Kewajiban yang telah diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi sosok ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. R.A Kartini-1902.

Perempuan adalah rahim bangsa, dari dirinya lahir generasi penerus. Perempuan juga menjadi titik awal di mana anak mendapatkan pendidikan, seperti yang dikatakan RA Kartini dalam penggalan suratnya di atas. Memiliki rahim, hamil, melahirkan dan harus berwawasan demi bekal mendidik adalah hal yang harus dimiliki seorang perempuan. Sayangnya, apakah kebutuhan untuk memenuhi itu semua sudah tercukupi? Rasanya tidak. Masih banyak perempuan Indonesia yang belum sepenuhnya mendapatkan haknya.

Lantas apa yang membuat pemenuhan kebutuhan perempuan Indonesia tidak terpenuhi? Banyak hal dan banyak faktor. Pendidikan rendah, kesehatan sulit diakses, layanan publik tidak memadai dan segudang permasalahan lainnya. Seandainya permasalahan ini diurai, salah satu faktor pemicu paling besar adalah korupsi. Seperti dikatakan Frans Magnis Suseno, korupsi ibarat rayap menggerogoti tiang kehidupan bangsa yang telah dibangun. Perlahan tapi pasti, korupsi menghancurkan banyak sektor dan banyak masyarakat tidak menyadari ini.

Paradigma korupsi merugikan belum nampak terlihat di masyarakat. Sebagian besar masyarakat masih menganggap bila uang tak hilang dari dompet, maka tak jadi golongan yang terdampak korupsi. Padahal pandangan semacam ini adalah salah. Coba kita bayangkan, saat uang negara dikorup,  masyarakat bisa mendapatkan satu bagian. Padahal bila uang tersebut tidak dikorup masyarakat bisa menikmati sepuluh bagian.

Bagi banyak orang dampak korupsi bisa jadi tidak dirasakan secara signifikan, apalagi masyarakat yang tinggal di perkotaan. Tapi coba sejenak kita lihat daerah yang jauh dari riuh rendahnya kota-kota besar. Mereka masyarakat yang paling terdampak, termasuk perempuannya.

Misalnya saat mengandung, seorang perempuan harus memeriksakan keadaannya ke puskesmas atau rumah sakit. Tapi bagi sebagian perempuan yang tinggal jauh dari akses kesehatan akan merasakan kesulitan. Belm lagi masalah seperti ini biasanya karena fasilitas infrastruktur atau jalan yang tidak memadai.

Begitupun saat akan melahirkan, tidak sedikit perempuan Indonesia meninggal saat melahirkan. Lihat saja hasil survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012. Angka Kematian Ibu masih cukup tinggi, 359 per 100.000 kelahiran. Padahal harapannya sebesar 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut menunjukkan tingkat kesehatan perempuan yang masih rendah.

Persoalan ini memang kompleks. Tapi setidaknya kesulitan perempuan untuk akses kesehatan salah satuya disebabkan oleh mengguritanya korupsi. Cerita pilu lainnya yang harus dihadapi oleh perempuan Indonesia adalah persoalan pendidikan. Sistem patriarki menempatkan perempuan sebagai manusia kelas dua. Sebuah keluarga yang hanya mampu menyekolahkan salah satu anaknya karena biaya pendidikan mahal, pasti akan memilih anak laki-laki ketimbang perempuan untuk disekolahkan.

Selalu perempuan yang semakin tersudutkan. Persoalan biaya pendidikan mahal adalah bukti bahwa korupsi menyebabkan penyelenggaraan pemerintahan menjadi mahal. Penyebabnya tentu saja karena pos biaya yang dianggarkan telah dikorupsi.

Sulitnya akses kesehatan dan mahalnya pendidikan hanya sedikit dari sekian banyak contoh ketidakadilan yang harus dialami oleh perempuan. Hak yang didapatkan di masyarakat sudah berbeda. Jadi, adanya korupsi semakin menguatkan dan melanggengkan ketidakadilan yang dialami perempuan. Hak-hak asasi perempuan akan semakin sulit terpenuhi selama korupsi masih terus terjadi.

Selamat Hari Perempuan Internasional. Perempuan sebagai tonggak awal sebuah bangsa tentu harus didukung segala pemenuhan hak-hak dasarnya tanpa ada diskriminasi. Semoga semangat dan momentum ini menjadikan lebih banyak perempuan peduli pada sesamanya dan mengorganisir suara-suara perempuan yang masih diabaikan oleh pemerintah.

 

Tentang Penulis:
nisa

Nisa Rizkiah

Pegiat Indonesia Corruption Watch. Alumnus LPM Isola Pos Universitas Pendidikan Indonesia.

BERIKAN KOMENTAR