Menanggulangi Konflik Manusia-Gajah: Berbagi Ruang, Merawat Kehidupan

361
Evakuasi gajah liar terjebak lumpur untuk dikembalikan kepada kelompoknya. (Dokumentasi WCS-IP)

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), mamalia terbesar di Pulau Sumatera yang memiliki cakupan jelajah luas, belakangan sering berbenturan dengan ruang hidup manusia. Konflik itu bisa jadi dipicu oleh perubahan bentang alam akibat pembalakan liar dan pembukaan hutan untuk pertanian dan perkebunan. Laju kerusakan hutan yang terus meningkat dari tahun ke tahun mengakibatkan konflik terbuka antara manusia dengan satwa liar karena berebut ruang hidup.

Saat ini jumlah gajah Sumatera mengalami penurunan. Pada tahun 2007 terdapat sekitar 2.400-2.800 ekor gajah di seluruh Pulau Sumatra. Angka tersebut kemungkinan telah berkurang hingga setengah sekitar 1.200-1.400 ekor gajah.

“Perburuan dan perdagangan menjadi alasan di balik menurunnya populasi. Namun tidak kami pungkiri friksi gajah dengan manusia menyebabkan munculnya persepsi negatif terhadap gajah. Sehingga meningkatkan kecenderungan penyelesaian konflik dengan membunuh atau meracun. Hal ini memberikan dampak negatif pula terhadap kelestarian gajah,” kata Noviar Andayani, Country Director Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP)

Catatan WCS-IP, dalam jangka waktu 2011-2015 terdapat 18 ekor gajah menjadi korban. Sejumlah 16 ekor mati akibat perburuan dan dua ekor lainnya terluka akibat konflik manusia-gajah di Way Kambas. Tercatat 2 korban manusia akibat konflik manusia-gajah sejak tahun 2004 hingga saat ini.

Selain korban jiwa, perebutan ruang antara manusia dan gajah juga berdampak pada rusaknya lahan perkebunan warga seperti lahan jagung, padi, dan singkong. Pada Januari-Juli 2016, WCS mencatat ada 153 konflik manusia-gajah pada 7,31 hektare yang tersebar di 17 desa. Sedangkan data 2013-2015 menunjukkan total 50,71 hektar perkebunan warga dirusak gajah.

Berlatar belakang tingginya konflik manusia-gajah di bentang alam Taman Nasional Way Kambas (TNWK), WCS-IP bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Lampung, melaksanakan International Elephant Day: Journalist Trip 2016 dalam rangka memperingati Hari Gajah Sedunia. Acara ini bertujuan mempromosikan peran aktif para pihak dan instansi terkait dalam memberikan kontribusi nyata perlindungan gajah sumatera.

Menurut Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, Subakir, konflik manusia-gajah tidak dapat dihindari, namun dapat dikelola agar manusia tetap selamat dan gajah tetap lestari. “Saya mengapresiasi dan terus mendorong sikap saling mengakui keberadaan manusia dan satwa sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan yang telah muncul dari masyarakat di sekitar Taman Nasional Way Kambas,” ujar Subakir.

Sementara Landscape Manager WCS-IP Way Kambas, Sugiyo, mengatakan ada tiga penyebab penurunan populasi gajah sumatera, yakni fragmentasi dan kehilangan habitat alami gajah, pembunuhan serta perburuan bagian-bagian tubuh gajah, dan konflik sumber daya manusia dengan gajah.

“Peringatan Hari Gajah Sedunia ini adalah momentum merenungkan bagaimana masa depan hidup gajah Sumatera, mengingat kondisinya sedang terancam punah,” kata Sugiyo.

Untuk mencegah kerugian harta benda dan jiwa yang dipicu konflik satwa liar, secara swadaya masyarakat membangun gubuk-gubuk penjagaan, tempat mereka berkumpul melakukan ronda malam. Masyarakat menjaga lahan pertanian mereka pada malam hari selepas berkegiatan di ladang, sawah, dan kebun. Secara mandiri pula, masyarakat membuat parit kanal untuk menghalangi laju pergerakan gajah liar yang akan memasuki lahan garapan masyarakat.

Masyarakat mendirikan organisasi untuk menghadapi gangguan gajah liar di desa-desa di kawasan penyangga TNWK. Mereka memasukkan kegiatan penanganan konflik manusia dengan gajah di RPJMDes, melalui skema APBDes. Rencana penanganan konflik gajah disusun bersama tim kerja terpadu kabupaten. Melalui Forum Rembuk Desa Penyangga (FRDP), berbagai pertemuan, mediasi, diskusi, hingga seminar diadakan. Mereka mengajak pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan pihak-pihak lainnya, agar peduli dan membantu menyelesaikan persoalan konflik satwa liar dihadapi masyarakat.

Bupati Lampung Timur, Chusnunia Halim menyatakan kesiapannya dalam pengawalan dukungan pemerintah daerah pada pengelolaan konflik manusia-gajah. “Kami telah mengalokasikan APBD untuk membangun sarana mitigasi konflik gajah seperti kanal, tanggul, menara jaga dan alat komunikasi. Saya berharap agar masyarakat Lampung Timur dapat hidup berdampingan dengan gajah Sumatera melalui infrastruktur yang telah kami bangun,” kata Chusnunia.

Pembangunan Pusat Konservasi Gajah (PKG) dan pagar listrik bertenaga surya merupakan contoh upaya yang dilakukan pemerintah. Untuk menyamakan pemahaman dalam model dan konsep penanganan konflik manusia dengan gajah liar, pemerintah kabupaten Lampung Timur telah membentuk Tim Kerja Terpadu Penanggulangan Konflik Gajah Manusia, melalui SK Bupati Nomor 522/341/B/2008 tanggal 6 Maret 2008. Pemerintah kabupaten juga menyalurkan bantuan ekonomi bagi masyarakat, serta membangun infrastruktur berupa kanal di batas kawasan. Unit pelaksana teknis di tingkat balai taman nasional melaksanakan pengelolaan habitat serta upaya deteksi dan mitigasi konflik.

Dalam field trip jurnalis ini, pihak penyelenggara mengajak para pewarta dari berbagai media menjelajah bentang alam TNWK untuk merasakan langsung bagaimana masyarakat sekitar taman nasional dapat hidup berdampingan dengan gajah Sumatera. Selama dua hari para jurnalis mengunjungi beberapa desa. Seperti desa Braja Harjosari, Labuhan Ratu VI, Labuhan Ratu VII dan IX yang merupakan desa-desa yang menerapkan sarana mitigasi konflik manusia-gajah, seperti pembuatan kanal, instalasi drum putar, bronjong, kolam dan rumah konservasi. Selain itu, para jurnalis juga diajak melihat Pusat Konservasi Gajah dan Rumah Sakit Gajah di TNWK.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Konsep kepemimpinan ‘Servant leadership’ yang diperkenalkan oleh Greenleaf pada tahun 1970 dan ‘Authentic leadership’ menarik perhatian saya ketika...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Parasite’ adalah film Bong joon-ho yang tidak bertele-tele. Efisien. Pengenalan karakter berlangsung cepat. Plotnya gegas. Premis cerita segera...