Refleksi Mewujudkan Hak dan Ketersediaan Pangan

112

Sebagai orang yang lahir dan besar di desa, keseharian saya dulu tak lepas dari sawah luas membentang. Ayah saya seorang guru SD, ikut menggarap sawah kakek seluas dua hektare. Ketika saya duduk di bangku SMP, mulai diajak ke sawah menjelang dan pada saat panen tiba. Tugas saya tak terlalu berat, menunggu padi agar tak dimakan burung.

Namun entahlah, meski semasa kecil kerap ke sawah, saya kurang tertarik menjadi petani. Setelah lulus sekolah atas, merantau menjadi pilihan seperti pemuda desa lainnya. Kini hampir seperempat abad berlalu, kaki ini berpijak bukan pada tanah kampung halaman. Saat mudik baru saya lihat sendiri, perubahan terjadi di tanah kelahiran. Lahan sawah mulai tergerus, berdiri bangunan rumah atau pertokoan. Pun sawah kakek saya, dibagi sebagai tanah warisan untuk anak-anaknya termasuk ibu saya. Setelah dibagi dalam kavling, beberapa kavling mulai berpindah tangan.

****

Suatu hari, saya berkesempatan hadir, dalam Media Talk “Memajukan Pertanian Berkelanjutan untuk Wujudkan Hak Atas Pangan”, diselenggarakan pada 30 Okt’16 oleh FAA PPMI (Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Membuka pengetahuan baru, sedikit tentang ketahanan dan ketersediaan pangan.

Pertanian berkelanjutan, sebagai salah satu kunci menjamin hak rakyat atas pangan. Bagaimana pertanian berkelanjutan dikelola, sejauh mana pemenuhan hak rakyat atas pangan dipenuhi. Pertanian berkelanjutan, sebagai salah satu kunci menjamin hak rakyat atas pangan. Bagaimana petanian berkelanjutan dikelola, sejauh mana pemenuhan hak rakyat atas pangan dipenuhi.

Tjuk Eko Hari Basuki, Kepala Pusat Ketersediaan Kerawanan Pangan Kementrian Pertanian, menyampaikan ” Ketahanan pangan adalah ketahanan negara, pangan bukan sekadar makanan tapi keberlangsungan hidup manusia”. Ada pandangan dengan jumlah penduduk yang banyak, bumi sudah tidak mampu menampung kebutuhan makanan penduduk yang ada. Dalam salah satu teks lama tercatat, “Sinar matahari mampu memberikan makanan, bahkan bisa memenuhi kebutuhan sampai 1 trilun orang”.

Indonesia memiliki kasus agak berbeda, pertama negara dengan sumber keragaman hayati sangat luas. Dulu kalau menanam tanaman pangan, meskipun banyak tapi tidak seragam. Dalam sejengkal tanah di Indonesia, bisa ditanam bermacam tanaman.

Untuk pangan lokal di Indonesia juga beraneka ragam, seperti Masyarakat Papua dan Maluku konsumsi sagu. Konon sagu bakal tidak habis, karena bisa hidup sendiri tanpa ditanam. Siklus tumbuhnya sagu, dalam jangka waktu limabelas tahun akan tumbuh sendiri. Frame tentang pertanian harus dirubah, pertanian terdiri dari tanaman, hewan dan juga mikroorganisme. Semua harus saling menghidupi yang ada, karena setiap unsur memiliki keterikatan.

Pada pelaksanaan kearifan lokal, di Jawa ada ilmu Pranoto Mongso. Dalam huruf kawi (jawa kuno), tersurat konsep “Memayu hayuning Bawono” atau memberi ruang hidup untuk semua. Ilmu Pranoto mongso, sebagai panduan jadwal menanam tanaman yang berbeda. Ada masanya menanam padi, ada masa menanam tanaman lainnya. Sehingga pada tanah yang sama, padi bisa tumbuh, kedelai tumbuh dan mikroorganisme hidup.

