang idola menjadi produser di film klasik ini.

Terlebih,  film Surat Cinta untuk Kartini digadang-gadang bakal menjadi film edukasi untuk semua usia. So, berarti message yang akan disampaikan dari film ini diharapkan bisa memberikan banyak nilai, khususnya ihwal pendidikan.

Saya kok tetiba jadi teringat curhatnya Ismail Bisbeth, Sutradara film Mencari Hilal, dia bilang ada dua jenis film: pertama film bagus tapi gak populer dan kedua film populer tapi gak bagus. Jleb banget kan? Secara implisit sangat jelas bahwa selera penonton kita adalah lebih suka populer daripada film yang bermutu.

Tapi film tetap film kan ya, tak bisa berdiri sendiri tanpa sponsor, film besutan sutradara Kinoi Lubis ini pun tak urung dari yang namanya gempuran sponsor. Mungkin kalau produk lain saya gak sejengah inilah –bisa jadi- tapi ini sponsornya…. Ah tarik napas dulu, hembuskan perlahan… PT SEMEN INDONESIA…

Film Surat Cinta untuk Kartini
Film Surat Cinta untuk Kartini

Izinkan saya bercerita sedikit yah, Lukman.

PT Semen Indonesia Tbk sebelumnya bernama PT Semen Gresik Tbk.  Pabrik tersebut sekarang bergerak mengolah jutaan ton batu gamping dan tanah liat yang ditambang dari kawasan Pegunungan Kendeng Utara, Rembang, menjadi semen. Omzetnya ditargetkan sekitar Rp 3 triliun per tahun.

Sementara itu, jauh dari riuh mesin dan pekerja bangunan, di tepi jalan dekat portal masuk ke area pabrik seluas 57 hektare itu, sekelompok ibu-ibu berkumpul di tenda biru darurat. Aneka poster yang bernada menentang pendirian pabrik menyelimuti tenda berbentuk kemah itu, antara lain bertulisan: “Tolak Pabrik Semen”; “Ketika Kejahatan Tambang Merajalela, Presiden Harus Berpihak.

So, what gitu lho? Mungkin kamu akan komentar demikian.

Kalau bagi saya ekspektasi yang awalnya film Surat Cinta untuk Kartini dengan nyaris sempurna bisa menyampaikan pesan dan gagasan perempuan bernama RA Kartini lantas menjadi antiklimaks manakala yang mendanai adalah PT Semen.

para perempuan pejuang sedang berada di tenda perlawanan pabrik semen. Foto: michele
para perempuan pejuang sedang berada di tenda perlawanan pabrik semen. Foto: michele

Padahal seminggu sebelum film Surat Cinta untuk Kartini rilis 9 Kartini Kendeng bertaruh nasib bahkan nyawa membela ibu bumi mereka, rela kaki mereka berpasung semen demi memperjuangkan tanah kelahiran atau yang kerap mereka sebut dengan Ibu Bumi. Perjuangan mereka belum mencapai hasil yang diinginkan. Dua tahun sudah mereka tak gentar.

Jika kembali ke masa dua tahun lalu –tepatnya 16 Juni 2014- saat gelaran hajatan peletakan batu pertama pembangunan pabrik PT Semen Indonesia, Murtini dan lebih dari 50 perempuan nekat menggelesotkan tubuh merek ke tanah kapur. Meski dibekuk aparat setempat mereka tak gentar menghadang alat berat dan truk jumbo pengangkut material yang hendak masuk ke kawasan pabrik.

Awalnya polisi menggotong Murtini ke luar pabrik, tetapi tak lama kemudian warga Desa Timbrangan, Gunem, Rembang itu alih-alih menjauh justru masuk dan bersimpuh lagi ke dalam. Tubuh Murtini diangkat lalu dilempar ke belukar berduri. Dan Murtini tetaplah Murtini, perempuan tangguh yang dua tahun kemudian kita temui berpasung semen.

Para petani perempuan Kendeng menanam kaki mereka pada balok semen di depan Istana Negara
Para petani perempuan Kendeng menanam kaki mereka pada balok semen di depan Istana Negara

Seketika saya menjadi lemas dan mata saya tak berkedip saat membaca siapa sponsor film yang dinilai recomended oleh para penonton dan juga diapresiasi oleh banyak media. Dana yang digelontorkan untuk mendanai film sejarah perjuangan Kartini di masa lalu, tetapi justru menyederai perjuangan Kartini di masa sekarang. 9 Kartini Kendeng adalah representasi kekuatan perempuan yang secara nature melindungi bumi mereka.

Begitulah Lukman, saya sebagai penggemarmu akhirnya jadi patah hati, namanya juga industri film ya saya juga tidak bisa apa-apa selain menyayangkan dan menyampaikan kegalauan saya.  Film tetaplah film, meski fiksi ia juga membawa nilai dan kritik sosial di dalamnya.

Kalau saya boleh menyarankan tanpa bermaksud menggurui –sebagai penggemarmu- bacalah perjuangan warga Rembang, bila perlu turun dan dialog dengan mereka. Bukan apa-apa kalau saja kamu tahu sejarah mereka, bisa jadi dan mungkin saja engkau akan berubah pikiran dengan tidak menyetujui proposal iklan dari PT Semen.

Kalau saja bukan PT Semen, kisah cinta Sarwadhi dan Kartini berbalut spirit perjuangan Kartini dalam Surat Cinta untuk Kartini pasti akan terasa sangat indah. Tidak seperti sekarang, tiap kali lihat flyernya saja bayang-bayang penderitaan para Kartini Kendeng oleh pabrik semen yang muncul. Kontras!

Salam Hangat. Penggemarmu.

BERIKAN KOMENTAR