Melupakan Kearifan Lokal Bernama Pranoto Mongso

882

Ada anekdot yang pernah penulis baca, tersebutlah seorang remaja di beri tantangan untuk menghasilkan uang dari sebuah lahan sawah, dengan cepat si remaja yang telah terbiasa dengan gadget memposting lahan sawah di media sosial dengan caption “Di jual sebidang tanah untuk dijadikan cluster dengan bangunan super serta nyaman untuk hunian!” Ilustrasi lahan sawah yang disulap menjadi hunian merupakan realita yang ada, irigasi yang tadinya berfungsi mengaliri sawah kini kerontang karena sawah telah menjelma menjadi hunian.

Diawali dengan makan siang, akhirnya acara yang bertajuk “Memajukan Pertanian Berkelanjutan untuk Wujudkan Hak Atas Pangan”  pada tanggal 30 Oktober di Jakarta. Beruntung penulis bisa hadir di acara ini untuk mendengarkan nara sumber yang berkompeten di bidang perpanganan, hadir juga mantan penyanyi cilik era 90an yakni Dea Ananda. Nara sumber pertama yang di kenalkan oleh moderator Sabiq Carebesth adalah Bapak Tjuk Eko Hari Basuki yang menjabat sebagai Kepala Ketersediaan Pangan Kementerian Pertanian.

Ada juga Bapak Khudori Pengamat & Pertanian FAA PPMI, dari OXFAM hadir nara sumber wanita yakni Mbak Dini Widiastuti(Economic Justice Program Director OXFAM), ada Bapak Noor Avianto yang menjabat sebagai Direktorat Pangan&Pertanian Bappenas. Kupasan nara sumber tentag pangan nasional begitu sarat informasi berharga dan inilah suatu hal yang layak di kedepankan bahwa tak serta pangan ada jika tak ada orang orang yag bejasa besar bagi hadirnya pangan di rumah kita untuk di konsumsi setiap hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kearifan Lokal itu Bernama Pranoto Mongso

Indonesia berbeda dengan tempat lain untuk urusan tanaman dan keragaman hayati, tanaman yang di miliki Indonesia beragam bukan seragam dan ini adalah modal awal pertanian berkelanjutan, potensi makanan di nusantara memiliki potensi untuk mencukupi kebutuhan konsumsi orang dengan populasi 2 milyar. Namun ada yang salah dalam pengelolaan pangan nasional dalam beberapa dekade terakhir. Salah satunya ialah menyeragaman konsep makanan pokok untuk seluruh wilayah Indonesia, padahal untuk wilayah timur seperti Papua dan juga Maluku, sagu merupakan makanan pokok yang sudah turun temurun namun di paksakan padi bagi mereka, inilah awal ketahanan pangan.

Meski memang pernah di satu ketika negeri ini mengalami swasembada beras namun itu tak berkesinambungan, setelah itu pun kita telah melupakan konsep pertanian bernama Pranoto Mongso, konsep pertanian selaras dengan alam. Pernyataan menarik dari nara sumber pertama yakni Bapak Tjuk Eko Hari Basuki memberi cakrawala baru berpikir tentang metode pertanian warisan leluhur, Pranoto Wongso mencakup aturan petani untuk memulai masa tanamnya, atau saat nelayan akan melaut dengan perhitungan bintang untuk memandu pelayaran.

Nilai nilai Pranoto Mongso kini semakin sulit di temukan, padahal konsep Pranoto Mongso memiliki keterkaitan antara Manusia, tanaman, hewan dan mikro organisme sehingga rantai makanan berjalan sebagai mana mestinya. Pusaka nusantara bernama Pranoto Mongso kian terlupakan dan pertanian Indonesia pun masih berjalan di tempat ketika negara negara lain telah membenahai sistem pertanian mereka, tak pelak lagi Indonesia pun di serbu beraneka produk impor mulai dari buah, tanaman dan gelontoran barang import berupa daging, beras, kedelai, jagung yang membuat petani kian terjepit.

Urban Society Dalam Wajah Kedaulatan Pangan Nasional

Diskusi semakin hangat dengan tampilnya Bapak Noor Avianto dari Bappenas, sisi pangan saat ini telah berubah, struktur penduduk berubah dan trend konsumsi penduduk mengalami perubahan yang cukup signifikan, produk pangan berbasis karbohidrat dan umbi umbian cenderung menurun namun untuk produk sayur dan buah justru grafik kenaikan. Sisi gizi cukup bagus dengan para meter pola pangan harapan di Indonesia mencapai 81,9%, kebutuhan energi nasional menjadi 1.967 kalori perkapita perhari, masih di bawah angka ideal sebesar 2.150 kalori perkapita.

