Demi Ibu Bumi

245

Kayu-kayu bekas pengecor kaki tertumpuk di ruang tengah kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Selasa malam lalu. Di sana foto Patmi, perempuan petani Kendeng yang meninggal usai melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Presiden, diletakkan di antara nyala lilin dan taburan bunga. Di depannya, puluhan orang berdiri mendaraskan doa dengan bibir bergetar dan mata sembab. Para pegiat hak asasi manusia, media, tokoh agama, pegiat lingkungan, hingga petani berbaur melepas kepergian Patmi.

Sejak Senin 13 Maret 2017, warga pedesaan di kawasan bentang alam karst pegunungan Kendeng memulai aksi kolektif untuk memprotes berlanjutnya rencana pendirian dan pengoperasian pabrik Semen milik PT Semen Indonesia di sana. Mereka menggelar aksi #DipasungSemen2, mereka mengecor kaki dan duduk di depan Istana Negara, aksi yang sama pernah mereka lakukan tahun lalu.

Senin sore lalu, Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki mengundang perwakilan warga untuk berdialog di kantor KSP. Namun dialog itu buntu, perwakilan warga menyatakan menolak skema penyelesaian konflik yang hendak digantungkan pada penerbitan hasil laporan KLHS yang prosesnya tidak menyertakan warga penolak pabrik semen.

Alhasil, para petani itu memutuskan untuk meneruskan aksi yang saat itu jumlah pesertanya terus bertambah dari kalangan aktivis dan simpatisan gerakan warga itu. Mereka memutuskan untuk memulangkan sebagian warga ke kampung halaman. Sementara aksi akan terus dilakukan oleh 9 orang. Patmi adalah salah satu peserta yang akan pulang, sehingga cor kakinya dibuka.

Saat itu dokter pendamping menyatakan kondisi Patmi baik-baik saja. Ia sempat berbincang dan menyampaikan harapannya supaya Presiden Joko Widodo bersedia menemui dan mendengarkan tuntutan para petani Pegunungan Kendeng. Namun, pada Selasa dini hari, sekitar pukul 02.30, Patmi mengeluh tidak nyaman. Ia lantas kejang-kejang dan muntah.

Dokter pendamping lantas membawa Patmi ke Rumah Sakit St. Carolus Salemba, Jakarta Pusat. Namun, nyawa Patmi tidak berhasil diselamatkan. Pihak rumah sakit menduga Patmi meninggal karena serangan jantung. Patmi meninggal sebelum keinginannya supaya Presiden terketuk hatinya untuk menyelamatkan alam Pegunungan Kendengan dari eksploitasi pabrik semen terwujud.

Kendeng Berduka
Kendeng Berduka

Petani Kendeng Terus Melawan

Bagi sebagian orang yang tidak paham tradisi dan kultur warga Pegunungan Kendeng, aksi menyemen kaki mungkin akan dianggap sebagai perbuatan yang konyol, nekat, menyakiti diri sendiri, atau bahkan bentuk keputusasaan. Pendapat itu muncul karena mereka tidak paham bahwa para petani itu memiliki prinsip yang kuat bahwa menyakiti orang lain adalah perbuatan yang tabu.

Karena itu mereka memilih metode perlawanan yang tidak merusak. Mereka memilih aksi membangun dan tidur dalam tenda di area pembangunan pabrik selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, daripada melakukan aksi menyerang atau merusak fasilitas. Mereka memilih mengecor kaki sendiri daripada aksi blokir atau membakar ban di jalanan yang bisa berdampak menggagu aktivitas warga lain. Tradisi perlawanan yang lembut namun kokoh dan pantang menyerah itu sudah tertanam sejak dulu.

Aksi almarhum Patmi dan kawan-kawannya itu dimulai sejak 16 Juni 2014 lalu, tepat pada hari peletakan batu pertama pembangunan pabrik semen di Rembang. Saat itu warga yang menolak pendirian pabrik rela meninggalkan rumah untuk tidur di tenda-tenda di areal pabrik. Mereka bertekad tetap bertahan di sana sampai pembangunan pabrik dihentikan, hingga saat ini mereka masih di sana. Tidak hanya itu, mereka rela melakukan aksi protes dengan cara berjalan kaki ratusan kilometer dari kampung halamannya ke kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang, hingga datang ke depan Istana Presiden untuk memasung kaki dengan semen. Laki-laki dan perempuan bergerak bersama. Barangkali itu adalah aksi masyarakat sipil paling terorganisir dan paling panjang dalam sejarah reformasi.

