Bagaimana Memasyarakatkan Isu Pangan?

196

Walaupun belum terlalu banyak dan masif, saya bersyukur dengan bermunculannya sektor-sektor yang membicarakan isu pangan pada masyarakat. Salah satunya diskusi media Memajukan Pertanian Berkelanjutan untuk Wujudkan Hak atas Pangan yang dilaksanakan Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) bekerja sama dengan Oxfam Indonesia, Minggu (30/10).

Pangan adalah salah satu isu paling dasar bagi keberlanjutan hidup manusia, tapi sering dianggap sekilas lalu dan dipandang sebelah mata. Padahal jika dibahas lebih dalam, ada banyak tantangan yang harus diselesaikan dalam sistem pangan dan pertanian kita. Bukan hanya di Indonesia, namun secara global di bumi tempat kita berpijak ini.

Saya mengumpamakan ini dengan ungkapan “merebus katak”. Katak di dalam wajan panas awalnya tak merasakan perubahan suhu. Ia baru bereaksi panik setelah air mencapai titik didih. Namun terlambat, hendak melompat pun kepayahan, sehingga jadilah katak itu terebus.

Manusia mungkin menganggap pangan hal biasa. Rutin menyantap makanan 2-3 kali setiap hari, namun tidak menaruh perhatian lebih terhadap apa yang dimakan. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Dari mana kita mendapatkan makanan?” “Bagaimana makanan itu diproduksi?” “Bagaimana kualitasnya bagi kesehatan?” “Bagaimana pengaruhnya bagi (kerusakan) lingkungan?” “Bagaimana hubungannya dengan aspek sosio-kultural?” “Bagaimana hubungannya dengan akses sumber daya dan kesetaraan?” jarang kita perhatikan. Seperti katak dipanaskan yang tidak merasakan perubahan suhu di sekitarnya, padahal membawa potensi masalah yang akan memayahkan dirinya di kemudian hari, dan baru akan disadari ketika terlambat.

Isu pangan sesungguhnya bukan sekedar makanan apa yang masuk ke mulut, tetapi merupakan sebuah sistem yang berkaitan. Mulai dari produsen hingga konsumen dalam rantai suplai.

Isu pangan juga sesungguhnya juga sebuah sistem ekologi dalam lingkup alam yang lebih luas. Jika sistem ini bergerak menuju arah yang salah dan tidak ada upaya perbaikan, maka dampaknya baru akan dirasakan kemudian.

Maka, upaya-upaya memasyarakatkan isu pangan perlu didukung. Bukan hanya pada sektor produsen, tetapi juga sektor konsumen yang merupakan bagian besar dari masyarakat Indonesia. Dengan demikian diharapkan pengambilan keputusan terhadap isu pangan mulai dari lingkup yang paling kecil, individu hingga ke rumah tangga dan komunitas, termasuk negara tidak lagi sekedar taken for granted. Upaya-upaya tersebut diarahkan agar terciptanya agrarian citizenship, yaitu kesadaran kewarganegaraan akan sistem agraria yang menghubungkan kembali metabolisme sosial dan ekologis, antara berbagai aktor dalam rantai suplai (produsen, distributor, konsumen) termasuk dengan lingkungan dan alam ini (Witmann, 2011).

Lalu  bagaimana dan apa yang perlu kita sampaikan bagi masyarakat luas mengenai pangan? Pertama, perlu diberikan kesadaran atas potensi kerusakan sistem pangan yang ada bagi masyarakat, karena hal ini yang menyentuh mereka langsung secara personal. Oleh karenanya, setidaknya dua hal yang menjadi perhatian penting adalah masalah kesehatan dan lingkungan.

Produk industri pangan yang berbentuk junk foodbig food, dan/atau ultra-processed food sudah mulai mendominasi pasar Asia. Salah satu laporan bisnis (Transparency Market Research) menyatakan bahwa pasar fast food global yang bernilai USD 477,1 milyar di tahun 2013, diprediksi akan mencapai USD 617,6 milyar di 2019 (CAGR 4,4%) (PR Newswire, 2015). Pasar akan berpindah dari negara-negara dengan pendapatan tinggi seperti Amerika Utara atau Eropa, ke negara-negara berpendapatan menengah (PR Newswire, 2015; Monteiro, C.A, et al. 2013). Salah satunya karena penduduk negara-negara itu mulai sadar akan kesehatan makanannya (Monteiro, C.A, et al. 2013).

