Bocah-bocah Belajar Film

260

Menonton film menjadi salah satu kegiatan pada awal berdirinya Omah Dongeng Marwah, sebuah komunitas mendongeng yang berlokasi di Kudus, Jawa Tengah. Kebetulan, mayoritas peserta ODD adalah kelompok sufi, alias suka film.

Di akhir pekan, kami menonton berbagai film yang pas dengan bidang pendidikan yang kami geluti. Seperti film Taare Zameen, Three Idiot, The Miracle Worker, The First Grader, I Not Stupid Too, Laskar Pelangi, Sokola Rimba, dan beberapa film lainnya.

Film tentang pendidikan dan cara pandang terhadap peserta didik banyak menginspirasi kami. Film mendidik kami agar tidak diskriminatif terhadap sesama. Mengingatkan kami untuk tidak memandang remeh cabang ilmu tertentu dan menganggap hebat cabang ilmu lainnya. Melalui film, kami ‘ditegur’ secara halus, bahwa jangan pernah menganggap sepele peserta didik, karena setiap anak adalah unik.

Mitologi Gunung Slamet dan Gunung Muria

Kami merasakan, pesan yang disampaikan melalui film dapat terserap efektif. Penonton tergugah tanpa merasa dipaksa, terinspirasi tanpa terintimidasi, juga tergerak tanpa dibentak. Hal itulah yang mendorong kami mengadakan workshop pembuatan film pendek pada Desember 2015, sekaligus untuk mengisi liburan sekolah anak-anak. Bermodalkan browsing internet, kami menemukan nama Aris Prasetyo dari Purbalingga, Jawa Tengah. Aris dan komunitasnya sudah lama menekuni dunia perfilman independen.

Menariknya, Aris yang ketika itu masih bertahan sebagai guru honorer di lereng Gunung Slamet bisa menggerakkan anak-anak dengan segala keterbatasan. Semangatlah yang bisa menggerakkan itu semua. Akhirnya kami bisa memboyong Aris, sosok berpenampilan sederhana ini ke Kudus selama tiga hari.

Di acara workshop itu kami langsung praktik bagaimana memproduksi film. Seharian kami mencari ide cerita, menyusun skenario, membuat story board, mencari pemain, dan syuting. Jika peradaban manusia mencatat bahwa Workers Leaving the Lumiere’s Factory sebagai film pertama di dunia (Wikipedia, dilihat Maret 2017), kami mencatatkan diri bahwa Hantu Hape adalah karya kami perdana.

15665660_1223355074412288_827793008098621402_n

Ide film Hantu Hape berangkat dari potret sosial atas penggunaan telepon genggam. Banyak yang tidak bisa pisah darinya, termasuk saat pembelajaran atau mengenderai kendaraan. Akibatnya konsentrasi terpecah dan bisa menimbulkan bahaya.

Walau secara alur cerita film ini tidak selesai, tapi setidaknya kami bangga. Barangkali sama bangganya dengan penggarap film Workers Leaving the Lumière’s Factory yang hanya menceritakan orang bubaran pabrik dalam durasi beberapa detik. Kebanggaan kami bukan apa-apa, dari praktik itulah kami mendapatkan pengalaman yang sangat berharga.

Di akhir workshop, Aris memberi kenangan yang sangat berharga, yaitu film produksi anak didiknya. Film-film itu kami tonton bersama. Ada yang membuat kami tertawa ngakak, ada pula yang membuat kami ber-dleweran air mata. Misalnya saat menonton film berjudul Figura dan Langka Receh.

Usai menonton itu, kami kian membuktikan bahwa posisi gambar idoep cukup penting. Membuat kami terlecut untuk memproduksi gambar idoep lainnya. Selain untuk mempraktikkan teori, juga diniati untuk berbagi dengan sesama.

Beberapa film kami produksi dengan cara dan alat sederhana. Kami lebih konsentrasi pada bidang sejarah dan kebudayaan lokal. Gambar idoep tentang Kali Gelis misalnya. Dikemas bergaya anak-anak, kami ingin menceritakan kondisi sungai yang membelah Kota Kudus dan pernah dipuji pejabat VOC ini.

Aiman (diperankan Tiyo) dan Jiwa (diperankan Radian)

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar idoep produksi kami berikutnya tentang lingkungan juga. Yaitu Sendang Jodo. Bercerita tentang mata air di Desa Purworejo, Kudus. Film dokumenter sederhana ini mengajak penonton untuk merawat sumber air guna pelestarian lingkungan.