Sukinah, salah satu tokoh aksi menolak pabrik semen di pegunungan Kendeng, mengatakan bahwa pembangunan pabrik semen mengincar kawasan karst Kendeng. Selain di Rembang, Pati, Grobogan, Blora, Wonogiri, Kebumen, Banjar Negara, dan Muria juga telah diajukan ijin yang sama. Bila itu terjadi, maka sumber mata air yang menghidupi ratusan ribu petani akan rusak dan lenyap. Daerah yang menjadi lumbung pangan Jawa Tengah itu terancam punah. Para petani, termasuk Sukinah dan Patmi, itu berjuang bukan untuk kepentingan mereka sendiri namun sekaligus untuk seluruh penduduk Jawa Tengah.

Bagi Sukinah, Patmi, dan para penduduk desa di Pegunungan Kendeng, bertani adalah nadi kehidupan. Pada sawah-sawah di kampung mereka menyandarkan kehidupan. Di sana, di kawasan karst Kendeng, Mereka biasa menanam padi pada musim labuhan atau musim hujan, jika musim katiga atau kemarau ia menanam palawija atau buah-buahan.

Bertani membutuhkan tanah, membutuhkan air sebagai salah satu unsur yang sangat penting guna mengolah lahan. Ini adalah sebuah hubungan timbal balik yang telah ada dan turun temurun antara warga dan pegunungan karst Kendheng. Namun kini hubungan timbal balik tersebut terancam rencana pendirian pabrik semen. Pabrik yang akan menggali perut bumi dan memporak- porandakan mata air di tanah karst yang selama ini mereka jaga.

Dalam web Oemahkendeng.com dituturkan bahwa Kendeng merupakan pegunungan khas purba dan pegunungan yang melahirkan peradaban Jawa “Ha, na, ca, ra, ka”. Adanya peninggalan Dampo Awang di Kecamatan Tambakromo, penemuan candi kuno di Kecamatan Kayen, Makam para sunan dan situs pewayangan di Kecamatan Sukolilo, adalah bukti kekayaan arkeologi Kendeng.

Menurut kajian Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), CAT Watuputih mampu menyuplai air sebanyak 51 juta liter per hari dari 109 mata air. Dari debit sebesar itu, 10 persennya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan warga di 14 kecamatan, dan sisanya untuk pengairan sawah. Karena itu pada tahun 2011, lahir Keputusan Presiden tentang penetapan Cekungan Air Tanah di mana CAT Watuputih termasuk kategori B yang wajib dilindungi. Namun pemerintah Provinsi Jawa Tengah justru membuka investasi semen di sana.

Pabrik semen dibutuhkan untuk memenuhi pasokan bahan baku pembangunan rumah dan gedung. Namun ada hal lain yang lebih penting dari semen, kelestarian alam dan keberlangsungan hidup. Pendirian pabrik semen di Rembang mengancam lebih dari 10.000 haktar lahan pertanian produktif. Setiap hektar sawah di sana dapat menghidupi 146 orang. Itu belum termasuk 4,7 juta jiwa yang hidup di lima kabupaten yang menggantungkan sumber air tanah dari pegunungan Kendeng. Di sisi itu, konsekuensi yang mesti dibayar untuk pendirian pabrik semen di Rembang jelas kelewat mahal.

“Kami akan terus berjuang, perjuangan kami bukan hanya untuk hari ini saja. Kami memikirkan anak cucu, semen bisa menghidupi kami hari ini, tapi masa depan anak cucu yang bertani akan hancur,” ujar Darto, salah satu petani dari Pegunungan Kendeng. Bagi para petani Kendeng, bumi adalah ibu yang membesarkan sekaligus menghidupi mereka. Karena itu merusak bumi sama artinya menyakiti ibu mereka.

Hari ini, saat tulisan ini mulai saya tulis, para petani itu kembali bersiap melajutkan aksi penolakan mereka terhadap pabrik semen yang mengancam kelestarian lingkungan, mengancam bumi, ibu para petani. Sayup-sayup terdengar tembang dari mulut mereka:

“Ibu Bumi wus maringi

Ibu Bumi dilarani

Ibu Bumi kang ngadili.”

(Ibu Bumi sudah memberi, (namun bila) Ibu Bumi disakit, (kelak) Ibu Bumi akan menghukum)

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

Sebuah bidal menyebutkan, siapa tersentuh cinta maka mendadak ia bisa menjadi penyair. Tak menutup kemunginan juga menjadi seorang fotografer. Lantas apa jadinya jika sajak dan foto dikawinkan? Lukisan Cina kuno membuka jalan penafsiran puisifoto itu.

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Oh thou whom neer my constant heart; One moment hath forgot; Tho fate severe hath bid us part; Yet still–forget...