Subuh belum tiba ketika tiga motor kami melaju jalanan menuju Malang. Berboncengan dengan Dadang, saya menyetir Supra X 125. Mbah Kamto menggunakan Karisma D, sedang Exsan dan Dedy bersama CB 150 R. Kami berhenti di Desa Pakis, Malang, dan beristirahat di rumah Hadi, seorang relawan Semeru.

Esoknya, usai sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju pos Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di wilayah Tumpang untuk melakukan registrasi pendakian. Di pos itu petugas memeriksa kelengkapan berkas seperti surat dokter, foto copy KTP dan mengisi formulir.

Libur panjang menyebabkan pos ramai oleh para pendaki. Mereka sampai ke pos menggunakan jeep sewaan yang diperoleh dari Pasar Tumpang. Antrian registrasi panjang. Kami baru dapat melanjutkan perjalanan pukul 10.

1
KOTA TUMPANG : Ini adalah gerbang awal menuju trayek ke desa Ranu Pane di Lumajang. Tumpang masih berada di wilayah kabupaten Malang. Di kota ini kami berhenti untuk mengisi formulir pendaftaran sekaligus mengurus ijin pendakian. Seperti biasa kita akan melihat beberapa pendaki menaiki jeep yang mereka sewa menuju Ranu Pane.

 

Perjalanan menuju Ranu Pane begitu mendebarkan dan mengasyikan. Jalanan menanjak tajam sejak Tumpang, Kunci, Gubuk Klakah, Poncokusumo, Ngadas (kabupaten Malang), Coban Pelangi, Pos Jemplang (kabupaten Probolinggo), hingga Ranu Pane (kabupaten Lumajang). Sepanjang 54 km itu kami tempuh selama 3 jam, dengan variasi jalan tak melulu beraspal.

Jalanan Poncokusumo-Ngadas dikelilingi lahan pertanian subur yang indah. Dua wilayah ini adalah perbatasan Malang dan Probolinggo bagian selatan. Di wilayah ini atmosfir Hinduisme mulai terasa. Sebagian penduduk di sini penganut Hindu. Hal itu terlihat dari deretan rumah yang dihiasi oleh janur dan kembang.

Gerbang Desa Ngadas, Poncokusumo Kabupaten Malang. Dari desa ini jalanan mulai berubah menjadi jalanan cor semen (macadam). Pemandang indah di desa Subur Ngadas, jalur yang di tengah tersebut adalah jalanan yang telah kami lewati. Terlihat rumah-rumah penduduk petani di seputar jalanan, di Tanah yang miring. Desa ini sudah masuk kawasan Desa Wisata Kabupaten Malang.
Gerbang Desa Ngadas, Poncokusumo Kabupaten Malang. Dari desa ini jalanan mulai berubah menjadi jalanan cor semen (macadam). Pemandang indah di desa Subur Ngadas, jalur yang di tengah tersebut adalah jalanan yang telah kami lewati. Terlihat rumah-rumah penduduk petani di seputar jalanan, di Tanah yang miring. Desa ini sudah masuk kawasan Desa Wisata Kabupaten Malang.

Setelah melewati Ngadas, jalanan semakin menanjak dan kami berhenti di Pos Pelangi. Ini merupakan pos registrasi TNBTS, gerbang bagi wisatawan untuk masuk ke keawasan Bromo, Semeru, dan sekitarnya. Pos ini juga merupakan pos masuk menuju Coban Pelangi, tempat wisata arung jeram. Di Pos Pelangi kami berhenti sejenak, rehat dan mendinginkan mesin. Sedari Malang kami sudah ngoyo melakukan perjalanan ngetrek menuju wilayah ini.

Pos Pelangi Bromo : Disini kami sempat rehat sebentar mendinginkan mesin motor. Pos Pelangi biasanya digunakan untuk registrasi masuk ke kawasan bromo dari arah tumpang.
Pos Pelangi Bromo : Disini kami sempat rehat sebentar mendinginkan mesin motor. Pos Pelangi biasanya digunakan untuk registrasi masuk ke kawasan bromo dari arah tumpang.
Keterangan Foto : Santai sejenak bersama anggota Tim : M.Dadang (Pekerja Maspion), Eksan Noviantu (duduk di motor CB 150 R), Sukamto, berkaos putih (EKs.Unesa, Swipper Tim) dan Dedy Raimonika (Unesa, Surabaya). Di pos Pelangi TNBTS Kabupaten Probolinggo..
Keterangan Foto : Santai sejenak bersama anggota Tim : M.Dadang (Pekerja Maspion), Eksan Noviantu (duduk di motor CB 150 R), Sukamto, berkaos putih (EKs.Unesa, Swipper Tim) dan Dedy Raimonika (Unesa, Surabaya). Di pos Pelangi TNBTS Kabupaten Probolinggo..

Menuju Ranupane, jalanan semakin menanjak tajam. Untunglah jalanan ini sudah direnovasi setahun sebelumnya. motor kami sempat tak kuat menanjak. Di Desa Jemplang, perbatasan pos pendakian Bromo-Semeru, Dadang terpaksa turun dan berjalan kaki. Tur ke wilayah Bromo memang paling nyaman menggunakan motor trail. Lebih trengginas melewati medan menanjak maupun sulit. Motor trail fleksibel di medan offroad, berbatu, maupun tanjakan ekstrim.

