Seandainya Bukan Zumi Zola

197

Sepekan terakhir jagat media sosial diviralkan dengan gebrakan Gubernur Jambi Zumi Zola. Bagi penggemar infotainment eh sinetron, siapa sih tidak kenal dengan Zumi Zola?

Selebritis yang kemudian menjelma menjadi politikus. Memang dunia akting tidak bisa dipisahkan dengan bapak dua orang anak tersebut. Pun ketika dia menjabat sebagai Gubernur Jambi, Zumi Zola kerap dihadapkan dengan para haters.

Salah satu gebrakan yang akhirnya memicu pro-kontra adalah saat sidak dini hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher.  Politikus asal PAN ini dikecam sekaligus dibela ketika membanting kursi membangunkan pegawai jaga rumah sakit itu. Zola berkilah melakukan demikian karena banyak laporan akan buruknya pelayanan rumah sakit tersebut. Memang sih, apabila dilihat sejarahnya, aksi Zumi Zola itu bukanlah tanpa dasar.

Banyaknya laporan miring masuk ke meja kerja, Gubernur berzodiak Aries ini mendapatkan banyak laporan, antara lain banyak dokter yang justru buka praktik saat jam kerja hingga pasien lebih banyak diperiksa oleh dokter umum tinimbang spesialis.

Banyak keluhan jika perlakuan dokter dan perawat di semua rumah sakit umum daerah hampir sama. Ambil contoh ada kasus di Ponorogo beberap waktu silam. Saat dini hari, ada pasien ada yang kehabisan infus. Fatalnya sampai darah naik. Namun, tidak ada satu pun perawat di ruangan.

Jadi ketika Zumi Zola melakukan gebrakan tersebut memunculkan keluhan-keluhan yang selama ini disimpan sendiri, kesal sendiri akhirnya jadi ikut curhat di media sosial perihal pelayanan medis yang mengecewakan.

Media pun ramai mewrtakan, tak terkecuali netizen dan akun gosip yang turut menayangkan video kejadian. Seperti biasa ya kan netizen selalu gerak cepat soal berita-berita kekinian, wajar jika pro-kontra pun tak bisa dibendung. Bagi masyrakat pengguna jasa rumah sakit banyak yang mendukung. Sebaliknya rekan sejawat tenaga kesehatan sangat menyayangkan aksi sidak tersebut.

zumi-zola

Alasannya klasik, ada yang menuduh pencitraan, hanya akting saja karena membawa seabrek wartawan. Kangen main sinetron, semakin tidak respek bahkan sampai ada yang mengungkit kisah cinta masa lalu yang gagal, dan masih banyak tudingan lainnya.

Menariknya, tenaga kesehatan juga tak tinggal diam dan sebagai wujud prihatin membuat surat terbuka untuk sang gubernur.

Kepada Yang Mulia
Gubernur/Kepala Daerah Propinsi Jambi
Bapak Zumi Zola.

Menanggapi sidak Bapak Gubernur Jambi di RSUD Jambi, saya berfikiran positif. Bapak mau melihat sendiri kondisi dilapangan bagaimana kondisi di rumah sakit dinihari. Itulah fakta yang Bapak temui dan membuat bapak berlaku seperti yang kita lihat di rekaman rekaman yang beredar di medsos.
Jika Bapak beranggapan bahwa ini adalah suatu kegagalan, maka kegagalan itu adalah kegagalan pimpinan. Tanggung jawabnya adalah tanggung renteng mulai dari atas sampai ke bawah. Tentu saja Bapak sendiri dan Kepala Dinas serta Direktur RS sangat bertanggung jawab.

Ada satu hal yang mungkin bawahan bapak lupa menyampaikan. Pelayanan di RS merupakan suatu sistem mulai dari “front office” ditempat pendaftaran yang dilakukan tenaga non medik, kemudian dilayani perawat dan dokter di triase yang memilah milah pasien berdasarkan urgensi pasien. Sampai nanti pasien jika perlu ditangani dan dioperasi oleh dokter bedah. Atau diobati oleh dokter penyakit dalam, dokter anak atau dokter kandungan. Sistem ini bergerak dan yang diukur adalah respon dari sistem ini. Dikenal dengan nama “respon time”.