Sepuluh korporasi makanan dan minuman terbesar di dunia – Nestlé, Pepsico, Unilever, Coca Cola, Mondelez, Mars, Danone, Kellogg, Associated British Foods dan General Mills – diperkirakan mengontrol seperempat dari USD 2,2 triliun. sementara 100 perusahaan terbesar menguasai tiga perempat seluruh penjualan sealam dunia ini (ETC Group 2011; Economist 2012; Lang, Barling, and Caraher 2009 dalam Scrinis, G, 2016).

Padahal efek negatif yang dihasilkan dari produk-produk tersebut sudah mendapat perhatian berbagai penelitian kesehatan. Minuman dengan pemanis-gula (sugar-sweetened beverages, SSB) dan makanan kemasan yang diproses (processed foods) dengan kadar gula, garam, lemak tinggi termasuk dalam kategori big food. Produk SSB menjadi penyebab utama obesitas pada anak, kelebihan berat badan jangka panjang dan yang berkaitan dengannya (Stein, AD, Thompson, AM, Waters, A, 2005 dalam Stuckler, D and Nestle, M (2012), diabetes tipe-2, kardiovaskuler (Patel, 2008; Doak, C., Adair, LS and Bentley M., 2005 dalam Stuckler, D and Nestle, M, 2012). Belum lagi jika kita berbicara mengenai GMO (genetic-modified organism) atau glyphosate yang juga memberikan dampak, bukan hanya kesehatan manusia, tetapi juga kesehatan lingkungan.

Dari sisi lingkungan, sektor pangan termasuk kontributor emisi global. Hal ini diungkap oleh kajian Sonja J. Vermeulen, dkk (2012) berjudul Climate Change and Food System yang menyatakan bahwa seluruh proses pada sistem pangan akan menghasilkan emisi gas rumah kaca. Secara global sistem pangan berkontribusi 19 – 29 % atas emisi gas rumah kaca antropogenik (hal-hal yang dilakukan akibat aktivitas manusia). Sedang 80% di antara emisi tersebut terjadi dalam proses produksi.

Bahkan, La Via Campesina, organisasi payung petani kecil dunia yang menyuarakan platform kedaulatan pangan memberi gambaran lebih tinggi. Dalam salah satu publikasinya dinyatakan bahwa sistem pangan saat ini menyumbang 44 – 57% dari emisi global dengan komponen: deforestasi untuk pembukaan lahan, proses pertanian, transportasi, pengolahan dan pengemasan, penyimpanan (dingin) dan ritel, serta sampah makanan. Sensus Pertanian 2013 dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyatakan bahwa sektor pertanian termasuk dalam sektor penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia.

Hal ini merupakan hasil dari sistem pangan dan pertanian yang bersifat produksionis dan industrialis. Menilik sejarah, ini adalah salah satu dampak sistemik dari sistem monokultur yang digalakkan sejak revolusi hijau, mekanisasi dan kimiawisasi pertanian, hingga sistem perdagangan pertanian lintas negara dan benua dengan rantai pasok yang panjang dan aktor korporasi besar di dalamnya. Akibatnya ada beban melingkar bagi sektor pertanian. Selain sebagai kontributor rumah kaca terbesar, juga yang akan terdampak signifikan dari perubahan iklim (Nasution, 2016).

Oleh karenanya dibutuhkan hal kedua, yaitu pemahaman dan sokongan bagi pertanian berkelanjutan. Gerakan kedaulatan pangan menyerukan revitalisasi masyarakat pertanian untuk menghubungkan kembali praktek agrikultur dengan ekologi, dan kultur dengan metode agroekologi untuk tidak mengukur pertanian hanya dengan rasionalitas efisiensi ekonomi modern (Wittman, 2010). Hal tersebut dipraktekkan dengan pemanfaatan keanekaragaman hayati, input eksternal yang rendah, dan mekanisme panen yang memaksimalkan ekosistem dan resiliensi yang lebih baik. Secara spesifik, kedaulatan pangan menganjurkan agroekologi yang menolak penggunaan praktek-praktek yang merusak ekosistem, tanaman monokultur, boros energi, fabrikasi peternakan dan berbagai metode industrialisasi lain (Akram-Lodhi, 2015).