Pada point itu, saya jadi ingat kebiasaan kakek dulu. Waktu masih kecil, sering melihat kakek membuat upacara sederhana. Tumpeng kecil dengan lauk pauk sederhana, dibuat sesaji ketika panen. Kalau panen berlimpah, nenek memuji-muji nama “Dewi Sri” (ratu padi). Saya benar-benar tak paham, tapi begitu yang terjadi.

Upaya menghadirkan bahan pangan dengan harga murah seolah menjadi utopia, tetapi kita tidak sadar ada berjuta-juta mikroorganisme. Mikroorganisme hidup dalam tanah, ada mekanisme yang terjadi secara alami. Seperti pupuk tidak langsung diserap oleh tanaman, tapi diproses oleh berbagai macam mikroorganosme kemudian diserap tanah.-
“Kalau mau sustainable, kita harus maju ke belakang–kembali ke belakang–.

Pranoto mongso tidak sekadar hitungan matahari dan bulan, tetapi ada angin, temperatur, bintang . Menamam tidak harus pagi, tetapi bisa sore atau malam. Hitungan matahari, menanam padi tidak harus pagi hari'” Tegas Pak Tjuk. Pertanian tidak boleh dipersempit, hanya untuk pangan saja. Tanaman jangan dipersempit, hanya tanaman pangan saja. Tetapi tanaman penghasil apapun, yang mampu mendukung pangan. Sudah saatnya setiap orang memanfaatkan lahan sekitar, agar menghasilkan oksigen. Oksigen adalah sumber, yang menjaga keberlangsungan hidup.

***

1-pangan

 

 

 

 

 

 

 

Acara Media Talk semakin seru, dilanjutkan pembicara kedua Nur Adyanto Direktorat Pangan dan Pertanian dari Bappenas membahas tema “Pertanian dari sisi produksi.
“Ketika bicara pangan, berarti bicara masalah penduduk sebagai orang yang makan. Penduduk Indonesia yang kian meningkat, dibarengi dengan perubahan struktur. Saat ini terjadi, peningkatan jumlah penduduk kelas menengah. Treatment konsumsi pangan penduduk, otomatis juga berubah.

Konsumsi pangan dengan kandungan karbohidrat umbi-umbian menurun, tapi untuk sayur dan buah terjadi peningkatan. Pola Pangan Harapan di angka 81.9, sedang konsumsi energi 1.967 dibawah rekomendasi ahli yaitu 2.150” Jelas Nur Ardyanto. Saya merasakan dejavu, beberapa bulan lalu sedang melakukan program diet. Memperbanyak makan buah dan sayur, sembari mengurangi asupan karbohidrat, gula dan minyak.

Pada sisi lain tidak bisa menutup mata, bahwa angka kemiskinan masih ada. Secara data terjadi penurunan, namun kemiskinan sangat rawan untuk konsumsi pangan. Produksi pangan tidak stabil , data produktifitas pertumbuhan 0.4%. Lahan baku sawah relatif stagnan, secara faktual di lapangan banyak sawah yang tidak terkelola. Perubahan iklim terjadi, pergeseran musim tanam tentu berdampak pada pola produksi.

Bagaimana ke depan ?
Diperkirakan terjadi peningkatan, Pada tahun 2025 jumlah penduduk 284 juta, dibarengi peningkatan kelas menengah dan urban society. Penduduk perkotaan akan diserbu makanan junk food, orang banyak makan roti. Pada sisi lain standart kualitas makanan juga meninggi, memburu makanan segar atau olahan organik premium, sehat, halal dan aman.

Kalau tidak bisa mengikuti, hak atas pangan untuk kedaulatan pangan sulit tercapai. Pasar yang besar, akan dikuasai produsen negara lain. Aspek terpenting adalah ketersediaan lahan pertanian, harus menjadi concern. Arah Pembangunan jangka panjang, dijabarkan dalam jangka menengah Presiden saat ini diteruskan presiden berikutnya.

Bagaimana pemerintah berusaha memenuhi pangan penduduk?
Rencana pembangunan Jangka Menengah, adalah Kedaulatan Pangan dengan meningkatkan produksi dalam Negeri. Menjaga Stabilitias harga pangan, perbaikan kualitas konsusmi pangan dan mengatasi gangguan serta isu perubahan iklim.

