Banyak yang bilang kalau film ini melepas kerinduan pada legendaris Trio Warkop DKI, tak sedikit pula yang bilang banyak adegan garing dan sekadar copy paste film aslinya. Apapun itu, apresiasi diserahkan sepenuhnya pada Anda.

Tiada yang bisa memprediksi sebelumnya, film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 (Warkop) meraih daya tarik jumlah penonton yang fantastik. Ini jadi bukti nyata, film lokal masih bisa berjaya di tengah serbuan film impor di bioskop dan tayangan televisi.

Antrean calon penonton, hingga hari ini, masih mengular di bioskop jaringan XXI dan Blitz di Tanah Air. Bayangkan saja, belum genap dua pekan, film Warkop telah memecahkan rekor jumlah penonton yang sebelumnya dipegang film-film populer lainnya. Di hari pertama, misalnya, film ini berhasil mengumpulkan 270 ribu penonton.

Konon, ini adalah rekor jumlah penonton terbanyak di hari pertama penayangan secara serentak, yang sebelumnya dipegang oleh Ada Apa dengan Cinta? 2 (AADC 2) lewat 200 ribu penonton. Film berbiaya produksi Rp 25 miliar ini, sudah balik modal, dan kini sedang memanen untung. Tak heran karena capaian itu film bertabur aktor berbakat ini meraih 2 penghargaan sekaligus rekor MURI.

Diprediksi, film Warkop mampu merajai Box Office Indonesia sepanjang masa. Hingga hari ke-12, telah tembus 4.687.000 penonton! Artinya Warkop Reborn berhasil menyalip rekor terlaris sepanjang masa saat ini yang dipegang film Laskar Pelangi dengan 4.631.841 penonton. Lihatlah sejumlah bioskop hari ini, film garapan Anggy Umbara ini merajai layar di bioskop. Nyaris belum ada tempat selain film Warkop. Okupansi jumlah kursi penonton per layar di tiap pertunjukan pun di atas 80 persen.

Sama seperti fim Ada Apa dengan Cinta 2 (AADC2), Warkop Reborn mencoba membangkitkan kembali film yang telah lama terkubur. Warkop Reborn dan AADC2 berhasil menjadi obat rindu para penonton yang terlanjur jatuh hati. Bedanya adalah isi cerita. AADC2 berkisah tentang asmara yang belum tuntas 16 tahun sejak film sebelumnya AADC (2002). Sedangkan Warkop Reborn adalah film di era 80-90 yang terkubur 22 tahun lamanya di layar bioskop. Penonton tentunya lebih familiar dengan personil Warkop DKI, karena sudah menelurkan 34 judul film sejak 1979.

Apa sih Lucunya Warkop Reborn?

Pertanyaan di atas terlintas di pikiran calon penonton Warkop ReborN, termasuk oleh orang yang alergi film nasional dan lebih sering nonton film asing. Sebagai penikmat film, saya cuma bilang, film ini luar biasa menghibur penonton segala umur.

Beda dengan film-film Warkop DKI (Dono, Kasino dan Indro) sebelumnya, karena sebagian pemain sudah meninggal dunia, film ini menampilkan peran Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian) dan Indro (Tora Sudiro).  Ternyata, Indro yang asli, sang pemain Warkop DKI yang masih hidup, ternyata juga turut bermain di film ini. Ia berperan menjadi ‘malaikat’ yang datang dari masa depan untuk mengganggu sifat gagap Indro.

Munculnya Indro Warkop DKI yang tampil beda, membuat kejutan di cerita Warkop Reborn. Meski ia hanya tokoh pendukung hadir di beberapa kilas adegan terpisah, tapi kehadiran Indro Warkop DKI menciptakan karakter baru yang diperankan Indro Warkop Reborn.

Seperti biasa film-film Warkop sebelumnya, sebelum memasuki alur cerita utama, ada tiga adegan komedi durasi singkat sekaligus memperkenalkan tiga pemain utama, Dono, Kasini dan Indro. Di film ini, mereka bertiga kembali bekerja di kantor Chips (Cara Hebat Ikut-Ikutan Penanggulangan Sosial). Bagi yang masih ingat film-film sebelumnya, Warkop DKI pernah memerankan kisah petugas penegak hukum, yang mengenakan kostum dan kendaraan mirip polisi.

Chips ini menjadi judul film Warkop dengan judul yang sama Chips (1982), sebagai parodi dari serial televisi populer asal AS, Chips (1977-1983). Chips (California High Patrol) yang pernah tayang di TVRI ini, adalah cerita laga action yang serius. Sementara film Chips versi Warkop DKI, jelaslah versi komedi-aksi yang mengocok perut penonton.