Jika tidak ada pasien dan tidak ada pemberitahuan dari “Front Ofiice” bahwa ada pasien, maka sistem ini akan “dormant”. Buat apa dokter spesialis bedahnya bangun sementara operasi tidak ada dan pasien yang ditangani tidak ada. Buat apa dokter spesialis penyakit dalamnya melek terus sementara pasien yang urgen ditangani tidak ada. Yang sangat perlu adalah , jika ada pasien perlu ditangani maka sistemnya langsung jalan

Sebaiknya jika Bapak mau menilai RS di wilayah yang Bapak pimpin, itulah yang dinilai. Kirim dan ikuti seorang pasien secara diam diam mulai dari pendaftaran sampai dia mendapat pelayanan. Ukur waktunya. Lihat respon petugasnya. Lihat cara mereka melayani orang sakit. Manusiawikah mereka terhadap pasien. Dengan cara begini Bapak akan mendapatkan data yang sangat akurat dan bisa dipertanggung jawabkan serta bisa menghapus kesan kurang baik.

Berbicara soal manusiawi, lihat juga , apakah memang petugas petugas medis, paramedis dan non medis yang merupakan anak buah bapak diperlakukan manusiawi. Lihat makanan mereka, lihat minuman mereka, lihat pakaian mereka dan jangan lupa lihat wajah mereka dengan hati. Lihat dengan hati yang jernih. Lihat baju lusuh mereka, lihat mata merah mereka Bapak akan mendapat banyak hal yang akan mengejutkan Bapak sendiri. Dan data yang Bapak peroleh bukan hanya bisa digunakan di Jambi, tetapi juga bisa sampai ke luar Jambi. Bahkan bisa anda jadikan contoh di nasional
Bapak lihat daftar jaga mereka, tanya kapan mereka berangkat dari rumah dan kapan mereka pulang. Kapan mereka bisa berkumpul dengan keluarga. Tanya bagaimana kondisi anak anak mereka, tanya bagaimana istri mereka. Panggil pimpinan mereka, panggil direktur mereka, panggil semua pihak yang berkepentingan . Akan lebih banyak hal yang Bapak peroleh ketimbang hanya menemukan petugas “tertidur”. Data Bapak akan sangat berguna.

Lihat pendapatan mereka. Tanya satpam, tanya pegawai, tanya dokter berapa pendapatan mereka. Apa yang mereka bawa pulang. Apakah mereka memiliki rumah. Cukupkah pendapatan mereka untuk membeli atau hanya menyewa rumah dari gaji yang mereka bawa pulang.

Terima kasih kepada Bapak, karena dengan cara begini sebetulnya membuka juga ruang bagi kami agar Pemda memperlakukan tenaga kesehatan lebih manusiawi kedepannya dengan jam kerja yang jelas sama seperti pegawai lain.

Wajar juga jika kami meminta diperlakukan layak, bekerja yang layak, istirahat yang layak. Beranikah Bapak memberlakukan untuk Propinsi Jambi jam kerja tenaga kesehatan sama dengan jam kerja pegawai negeri lain. Jika kami sudah bekerja sudah 40 jam dalam seminggu maka kami boleh istirahat di rumah tanpa diganggu oleh panggilan dinas dan tugas jaga. Jika bisa kami salut dan kami sangat mengapresiasi Bapak.

Jakarta, 21 Januari 2017

Patrianef
Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu
Sumber : FB suara perawat (21/1)

RSUD-MattaherNamun coba tarik ke belakang. Seandainya Zumi Zola bukan selebritis akankah ada pro-kontra yang ramai seperti sepekan ini.

Sidak Zumi Zola adalah buntut dari upaya reformasi birokrasi yang dilakukannya. Hanya saja harus diakui caranya memang agak kasar. Mungkin di dunia ini hanya Zumi Zola yang melakukan sidak ke rumah sakit dan mengamuk. Kecaman demi kecaman terus berdatangan dari berbagai pihak. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut Zumi Zola melecehkan profesi dokter karena dilakukan seperti penggrebekan narkoba.

Di sisi lain, blusukan itu mendapatkan dukungan luas masyarakat Jambi yang merasakan pelayanan rumah sakit itu memang buruk. Di mata mereka, upaya Zumi Zola merupakan jawaban atas kekesalan mereka selama ini. Mereka juga mengerti bahwa gebrakan gubernur ganteng itu adalah semata untuk memotong habis kepala busuk jajaran manajemen yang membuat rumah sakit terbesar di Jambi terus dalam masalah.