Altieri (2011) mengikhtisarkan lima fitur penting dari agroekosistem tradisional sebagai berikut (Altieri 2004; Koohafkan and Altieri 2010):
1. Tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi memainkan peran dalam mengatur fungsi ekosistem dan juga dalam menyediakan layanan ekosistem penting secara lokal dan global;
2. Sistem dan teknologi yang ingenious untuk pengelolaan dan konservasi sumber daya lanskap, lahan, dan air dapat digunakan untuk meningkatkan pengelolaan agroekosistem;
3. Sistem agrikultur yang bervariasi berkontribusi pada ketahanan pangan dan mata pencaharian lokal dan nasional;
4. Agroekosistem yang menunjukkan resiliensi dan ketahanan untuk beradaptasi dengan gangguan dan perubahan (akibat manusia dan lingkungan) yang meminimalisasi risiko di tengah variabilitas;
5. Agroekosistem yang dipelihara dengan sistem pengetahuan tradisional dan inovasi serta teknologi petani; sosiokultural yang diatur oleh nilai-nilai kultural yang kuat dan organisasi sosial yang bersifat kolektif termasuk institusi adat untuk pengelolaan agroekologis, pengaturan normatif untuk akses sumber daya dan pembagian manfaat, sistem nilai, ritual, dll.

Hal ini untuk mengembalikan resiliensi sistem pertanian terhadap perubahan lingkungan, juga untuk menggalakkan kembali keberagaman panganan yang ada sesuai kultur tiap daerah. Tidak seperti sistem pangan global industrialis yang hanya berfokus pada kurang dari 20 spesies ternak dan tanaman (Toledo and Altieri, 2011 modifikasi dari Rosset et al, 2011 dan ETC, 2009), dan menurut catatan FAO 12 tumbuhan dan 5 spesies hewan mendominasi 75 persen dari makanan dunia saat ini (FAO, 2012).

Pertanian berskala kecil cocok dengan prinsip agroekologi yang didasarkan pada konsep dan prinsip ekologi yang tidak bergantung banyak pada input eksternal dengan menggunakan proses-proses alamiah serta menggunakan sistem komplementasi antara integrasi tanaman – hewan dengan dukungan cahaya matahari, air, sumber daya tanah dan pengaturan hama yang alami (Altieri, Miguel A. and Nicholls, C.I., 2012). Pertanian yang berkelanjutan dengan prinsip agroekologi juga lebih bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Karena didasari prinsip ekologi, pertanian tersebut bekerja dengan sistem biologis alamiah dengan siklus simbiosis dan proses interkoneksi (Lang, T. & Heasman, M, 2004). Agroekologi tidak menggunakan input kimia yang dapat membahayakan kesehatan.

Sementara itu, aspek yang ketiga adalah mulai mendorong masyarakat konsumen untuk menumbuhkan sikap konsumerisme refleksif serta membangun aliansi dan solidaritas dengan masyarakat produsen lokal yang telah mulai menerapkan pertanian berkelanjutan. Kelompok konsumen seharusnya memperhatikan produksi pedesaan, peduli terhadap sistem pangan lokal, dan mempromosikannya sebagai gaya hidup. Hal ini menjadi penting sehingga tidak hanya produksi pangan lokal yang didorong untuk maksimal, tetapi juga butuh penginformasian kepada konsumen untuk menyerap produk lokal tersebut (wawancara dengan perwakilan Serikat Petani Indonesia dalam Nasution, 2015).

Francis, dkk (2003) menyebutkan istilah “closing a loop” yaitu mengedukasi konsumen mengenai pola pertanian berkelanjutan yang sering terlupakan dalam program. Secara bertahap, mereka menyatakan, lebih banyak konsumen harus diedukasi tentang pemahaman mengenai hubungan antara makanan mereka, pertanian, kesehatan dan lingkungan. Setelah mereka terpapar informasi, mereka akan lebih menerima isu-isu berkaitan dengan sistem pangan lokal, hingga kebun komunitas, posisi pertanian, pengomposan, produk organik dan community supported agriculture, termasuk fungsi dan layanan ekosistem yang lebih kompleks. Di samping itu, edukasi konsumen harus menyertakan tentang bagaimana pertanian dapat dilakukan dengan sistem yang berkelanjutan tanpa pupuk dan pestisida kimia di saat yang sama juga mereka melindungi ekosistem yang berperan sebagai penjaga lingkungan, dan memberi perhatian terhadap kesehatan dan keamanan pangan konsumen. Dengan demikian,
Konsumen dapat diyakinkan ketika mereka melakukan pilihan untuk membeli makanan yang diproduksi dengan cara demikian. Edukasi lebih lanjut tentang bagaimana makanan diproduksi, dari mana, oleh siapa, dan dalam kondisi apa akan mempengaruhi keputusan mereka (ibid).”