Fakta bahwa kemiskinan memang ada dan berpengaruh untuk angka gizi kurang dan gizi lebih, struktur pertanian menjadi penting dan produktifitas pangan yang tidak stabil menjadi kendala, sebagai contoh produksi padi mempunyai range pertumbuhan sebesar 0 hingga 4 % saja. Indonesia memerluka lahan baku dengan sawah yang stabil namun faktanya kini sawah beralih fungsi menjadi perkantoran dan perumahan, selain itu perubahan iklim pun menyumbang pergeseran musim tanam. Milenium baru dengan jumlah penduduk yang terus meningkat. Urban Society melesat, kini di kampung kampung pun telah mengenal produk pangan bernama junk food. Orang menginginkan makanan jauh lebih praktis dan cepat tersaji.

Pendapat Bapak Noor Avianto ketersediaan lahan pertanian dengan target jangka panjang dan menengah perlu di lakukan siapa pun presidennya, kedaulatan pangan dengan mencakup stabilisasi panga, produksi di tingkatkan serta mitigasi kesejahteraan. Adapun langkah strategis mengamankan kedaulatan pangan dengan langkah langkah konkret seperti mencetak sawah baru, pembenahan irigasi, estimasi struktur ongkos.

Urban Society dengan pemenuhan pangan yang ideal agar mencapai nol kelaparan bagi bangsa ini membutuhkan kebijakan yang tepat, karena pada saat ini sekitar 20 juta rakyat Indonesia mengalami kelaparan setiap harinya padahal negeri kita adalah negeri agraris. Padahal sumber daya kita cukup, inilah yang harus di benahi agar pengelolaan yang salah di masa lalu dapat di perbaiki, sektor pertanian di upayakan lebih kompetitif da mempunyai daya saing global.

Karena Perempuan Ingin Dimengerti Meski Berada di Sektor Pertanian

 

 

 

 

 

 

 

 

Rajawetan yang merupakan kampung penulis dimana sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Mempunyai beberapa bata lahan sawah, satu bata setara dengan 14 meter persegi. Musim tanam dan panen adalah saat saat tersibuk bagi Emak penulis untuk mengelola sawah, berapa pupuk yang harus dibeli, berapa ekor kerbau yang harus di pakai membajak, atau persiapan panen adalah hal hal yang di urus Emak, semua di kerjakan dengan cekatan, hasil panen melimpah maka senyum Emak pun terkembang.

Perempuan sebenarnya memiliki posisi sentral dalam peranan produsen pangan, saat ini ada 14 juta keluarga petani di Indonesia, angka tersebut bisa dua kali lipat jika menyertakan perempuan. Paparan awal Mbak Dini Widiastuti dari OXFAM mengggugah ingatan kecil penulis akan Emak di kampung yang seakan memiliki fungsi manager saat musim tanam maupun panen. Seharusnya peran perempuan lebih di berdayakan, peran ibu ibu lebih di libatkan untuk menyongsong kedaulatan pangan nasional.

Perempuan cenderung lebih telaten untuk pemilihan bibit tanaman atau pun menyortir hasil panen kopi. Oxfam di Indonesia bertujuan memperjuangkan hak perempuan atas tanah, mendukung wanita untuk akses terhadap sumber daya alam serta sumber daya produktif. Selain itu memberikan promosi kepemimpinan yang tepat kepada perempuan dalam mata rantai nilai serta pengambilan keputusan pada usaha yang di jalani.

Wanita juga berdaya dalam kelompok kelompok pertanian, anggota parlemen perempuan dan instansi pemerintahan, mendukung pemeritah melalui advokasi terhadap kebijakan-kebijakan publik dan kesetaraan gender. Adalah satu kenyataan di depan mata bahwa 11,13% penduduk di Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan(BPS, September 2015) dan adalah penting bagi pemerintah medukung strategi pengentasan kemiskinan di nusantara dengan melibatkan banyak peran perempuan

Zaman telah berubah, saatnya mengakhiri segala bentuk diskriminasi terhadap semua perempuan dan anak perempuan di mana saja, dalam target jangka panjang di tahun 2020. 2,5 juta perempuan dan laki laki di Indonesia terus di berdayakan untuk mengatasi kemiskinan, kerentanan dan kesetaraan. Perempuan pun harus terlibat aktif agar cita cita kedaulatan pangan di Indonesia bisa tercapai, pokoknya mah hidup Emak dan juga perempuan perempuan di seluruh Indonesia!

Revolusi Hijau dan Dampak Degradasi Tanah

Indonesia pernah mengalami swasembada pangan pada edisi tahun 1984 hingg 1989, setelah itu pencapaian swasembada seakaqn mati suri. Perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budi daya pertanian dan ekploitasi atas tanah yang pada akhirnya tanah menjadi sakit, mikro organisme di bawah tanah mati karena serbuan penggunaan pestisida yang tak terkendali, rantai pangan pun terputus sehingga produksi menurun.

Menurut Bapak Khudori yang menjadi nara sumber, sudah saatnya mengakhiri kemiskinan dengan mengedepankan keadilan tentang tanah karena ini erat hubungannya dengan soal pangan, konsumsi dan distribusi. Di satu sisi penduduk terus bertambah, kelas menengah mengalami kenaikan jumlah yang cukup signifikan dan daya beli pun bertambah. Di tahun 70an dan 80an ekploitasi terus menerus, produktifitas hasil pangan memang luar biasa tapi di sisi lain di dua dekade berikutnya kualitas tanah terdegradasi.