Tentang kontroversi ngamuknya sang artis idola ini, saya sepakat Zumi Zola agak berlebihan. Di luar itu, Zola hanyalah seorang Gubernur yang sedang berjuang keras melakukan perbaikan birokrasi di provinsinya.  Pun terakhir Zumi Zola juga tidak lepas tangan. Setelah ngamuk-ngamuk pun tetap bertanggungjawab. Tetap memantau kembali. Dan lahirlah surat terbuka dari Gubernur muda ini.

Pada Jumat pekan lalu, saya selaku Gubernur Jambi melakukan inspeksi mendadak di Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher. Karena rumah sakit ini milik pemerintah daerah, saya merasa bertanggung jawab penuh untuk memonitor serta mengevaluasi kinerja seluruh satuan RSUD Raden Mattaher.

Sekitar pukul 01.00, saya menemui fakta yang mengejutkan di lapangan. Ternyata, ada kelalaian dari sebagian kecil petugas rumah sakit ini. Saya sempat tersulut emosi, tetapi tidak sampai terlewat rasanya sikap saya. Lalu kenapa saya emosi? Jawaban saya adalah, sewaktu itu, saya memposisikan diri sebagai pasien atau keluarga pasien yang sedang dirawat di RSUD.

Membayangkan jika saja saya di posisi pasien, sedang petugas jaganya tidak standby atau lalai dalam bertugas, saya tentu saja akan kecewa berat. Bayangkan jika yang berobat ibu, bapak, saudara, tetangga atau Anda sendiri, ketika sedang butuh bantuan medis akibat sakit yang diderita, tetapi petugasnya lalai atau tidak siaga, apa yang akan Anda lakukan? Sudah tentu panik dan kecewa berat, bukan?

Pekerjaan di rumah sakit atau tim medis, adalah pekerjaan mulia dan mengandung resiko besar. Urusannya nyawa. Salah tindakan atau terlambat mengambil tindakan, nyawa pasien akan jadi taruhan.

Mengerikan bukan? Maka itu, saya berpendapat, tim medis di rumah sakit daerah kita, harus benar-benar profesional, siaga dan cekatan secara profesional kepada para pasien yang dirawat.  Usahakan jangan lalai, selalulah siaga, aturlah waktu istirahat sebaik mungkin dan tidak mengganggu pelayanan terhadap pasien.

Saya juga dengan ini menyatakan tidak ada maksud apa pundalam sidak yang kontroversial itu. Tidak ada maksud memalukan orang, menyudutkan orang, menyalahkan orang, atau menghina orang. Semua saya lakukan murni untuk merealisasikan keluhan-keluhan masyarakat Jambi yang berobat di RSUD selama ini.

Sudah menjadi rahasia umum, rumah sakit daerah milik kita bersama ini, pelayanannya belum maksimal. Sekali lagi, belum maksimal. Memang sudah baik, tapi belum memuaskan masyarakat atau pasien yang berobat di sana.
Sejak saya diberi amanah menjadi Gubernur Jambi, keluhan-keluhan atas pelayanan rumah sakit umum daerah kita, bertubi-tubi masuk ke saya.

Sewaktu itu, saya belum ada moment yang pas untuk melakukan sidak yang bertujuan untuk perbaikan rumah sakit itu sendiri.  Tetapi, pada Jumat lalu, saya menilai ini adalah moment yang tepat. Makanya sidak tersebut saya lakukan. Hasilnya sesuai dengan laporan masyarakat selama ini. Setelah sidak, pro dan kontra mencuat di masyarakat. Ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju. Saya paham itu.

Di era demokrasi saat ini, kebebasan berbicara dan berpendapat dilindungi undang-undang. Semua sah mengemukakan pendapat asal santun dan bermaksud memberi masukan. Saya sangat paham soal ini.
Terus terang, saya tak terlalu memikirkan itu. Karena saya percaya dan sangat yakin bahwa kinerja saya sebagai pelayan masyarakat, sudah saya lakukan sebaik yang saya bisa.