Dalam lima tahun ke depan, ada sasaran kuantitatif, berupa padi, jagung, kedelai termasuk pembangunan infrastruktur. Bagaimana terjadi surplus beras, diamankan untuk kebutuhan dalam negeri. Membangun keberlangsungan kedepan, dari budidaya pertanian dengan menggeser pengunaan pupuk kimiawi ke pupuk organik serta manajemen sumber daya air.

Dari sisi ekonomi, pertanian bisa kompetitif dan profitable, sustainable. Kalau pertanian dibiarkan begini saja, beban pemerintah memberi subsidi akan besar. Lagi-lagi saya kembali ke masa kecil, dulu kakek masih menggunakan pupuk kompos untuk sawahnya. Pupuk yang diproduksi sendiri di kandang kambing, ternyata manjur menyuburkan sawah.

***

Berlanjut Pembicara ketiga, yaitu Ibu Dini Widiastuti, selaku Direktur Program Pangan dan Perempuan OXFAM, “OXFAM adalah LSM international yang bekerja lebih 90 negara, mencoba memberi masukan untuk pemerintah, mencoba mempengaruhi kebijakan perusahaan. Meningkatkan kapasitas produktifitas dan income produsen pangan, termasuk perempuan di dalamnya.” Ibu Dini memperkenalkan diri.

Jumlah keluarga petani sekitar 14 juta, melihat dari SDM sebenarnya lebih. Meningkatkan produktivitas, tidak hanya mengatasi masalah lahan tetapi juga akses terhadap sumber produksi yang lain. Misalnya akses terhadap pupuk, akses terhadap cangkul, tetapi juga akses terhadap peningkatan kapasitas atau teknik pertanian. “Terus dimana posisi perempuan?” *saya membatin Perempuan perlu diberi kesempatan dalam mengambil keputusan, perempuan perlu dilibatkan dalam pengerjaan lahan pertanian.

Media dan blog, bisa dimaksimalkan untuk mengajak konsumsi pangan lokal. Gerakan konsumen harus lebih banyak, agar mempengaruhi keputusan produksi perusahaan besar. Perempuan terhadap sumber daya produksi dengan kesetaraan gender.
Khudori, selaku Pengamat Pangan dan Pertanian dari FAA PPMI (Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) sebagai pembicara keempat menyampaikan,”Seiring pertumbuhan Penduduk, juga dibarengi dengan penambahan kelas menegah yang membutuhkan pangan berkualitas”.

Sementara produksi pangan tidak mudah, penurunan kualitas lahan sedang terjadi. Tanah bisa “sakit” kalau dieksploitasi terus menerus, tanpa diimbangi input yang memadai menyebabkan mikroorganisme mati dan produktifitas tidak seperti semula.

Sumbangan terbesar produksi pangan saat ini, berasal dari luas panen bukan kualitas panen. Sebagian besar petani kita masih petani gurem, tidak bisa menjadi penopang hidup. Petani desa susah sekali berinovasi, sepertiga petani sudah tua diatas 54 tahun. Sehingga kurang bisa mengikuti perubahan, termasuk perubahan iklim yang luar biasa.

Musim kering datang 40 hari lebih cepat, musim hujan datang 40 hari lebih lambat. Hal ini tentu menjadi persoalan buat petani, akan mempersulit merencanakan pola tanam. Praktek pertanian terkendala, dalam berproduksi dan menghadapi perubahan iklim. Subsidi pupuk dilarikan pada pupuk kimia, sehingga tanah kurang pupuk organik.

Praktik revolusi dalam 14 tahun, terbukti bisa melipatgandakan produksi padi. Tapi setelah masa tersebut ada kekecewaan, terjadi keseragaman Mono Culture di semua praktek budidaya. Ketergantungan paket teknologi import, sehingga kearifian lokal tergerus. Varietas yang dulu dibudidayakan adaptif terhadap iklim hilang, degradasi lahan dan lingkungan tak terkendali.

