Perempuan Memang Konsumtif Sih, Tapi ?

529

Konsumtif. Sebuah istilah yang mungkin cocok disematkan pada perempuan zaman modern dengan gaya hidup di kota besar yang dimanjakan oleh pusat perbelanjaan, tempat nongkrong, wisata sampai dunia online shopping. Mengamati fenomena di permukaan itu, maka wajar jika muncul tulisan bertajuk  ‘Wajah Baru’ Perempuan dalam Jerat Kapitalisme beberapa waktu lalu.

Dalam tulisan itu, Isnan mengatakan jika kapitalis modern telah menempatkan perempuan sebagai objek penindasan kapitalis. Tak berhenti sampai di situ, perempuan dibuat menjadi konsumen yang selalu butuh dan siap membeli segala bentuk produk kapitalis. Hal ini terjadi karena perempuan telah dibuat semakin butuh terhadap produk kapitalis yang menjanjikan kepada konsumennya menjadi perempuan ideal dan memesona tubuhnya. Bisa juga karena tuntutan kerja yang selalu mengharuskan (dalam hal ini)  perempuan selalu tampil menarik di hadapan publik.

Agak baper bacanya, apa iya sih perempuan sekonsumtif itu?

Merujuk pada acara “Online Shopping Outlook” di Jakarta beberapa waktu lalu, kaum perempuan menempati persentase terbesar dari konsumen belanja online, yakni sebesar 53 persen dengan demografi usia antara 18-30 tahun. Produk yang terjual dan paling banyak dibeli juga seputar kebutuhan pakaian yaitu sebanyak 41 persen, disusul kebutuhan lainnya yaitu 40 persen.

Coba deh ingat-ingat, pasti kita kaum perempuan lebih sering ekspresif bilang ‘ih barang ini lucu banget’ atau ‘keren kali ya kalau punya satu aja’, padahal mungkin sebenarnya tidak memerlukannya. Contoh lain kalau ada tulisan promo kaya diskon, sale 70 persen atau buy one get one free, biasanya si perempuan lebih responsif. ‘Duh bakal kepikiran nih kalau gak beli, kapan lagi diskon sampai segitunya’.  Ngaku nggak? Hayo ngaku!

No problem, perempuan kini memang bisa dibilang memegang peranan cukup penting dalam bisnis dunia mode, baik sebagai pelaku, pegiat, pemerhati, maupun pencinta mode. Artinya jelas meski secara langsung perempuan sebagai konsumen tak sedikit pula perempuan yang terinpirasi dari belanja-belanja untuk menciptakan kreativitas baru lalu voila mengubahnya jadi bisnis online. Omsetnya, wow jangan tanya. Rata-rata bisnis online baik itu via website atau Instagram, bukan hanya bikin balik modal tetapi juga menciptakan jejaring bisnis yang fantastis. Berawal dari konsumtif lho!
0933263780x390
Realita perempuan sebagai makhluk konsumtif tentu tidak bisa ditolak begitu saja. Peran perempuan khususnya yang sudah menikah sebagai ibu rumah tangga sekaligus istri membuat perempuan sering bersentuhan dalam urusan pengaturan keuangan. Jadi, bukan tak mungkin demi berbelanja kebutuhan keluarga atau dirinya sendiri, perempuan rentan tergoda oleh sifat boros. Setuju gak?

Tapi apa iya sekonsumtif itu? Masih gak terima…..

Perempuan konsumtif dalam belanja bulan, contohnya deh gak usah jauh-jauh. Nih biasanya kalau perempuan belanja bulanan itu dah bawa catatan, apa saja yang mau dibeli, gak cuma itu tetapi manfaatkan diskon atau promo, belum beli satu gratis satu. Terkadang bahan belanjaan yang dibeli gak langsung dipakai tapi tetap dibeli karena ya itu ada diskon sayang kalau dilewatkan. Ternyata fungsi stok belanjaan itu sangat worth it lho buat dipakai di akhir bulan dimana pengeluaran mulai menipis. Berawal dari konsumtif lho ya!

Ada lagi, perempuan juga konsumtif belanja online, terlebih sekarang makin dimanjakan dengan tawaran-tawaran menarik dari e-commerce mulai dari free ongkir sampai harga yang nyungsep gila-gilaan. Bayangkan sambil maskeran atau dasteran tinggal scroll layar hp, pilih belanjaan, transkasi i-bangking jadilah itu barang. Boros? Iya mungkin awalnya, tapi lagi-lagi belanja online bikin males gerak (mager) ke mal dan tentu saja bisa saving biaya makan plus ngopi-ngopi kalau kita belanja di mal. Bener gak?  #semacamalibi.

Gimana urusan soal nongkrong? Perempuan konsumtif juga? Ups belum tentu. Perempuan kalau mau meet up lebih memilih nunggu ada diskon dari provider atau instant messenger yang menawarkan promo-promo menarik. Mulai dari beli 1 gratis 1 sampai potongan harga hingga bahkan lebih dari setengah harga. Jarang lho eike lihat laki-laki antre dikasir sambil nunjukkin sms promo, gengsi ya heuheu. Hayo borosan mana?

Bicara soal penggunaan kartu kredit nih, dilansir dari hasil studi Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) rasio perbandingan perempuan dan laki-laki sebagai pengguna kartu kredit adalah 1:4, masih lebih banyak laki-laki yah.  Selama ini perempuan sering dianggap lebih konsumtif, terlihat dari pemakaian kartu kredit yang semakin aktif.
20141031tren-gaya-hidup-konsumtif
Padahal, laki-laki dan perempuan sebenarnya memiliki sifat konsumtif yang sama ketika menggunakan kartu kredit. Yang berbeda hanyalah frekuensi penggunaan, dan benda-benda yang di beli. Perempuan lebih sering menggunakan kartu kredit untuk membeli barang-barang fashion, sedangkan laki-laki membeli gadget dan makan di restoran.

Selain itu, perbedaan perilaku perempuan dan laki-laki dalam penggunaan kartu kredit ini terlihat dari frekuensi penggunaan kartunya. perempuan lebih sering menggesek kartu kreditnya untuk membeli barang-barang yang diinginkannya. Laki-laki jarang menggesek kartu kredit untuk berbelanja, tapi sekali pakai biasanya mengeluarkan jumlah yang cukup besar. Ibaratnya, dalam satu bulan perempuan bisa menggunakan kartu kredit antara lima sampai tujuh kali untuk membeli barang yang berbeda, sedangkan laki-laki hanya satu kali menggesek namun jumlahnya jauh lebih besar.
3
Well, terlepas soal siapa yang lebih konsumtif, perempuan atau laki-laki. Siapapun termasuk punya peluang besar menganut paham konsumerisme karena tergantung karakter masing-masing. Intinya, sifat boros tidak mengenal gender dan jenis kelamin.  Banyak kok, sekarang laki-laki  yang lebih boros daripada perempuan. Apalagi menyangkut hobi. Misalnya soal otomotif, gadget, atau kuliner. Perempuan dianggap lebih boros karena mungkin terlihat dari penampilannya saja, padahal tidak selalu, seperti yang sudah dipaparkan di atas.

Jadi, masih gak mau ngaku nih kalau perempuan memang konsumtif?

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Suatu siang beberapa hari lalu, tiba-tiba berbagai group media sosial kelompok jurnalis dan aktivis yang saya ikuti geger. Sebuah screen...

Sempat beberapa tahun lalu saya menerima pertanyaan, apakah sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada Pers Mahasiswa?

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...