Tujuan sidak ini juga sangat baik. Intinya, bagaimana aksi kemarin bisa membawa pengaruh positif bagi pelayanan RSUD Raden Mattaher.  Jika ada perubahan positif, tentunya yang menikmati hasil nanti adalah pasien yang notabene adalah rakyat Jambi.

Apakah tujuan saya tercapai? Pasien dan masyarakat Jambi sendirilah yang menilainya. Hasil evaluasi dan pengamatan kami, usai sidak kemarin, ada perubahan positif di RSUD yang kita cintai itu. Arahnya sangat positif. Sangat menggembirakan. Secara pribadi, saya menilai tujuan kita bersama tercapai.

Petugas medis di RSUD Raden Mattaher telah berbenah. Mereka secara kompak berusaha memperbaiki diri.
Semua menjadi siaga dan sigap. Mulai dari jajaran administrasi sampai tim medis, kini jauh lebih semangat ketimbang sebelum sidak. Coba saja sendiri kalau tidak percaya.
Dengan ribuan petugas RSUD, semuanya bertindak ramah, santun, cekatan, siaga dan profesional, kita jadi yakin berobat di rumah sakit daerah Raden Mattaher.
Keyakinan berobat saja, saya kira sudah menjadi modal untuk pasien sembuh. Bukan begitu rakyatku yang bijaksana dan cerdas-cerdas?

Berikutnya, kita akan membuat standar pelayanan yang baku. Dengan adanya standar pelayanan ini, kita berharap apa yang sudah baik dilakukan tim RSUD Raden Mattaher saat ini, bisa terus dipertahankan. Kalau bisa, ditingkatkan lagi hingga batas maksimal.

Kita jangan mau kalah dengan rumah sakit swasta. Pelayanan mereka memuaskan, pasien banyak yang nyaman berobat di rumah sakit swasta. Sementara rumah sakit daerah kita, sedikit yang merasakan kepuasan.
Padahal, kita wajib menerapkan pelayanan terbaik karena rumah sakit daerah dibangun dengan tujuan melayani masyarakat umum.

Tak mengenal usia, latar belakang ataupun kondisi ekonomi. Semua yang datang berobat ke RSUD, wajib dilayani secara maksimal. Karena ini adalah tugas utama RSUD. Jadi, rakyat Jambi yang budiman, mari kita lihat sisi positif dan gambaran besarannya. Bahwa perbaikan pelayanan di rumah sakit daerah, adalah tujuan kita bersama. Dan ini mulai tercapai. Alhamdulillah.

Lewat surat ini, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim RSUD Raden Mattaher yang mau memahami apa yang saya lakukan, dan mau pula berubah ke arah yang lebih baik.

Juga, saya ucapkan terima kasih kepada dukungan yang diberi oleh masyarakat Jambi atas apa yang kami, Pemprov Jambi, lakukan. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberi semangat kepada kawan-kawan di RSUD Raden Mattaher untuk melakukan perubahan positif.

Pihak-pihak lain yang membantu peningkatan pelayanan rumah sakit kita, juga saya ucapkan terima kasih. Terlalu banyak, maka tak bisa saya sebut satu per satu dalam tulisan ini. Mari kita bersama-sama, bahu membahu, memberi dukungan atas perubahan pelayanan terhadap RSUD Raden Mattaher. Supaya kita bisa sehat terus, panjang umur, dan bahagia dunia akhirat.

Hormat saya, Zumi Zola, pelayan rakyat Jambi

Pada akhirnya yang paham betul kondisi pelayanan di RSUD tersebut adalah masyarakat Jambi sendiri, khususnya yang pernah berobat di sana. Mereka yang akan menilai perubahan pascasidak gubernur. Yah, syukur-syukur jika jadi bahan evaluasi bagi RSUD dengan pelayanan yang tak jauh lebih baik.

Perihal cara yang dipakai dipandang keterlaluan adalah soal gaya/style si pemimpin -atau pelayan Zola menyebutnya demikian. Karena kebetulan Zola adalah mantan Selebritis maka wajar jika tindakannya sekarang menarik perhatian publik, termasuk saya. Meski marah, tetap kece!

Mita

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Publik dibuat terkejut ketika majalah pers mahasiswa Lentera Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ditarik peredaraannya oleh rektorat dan polisi pada...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...