Bagaimana produksi dan produktifitas bisa dilanjutkan?
Di sini kunci, Pentingnya pembangunan berkelanjutan pertanian berbasis ecotourism. Pertanian ecotourism secara parsial dilakukan, pemetaan kesediaan lahan tapi dalam praktek yang terjadi sebaliknya. Degradasi lahan dan kualitas air terjadi, karena lahan tidak dikelola dengan baik

Apa itu Pertanian ectourism ?
Adalah pendekatan, yang disesuaikan dengan kondisi dan produksi wilayah. Disesuaikan dengan kebutuhan daerah, sehingga terdapat aspek kedekatan masyarakat. Misalnya warga Papua yang konsumsi umbi-umbian, jangan “dipaksa” makan beras.

Demi masa depan pangan, sebaiknya pemerintah tidak lagi melakukan penyeragaman, agar tren pangan global terintegrasi. Konsentrasi pangan terjadi, pangan yang diproduksi, konsumen harus punya daya beli. Untuk menjaga pangan, konsumen harus punya akses dan saya beli.

Pembicara pamungkas, adalah Dea Ananda public figure yang bicara dari sisi konsumen. Nama Dea Ananda, sudah saya kenal sejak wajahnya sering muncul di televisi di era tahun 90-an. Hari ini tampil lain, bukan di panggung nyanyi tapi di forum media talk tentang pangan.

Dea terbiasa konsumsi pakan lokal, karena dari orang tua tidak dibiasakan konsumsi junk food. Oleh ibunda, Dea dijadwal makan junk food seminggu sekali. Itupun dengan syarat, setelah itu les berenang.

Sang ibu punya strategi jitu, memodifikasi olahan agar menarik. Maka tak heran, Dea akrab dengan tempe dan oncom tapi diolah seperti bacem, orek tempe dan sebagainya. Kebiasaan terbentuk sampai Dea Menikah, suami disajikan menu seperti Dea masih kecil.
Tapi siapa sangka, dengan konsumsi pangan lokal Dea cukup segar beraktifitas. Saat medical check up, dinyatakan kondisi kesehatan stabil.

Sebagai masyarakat, kita musti mendukung petani negeri sendiri. Sehingga hasil produksi petani terserap pasar, otomatis pendapatan petani terkatrol naik. Kalau kesejahteraan petani meningkat, bukan mustahil hasil pertanian juga meningkat. Endingnya ketersediaan pangan terpenuhi, masyarakat tak perlu konsumsi beras impor.

***

Saya bersama keluarga kecil berkesempatan mudik, bernostalgia dengan dunia kecil. Beberapa tempat saya sambangi, tempat bermain bersama kawan sebaya. Sontak saya kaget, melihat satu lahan tumbuh ilalang dan pepohonan besar (pohon trembesi). Areal di dekat sungai kecil ini, dua puluh tahun yang lalu adalah sawah yang hijau. Saya kerap mendirikan tenda kemah, menghabiskan siang sampai menjelang senja.

“Lahan ini gak ada yang ngerjain, anak-anaknya pada merantau ke kota. Pemiliknya sudah meninggal, tinggal istri yang sudah tua” Jelas Ibu yang berjalan disamping saya. Saya menghirup nafas dalam, bingung menerjemahkan yang di pikiran. Saya sekedar membayangkan, bagaimana kelanjutan tenaga pertanian di negeri tercinta ini. Kalau generasi masa kini, kurang minat dengan dunia pertanian, yang notabene penyokong ketersediaan pangan. (Foto: Doc Pribadi & Pixabay)

Agung Han

Pemenang Lomba Blogger Media Talk FAA PPMI

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Ada anekdot yang pernah penulis baca, tersebutlah seorang remaja di beri tantangan untuk menghasilkan uang dari sebuah lahan sawah, dengan...

Kesadaran seperti apa yang kita harapkan dari ruang-ruang penjara kumuh penuh sesak, dari para sipir yang semena-mena menyiksa namun sekaligus...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...