Saat ini produktifitas berasal dari luas panen,kenaikan produksi seharusnya berasal dari  produktifitas, kini lahan semakin kecil dengan menghasilkan petani petani gurem. Saat ini di Indonesia mengalami krisis sumber daya manusia di bidang pertanian, petani sudah beranjak tua dan kaum muda semakin enggan berada di sektor pertanian. Belum lagi perubahan iklim yang menggangu musim tanam, musim kering 40 hari lebih cepat sedangkan musim hujan 40 hari lebih lambat, biasanya bulan April-Oktober adalah musim kemarau namun terjadi anomali, banjir pun menjadi persoalan bagi petani kita. Hutan rusak serta tutupan air di lereng gunung semakin berkurang sehingga ketersediaan pasokan air menyusut.

Revolusi Hijau selama 14 tahun di upayakan dengan konversi lahan sangat besar dngan membuka lahan secara sembarangan, ketergantungan paket teknologi yag melupakan kearifan lokal, akhirnya menghilangkan varietas unggulan lokal yang tahan terhadap gempuran hama,dari semua itu degradasi lahan dan lingkungan menjadi keniscayaan. Sudah saatnya kini menerapkan sistem pembangunan Eco Region, pilar pertanian terdiri dari ketangguhan ekonomi, ekologis dan sosial menawarkan konsep pertanian lebih humanis.

Ketangguhan agro ekologi jauh lebih progresif dan prodktifitas tinggi. Saat penjajah Belanda bahwa pengembangan pangan berdasar riset budi daya, kenapa Jawa banyak kebun tebu sedangkan Sumatera di intensifkan perkebunan sawit? Jawabannya bahwa karakter tanah di Jawa cenderung menerima tanaman tebu sebagai varietas unggulan, begitu pun sawit mengapa di tanam di Sumatera. Di perlukan pemetaan wilayah agar tidak terjadi pemaksaan penanaman tumbuhan di daerah tertentu yang sebenarnya cocok untuk tumbuhan lain.

Konsep pertanian untuk kedaulatan pangan nasional tak ada lagi penyeragaman komoditas, secara khittahnya tanah nusantara menerima keberagaman tanaman. Tapi sayangnya isu pertanian sering kali luput dari para kontestan pilkada, isu pangan bukanlah hal yang seksi untuk janji kampanya para calon pemimpin daerah, sehingga sektor pertanian relatif tertinggal di banding isu kesehatan misalnya.

Ke depannya pemerintah semestinya memperhatikan keragaman tanaman, jangan paksa daerah Papua untuk di jadikan lahan bertanam padi karena secara kultural Sagu adalah tanaman ideal bagi wilayah timur Indonesia, basis pangan secara berangsur angsur pindah ke luar Jawa, karena saat ini Jawa masih menjadi beban untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional. Selain itu jangan ada monopoli pada pasar pangan agar konsumen punya daya beli.

Dea Ananda Selebriti yang Mencintai Makanan Lokal

Gegara boyband dan girl band Korea yang begitu ngehit eh jadi ikut ikutan latah menyukai kimchi, karena pengen di sebut keren maka mengkonsumsi lah burger, pizza dan sederet makanan import, mengesampingkan tempe karena di anggap nggak keren. Hal itu tidak berlaku bagi Dea Ananda seorang mantan artis cilik di era 90an bersama Trio Kwek Kweknya, Dea Ananda semenjak kecil di kenalkan Mamanya dengan makanan lokal seperti tahu dan tempe, karedok leunca ataupun sop kembang tahu.

Meski selebriti ternyata Dea tak segan menikmati belanja di pasar tradisional untuk membeli sayuran lokal. Masa kecil di lalui Dea dengan mengenal pangan lokal dan juga masakan sehari hari seperti sayur asem serta tempe bacem untuk bekal sekolah, sering kali ia di tertawakan karena membawa bekal karena berisi tempe bacem atau tempe goreng.

Kepedulian Dea Ananda terhadap makanan lokal patut di apresiasi, apapun jenis makanan tradisional haruslah di cintai dengan sepenuh hati, karena siapa lagi kalau bukan kita yang menyukai pangan lokal, nyuruh bangsa lain untuk peduli makananan dan pangan lokal? Rasanya nggak mungkin banget, terima kasih Dea Ananda dengan pengalamannya mencintai pangan lokal, jayalah pangan Indonesia. (Foto: Pixabay&Pribadi)

 

Topik Irawan

Pemenang Lomba Bloger Media Talk FAA PPMI

 

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Ada anekdot yang pernah penulis baca, tersebutlah seorang remaja di beri tantangan untuk menghasilkan uang dari sebuah lahan sawah, dengan...

Kesadaran seperti apa yang kita harapkan dari ruang-ruang penjara kumuh penuh sesak, dari para sipir yang semena-mena menyiksa namun sekaligus...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...