Sesuai dengan misinya, personil Chips harus bekerja untuk membantu dan melayani masyarakat, mirip lembaga swasta di luar institusi Polri. Tapi di tangan sutradara Anggy Umbara, justru kekonyolan dan kakacauan terus terjadi di sepanjang film Warkop DKI. Kondisi ini kembali terjadi di film Warkop Reborn. Mungkin, bagi penonton yang tak berhasil tertawa, bukan lantaran berselera humor rendah, tapi itu semata-mata karena belum menyaksikan Chips versi Warkop DKI.

Kekonyolan DKI tentu saja membuat mereka menjadi bulan-bulanan banyak orang, termasuk Bos mereka (diperankan Ence Bagus). Sampai akhirnya Sang Bos menghadirkan Sophie, seorang agen professional Chips yang cantik dari Perancis, bisa jadi ini agen rahasia DGSE dari Paris, untuk membantu tugas baru DKI menangkap para pelaku begal.

”Kamu ini apa sih? Dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus! Brontosaurus!” begitu kata-kata sarkasme khas Kasino menunjuk ke Dono. ”Kirik!” telunjuk Kasino kemudian mengarah ke Indro yang sebelumnya merasa aman dari maki-makian.

Bodoh dipiara! Kambing dipiara, gemuk!” ketus Kasino. Sekilas terdengar kasar, tapi entah kenapa, mendengar Kasino nyeletuk begitu, langsung direspon tawa penonton. Selain sarkasme, Kasino adalah personil Warkop DKI yang lihai bernyayi lagu jenaka, di antaranya ‘Nyanyian Kode’.

Bagi Anda yang pernah menonton Comic 8 Casino Kings, film garapan Anggy Umbara sebelumnya, belum akan lupa nama-nama komika dan artis yang ikut bergabung sebagai cameo dalam film ini. Ada Mongol Stres, Agus Kuncoro, Ge Pamungkas, hingga Nikita Mirzani. Bahkan, entah kenapa Anggy pun muncul sekilas di film ini, ketika adegan motor Dono menghancurkan warung milik Mongol Stres. Bagi yang mengenal wajah Anggy, itu adalah hal biasa. Tapi di sinilah kehebatan Anggy. Ia teliti pada setiap detail adegan, dan harus menambah menambah adegan durasi sangat singkat, meski cuma melongo saja. Tentu ekspresi ini cukup sulit dilakukan oleh pemeran figuran atau orang biasa.

Warkop DKI dan Warkop DKI Rebord
Warkop DKI dan Warkop DKI Rebord

Breaking the Fourth Wall 

Seorang Netizen, Dewi Yanthi Razali mengaku sudah empat kali menonton Warkop Reborn, sejak dirilis 8 September lalu. Ia membandingkan Warkop Reborn dengan film impor Central Intelligence dan Blended, yang lebih membuat hatinya terhibur melihat akting Tora, Vino dan Abi.

”Aku nonton berkali-kali karena memang bagus dan lucu banget. Aku butuh hiburan, karena itu obatku menghadapi penyakit kanker stadium empat,” kata Dewi. Menurut dia, hati yang gembira adalah obat utama menghadapi segala penyakit, terutama kanker.

Dalam dunia perfilman dan teater, terdapat suatu konsep yang disebut sebagai ‘mendobrak dinding keempat’ (breaking the fourth wall). Pada setiap film atau teater konvensional, para pemainnya biasanya wajib dibatasi oleh lakon cerita. Tapi di Warkop Reborn, breaking the fourth wall ini meruntuhkan salah satu dinding tersebut. Ini artinya, para pemain sadar bahwa ia berada dalam dunia yang tengah disaksikan oleh penonton.

Nah, konsep ini pula yang diterapkan dalam Warkop Reborn. Jadi, jangan heran jika DKI mengeluarkan sejumlah celetukan yang memperlihatkan bahwa mereka sadar tengah berada di dunia film.

Seperti saat Indro mengambil pentungan miliknya yang tertinggal di kantor. ”Wah, kalau enggak ada ini enggak continuity,” ujarnya. Atau saat Kasino mengangkat koper dari mobil yang terasa ringan. ”Pantesan, properti syuting. Enteng, ya,” kata Kasino.

Kritik Sosial yang Menggigit

“Ngobrol di warung kopi, nyentil sana dan sini
Sekedar suara rakyat kecil
Bukannya mau usil”

Warkop Reborn tampaknya ingin terus menampilkan sejumlah kritik sosial di dalamnya. Beberapa kritik sosial yang ada di film ini, misalnya adalah soal korupsi Hambalang, ormas yang gemar memeras, hingga soal kebakaran hutan.

Salah satu contoh yang menggelitik adalah kritik sosial yang ditampilkan saat DKI diadili di persidangan. Sang hakim (Agus Kuncoro) lebih mempersoalkan lukisan yang terbakar oleh kelalaian DKI, daripada kasus kebakaran hutan.

”Kalau hutan yang terbakar enggak apa-apa,” katanya sambil berteriak histeris. Mirip sekali dengan ucapan kontroversial Hakim Parlas Nababan di PN Palembang Parlas Nababan. Hakim yang mengadili kasus kebakaran hutan tersebut menyebut kejadian ini bukan kerusakan lingkungan, karena hutan bisa ditanami kembali.