Terakhir dalam tulisan ini, isu pangan tidak dapat dipungkiri adalah proyek yang juga menuntut kesadaran politis. Sebagai isu yang juga politis, harus melibatkan banyak pihak untuk mendorongnya menjadi kesadaran publik. Peran individu, termasuk perempuan yang berkontribusi besar pada proses produksi pertanian hingga pengambilan keputusan mengonsumsi dalam rumah tangga, aliansi dan komunitas, dibutuhkan selain untuk menumbuhkan kesadaran, juga untuk mendorong kemauan politis pemerintah agar tidak memandang isu pangan dengan sebelah mata. Termasuk juga, agar tidak hanya berfokus pada kuantitas makanan yang disediakan, tetapi pula kecukupan gizi, keanekaragaman, kesesuaian dengan kearifan lokal dan sistem pertanian berkelanjutan, dan paling penting juga adalah akses dan distribusinya.

 

Penulis adalah Zulfadhli Nasution, Pemenang Lomba Bloger Media Talk FAA PPMI

 

Referensi:

Witmann, Hannah (2011) “Food Sovereignty: A New Rights Framework for Food and Nature?” Environment and Society: Advances in Research 2: 87–105

Monteiro, C.A, et al (2013) ‘Ultra-processed products are becoming dominant in the global food system’, obesity reviews 14 (Suppl. 2): 21 – 28

Nasution, Z (2016) ‘Perubahan Iklim, Kedaulatan Pangan dan Kesadaran Konsumen’, http://binadesa.org/perubahan-iklim-kedaulatan-pangan-dan-kesadaran-konsumen/

PR Newswire (2015) ‘Fast Food Market to reach US$617.6 billion by 2019, Driven by Increasing Demand from Asia Pacific: Transparency Market Research’, http://www.prnewswire.com/news-releases/fast-food-market-to-reach-us6176-billion-by-2019-driven-by-increasing-demand-from-asia-pacific-transparency-market-research-528168601.html

Scrinis, G (2016) ‘Reformulation, fortification and functionalization: Big Food corporations’ nutritional engineering and marketing strategies, The Journal of Peasant Studies, 43:1, 17-37, DOI: 10.1080/03066150.2015.1101455’

Stuckler, D and Nestle, M (2012) ‘Big Food, Food System, and Global Health’, PLoS Medicine 9(6): 1 – 4

Akram-Lodhi, A.H. (2015) ‘Accelerating Towards Food Sovereignty’, Third World Quarterly 36(3): 563-583

Altieri MA (2004) Linking ecologists and traditional farmers in the search for sustainable agriculture. Front Ecol Environ 2:35–42

Altieri, Miguel A. and Nicholls, C.I. (2012) Agroecology Scaling Up for Food Sovereignty and Resiliency. Sustainable Agriculture Reviews, Sustainable Agriculture Reviews 11, 1 DOI 10.1007/978-94-007-5449-2_1

FAO (2012) Smallholders and Family Farmers (factsheet), http://www.fao.org/fileadmin/templates/nr/sustainability_pathways/docs/Factsheet_SMALLHOLDERS.pdf

Koohafkan P, Altieri M. A. (2010) Globally important agricultural heritage systems: a legacy for the future. Rome: UN-FAO

Lang, T. & Heasman, M. (2004). The Food Wars Tthesis. In Lang, T. & Heasman, M. Food wars: The global battle for mouths, minds and markets (pp. 11-46). London: Earthscan

Toledo, V. and M. Altieri (2011) ‘The Agroecological Revolution in Latin America: Rescuing Nature, Ensuring Food Sovereignty and Empowering Peasants’, The Journal of Peasant Studies 38(3): 587-612

Wittman, H (2010) “Reconnecting Agriculture and the Environment: Food Sovereignty and the Agrarian Basis of Ecological Citizenship” in H. Wittman, A.A. Desmarais, N. Wiebe (eds.) Food Sovereignty: Reconnecting Food, Nature and Community, 91-105. Oxford: Pambazuka

Francis, C., G. Lieblein, H. Steinsholt, T.A. Breland, J. Helenius, N. Sriskandarajah et al. (2005) ‘Food Systems and Environment: Building Positive Rural-Urban Linkages’, Human Ecology Review 12(1): 60-71

Nasution, Zulfadhli (2015) ‘Indonesian Urban Farming Communities and Food Sovereignty’ Research Paper, International Institute of Social Studies, the Hague.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Konsep kepemimpinan ‘Servant leadership’ yang diperkenalkan oleh Greenleaf pada tahun 1970 dan ‘Authentic leadership’ menarik perhatian saya ketika...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Parasite’ adalah film Bong joon-ho yang tidak bertele-tele. Efisien. Pengenalan karakter berlangsung cepat. Plotnya gegas. Premis cerita segera...