Perjalanan melelahkan itu berakhir di pos Ranu Pane, tepat pukul 13.40 WIB. Ini pos registrasi terakhir menuju Mahameru. Usai makan siang, kami mengantri di antara ratusan pendaki.

ANTRIAN BREIFING PENDAKI : Antrian panjang untuk breifing dari Voluntir semeru serta mendapatkan surat ijin pendakian/tiket pendakian. Disini kami terpaksa harus melakukan antrian panjang hingga pukul 10 Malam tiket pendakian baru bisa kami dapatkan.
ANTRIAN BREIFING PENDAKI :
Antrian panjang untuk breifing dari Voluntir semeru serta mendapatkan surat ijin pendakian/tiket pendakian. Disini kami terpaksa harus melakukan antrian panjang hingga pukul 10 Malam tiket pendakian baru bisa kami dapatkan.

Proses registrasi begitu lama. Kami memutuskan menginap semalam di Ranu Pane. Kami menggelar tenda. Tak memungkinkan melakukan pendakian malam menuju Ranu Kumbolo. Ada 8 orang pendaki dari Jakarta yang bernasib sama dengan kami, terpaksa menangguhkan pendakian hingga esok hari. Namun tak percuma kami bertenda di sini, tengah malam hujan turun deras. Lagi pula, esok harinya kami bisa menyempatkan diri  melihat keindahan dua dana di desa tersebut, yaitu Ranu Pane dan Ranu Regulo.

 

Danau Ranu Regulo : merupakan terusan dari Ranu Pane, posisinya bersebelahan dengan danau Pane, namun letaknya agak ke Barat. Disini pemandangannya lebih indah.
Danau Ranu Regulo : merupakan terusan dari Ranu Pane, posisinya bersebelahan dengan danau Pane, namun letaknya agak ke Barat. Disini pemandangannya lebih indah.

Sekilas Tentang Ranu Pane

Desa Ranu Pane terletak di ketinggian 2100 MDPL. Udara di sini cukup dingin, sekitar 5 – 8 derajat celcius pada musim menjelang musim kemarau. Wilayah desa yang sangat subur. Desa Ranu Pane termasuk dalam kawasan TNBTS. Karena desa ini telah menjadi desa wisata dan pendakian semeru, hal ini menjadikan sumber penghasilan bagi warga setempat. Hampir tiap bulan, selepas bulan April hingga Desember, Ranu Pane tak pernah sepi dari pendaki. Ada yang cuma ingin mendaki dan menikmati keindahan Danau Regulo, Ranu Kumbolo maupun yang hendak melakukan Summit Attack langsung ke Puncak Mahameru. Sayangnya pengelolaan wisata di Ranu Pane tidak cukup baik. Tidak semua pendaki yang datang bisa langsung melakukan pendakian ke semeru. Mereka masih harus melakukan registrasi ulang guna mendapatkan ijin dan tiket pendakian. Mekanisme lainnya juga harus melalui briefing oleh para petugas dan relawan.

Mengingat banyaknya kecelakan yang terjadi di rute pendakian Semeru,asuransi pendakian hanya sampai batas pos akhir di Kalimati. Untuk pendakian ke Puncak Mahameru, setiap tim bertanggung jawab atas keselamatannya sendiri. Hal ini cukup merisaukan bagi yang belum pernah mendaki ke Puncak Semeru.

Di Ranu Pane terdapat jasa porter yang siap mengantar siapapun, termasuk pendaki yang belum pernah sampai ke Puncak Mahameru. Jasa porter seharga sampai Rp400 ribu sekali berangkat. Mereka adalah penduduk setempat. Mereka biasa membawakan peralatan pendaki hingga Pos Kalimati. Mereka juga bisa diminta memasak dan menyajikan makanan.

Porter sekaligus guide tarifnya lebih mahal. Jasa mereka biasa dimanfaatkan turis asing untuk memandu hingga Puncak Mahameru.

Kami tak menggunakan jasa porter. Semua kebutuhan dan pemanduan kami selesaikan sendiri hingga ke Puncak Mahameru. Toh ritus pendakian Semeru sudah biasa kami lakukan. Anggota tim kami rata-rata telah berpengalaman mendaki gunung secara mandiri. Mereka mahir navigasi darat, memiliki fisik berstamina dan pandai mengatur irama pendakian. Sebagai pimpinan tim, dengan usia yang tak lagi muda, stamina saya tak sebaik anggota tim.  Saya biasa melakukan pendakian di barisan paling belakang. Saya bukan pendaki cepat. Bersama Mbah Kamto yang sudah senior, kami bertindak sebagai sweeper di barisan belakang pendakian.

 

Tentang Penulis:

Rudi Astrey
Rudi Astrey

Rudi “Idur” Astrey.  Jebolan Fakultas Sastra Universitas Jember. Pernah Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Ideas dan UKPM Tegalboto Universitas Jember. Aktif di PPMI tahun 1995 – 2000. Pernah bekerja di media Surabaya Pagi sejak 2005 – 2008. Saat ini bekerja sebagai perancang grafis di PT Maspion Group Surabaya dan mengelola Manjer Adventure.

BERIKAN KOMENTAR