Banyak generasi muda sekarang belum mengenal deretan film Warkop DKI. Apalagi, sebagian besar pemain Warkop Reborn dan juga para penontonnya, belum kenal karakter satu per satu pemain DKI. Tapi inilah letak kelucuan DKI, mereka berhasil melucu tanpa perlu mengungkap latar belakang mereka. Meski tahu mereka terlibat aktif demo Malari 1974 dan Reformasi 1998 pun, tak mengurangi tawa kita.

Semuanya ini berawal dari pengasuh Radio Prambors Jakarta, Temmy Lesanpura. Menjelang aksi demo mahasiswa 1974, aktivis mahasiswa UI Hariman Siregar diminta untuk mengisi program acara ‘Warung Kopi (Warkop)’ di Prambors. Tapi Hariman menunjuk Kasino dan Nanu, sang pelawak di kalangan kampus UI yang piawai untuk mengisi acara ini. Kasino, Nanu, dan Rudy Badil mulai siaran, lalu setahun kemudian disusul oleh Dono dan Indro.

Tahun 1973 di mahasiswa UI rajin menggelar rapat konsolidasi untuk menggelar demo kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka ke Jakarta. Dono, Kasino dan Nanu adalah aktivis yang mampu bicara dalam mimbar bebas. ”Sentilannya tidak kentara. Halus banget. Kita tahu, arahnya ke masalah hangat juga,” tutur Indro, mengenang kisah kawan-kawannya.

Demo mahasiswa pada 15 Januari 1974 pecah. Kerusuhan dan penjarahan terjadi di mana-mana, puluhan mobil dibakar, ratusan mahasiswa terluka dan belasan warga tewas. Ketika mahasiswa mengepung Pangkalan Udara Halim Perdana Kusumah, Kasino turut terdesak mundur oleh aparat. Tapi bukan Kasino, kalau tak punya akal.

Jangan pukul, Pak. Saya kan Cuma ikut-ikutan doang,” kata Kasino dengan dialeg khas-nya sehingga tentara urung memukulinya dengan tongkat.

Selepas Tragedi Malari, Warkop Prambors tetap siaran. Bertambahnya dua personil, Dono dan Indro, acara Warkop kian populer di masyarakat. Dono awalnya adalah wartawan di kawasan Salemba, sedangkan Indro adalah anak polisi yang biasa nongkrong di sekitar Prambors Menteng. Hingga akhirnya mereka mulai diajak membintangi film-film komedi yang selalu laris ditonton oleh masyarakat. Mereka mulai membintangi satu film sejak 1980-an, beberapa tahun di antaranya ada dua film Warkop sekaligus. Ini jadi bukti, setelah Nanu meninggal dan Rudi menolak bergabung karena demam panggung, Warkop DKI justru kian produktif sejak gantung mike.

Dalam buku ‘Warkop Main-Main Jadi Bukan Main’ karya Rudy Badil dan Indro Warkop, dikisahkan pada  13 November 1998 atau yang dikenal Tragedi Semanggi I, Jakarta kembali mencekam pasca-peristiwa 12 Mei 1998 yang menewaskan empat mahasiswa Universitas Trisakti, Dono ikut begabung dengan demo mahasiswa. Dosen sosiologi UI itu ingin meneruskan perjuangan kawannya aktivis Malari, Kasino, yang meninggal tahun 1997. Bahkan, di saat ribuan mahasiswa lari tunggang-langgang di dalam kampus Atma Jaya, Dono berani melawan tentara dengan menyemprotkan selang hydrant. Dono wafat pada 2001, karena sakit.

Permainan Pikiran

Kelebihan Warkop DKI di masanya dibandingkan dengan grup lawak lain, adalah tingkat kesadaran intelektualitas para anggotanya. Karena sebagian besar adalah mahasiswa, maka mereka sadar betul akan perlunya profesionalitas dan pengembangan diri kelompok mereka.

Kesuksesan Warkop Reborn tak lepas dari kerja sama tim. Butuh waktu berbulan-bulan bagi para pemain dan kru, untuk menjiwai tokoh DKI dengan warna baru. Untuk membuat penonton tergelak tawa itu, memang tak mudah tapi juga sulit. Tapi jika dilakukan diskusi dan riset kecil, maka ribuan ide kreatif muncul dan layak dikonsumsi publik. Di sinilah, Warkop Reborn dan krunya termasuk Indro, mampu memelihara proses materi humor menjadi sebuah permainan pikiran, yang hanya bisa dinikmati penonton daripada dirunut menjadi tulisan.

Harus saya akui, ada banyak adegan komedi-slapstick yang konyol dan komedi-satire yang memancing tawa di sepanjang film, seakan-akan dan terbukti menghadirkan nostalgia pada film-film Warkop DKI terdahulu.

BERIKAN KOMENTAR