Gambar idoep karya kami lainnya adalah Darmosoegito, tentang wartawan dari Kudus yang sangat kritis pada era kolonial Belanda. Dia tercatat sebagai tokoh perintis pers Indonesia. Publikasi soal Darmosoegito ada dalam buku terbitan puluhan tahun lalu. Masyarakat Kudus sekarang nyaris tak mengenalnya. Karena itu kami coba mengangkat kisahnya dalam film.

Agresi Militer I dan Agresi Militer II yang terjadi di seputar pegunungan Muria, yang meliputi Kudus, Pati, dan Jepara, juga tak luput kami filmkan. Judulnya Pertempuran Muria. Dalam perjuangan itu, ada sumbangsih kelompok Tionghoa, ada sosok-sosok heroik, baik dari sipil maupun militer yang namanya tak disebut sekalipun dalam buku sejarah (Kodim Kudus: 2009).

Film ini juga digarap sederhana, bahkan ada unsur parodi. Anak-anak yang menjadi kru film sekaligus pemainnya. Walau demikian, dari film ini, setidaknya anak-anak ODM mengenal sejarah perebutan kemerdekaan yang terjadi di wilayah Muria. Mereka juga mengenal siapa Mayor Kusmanto dan Kapten Ali Machmudi.

Untuk membuktikan jejak sejarah film itu, ODM membawa anak-anak berkunjung ke Monumen Markas Komando Daerah Muria, bekas markas Mayor Kusmanto di lereng Gunung Muria. Sekaligus berziarah ke makam Kapten Ali Machmudi, komandan yang gugur dalam pertempuran.

Setahun pascaworkshop kami telah memproduksi sedikitnya 5 gambar idoep. Hampir semua film itu hasil produksi anak-anak, seperti yang dilakukan Aris Prasetyo di lereng Gunung Slamet. Seperti ada hubungan mitologi Gunung Slamet dengan Gunung Muria.

Macan putih

 

 

 

 

 

 

 

 

Mitologi Desember  

Meski film-film kami buat secara sederhana dan diproduksi oleh anak-anak, kami bangga, ilmu yang kami dapat dari workshop bisa kami kembangkan dengan baik. Apakah karena tuah Desember?

Ada apa dengan bulan Desember? Bukankah itu sudah rutin ada sejak sistem kalender ini disusun? Memang tidak salah, Desember adalah rutinitas belaka. Secara kebetulan Desember yang terjadi di Perancis dan Batavia juga terjadi pada kami. Sehingga kami menganggap bulan ini istimewa.

Seperti diketahui, film pertama di dunia diputar pada 28 Desember 1895 di Grand Café, Paris. Lima tahun berikutnya, satu sejarah juga tertoreh di Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia Belanda. Di sebuah rumah milik pribadi di Tanah Abang, Batavia, diputarlah film tentang Ratu Wilhelmina dan Raja Hendrik di Den Haag, Belanda. Film ini disebut sebagai film pertama yang putar di Indonesia. Kapan pemutarannya? Ternyata diputar pada 5 Desember 1900.

Ndilalah, kami mengadakan workshop pembuatan film pendek di Kudus juga Desember. Kejadiannya 120 tahun setelah peristiwa di Perancis atau 115 tahun setelah peristiwa di Batavia.

unnamed

Nah, di 2016, ODM juga memproduksi film lagi. Kali ini judulnya Bintang di Langit Jakarta. Film yang diadopsi dari cerpen karya Tsaqiva Kinasih Gusti, anak ODM. Lagi-lagi ini adalah film yang garap anak-anak. Hanya, kali ini kami mendapat hal baru, anak ODM ditemani Andika Wardana dan Rico.

Dari pendamping profesional ini anak-anak ODM bagaikan mengikuti workshop pembuatan film tingkat lanjut. Anak-anak dikenalkan tentang tiga fase, yaitu praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Praproduksi meliputi banyak hal, seperti pembagian tugas, pemilihan pemain, diskusi pengadeganan, dan banyak lainnya. Banyak sekali istilah baru yang didapat anak-anak ODM.

Pada proses pembuatan gambar idoep Bintang di Langit Jakarta ini, anak-anak ODM menjadi kenal apa itu casting, rehearsal, breakdown script, wardrobe, property, lighting, play back, clip, boom, dan banyak istilah lainnya. Mereka juga dikenalkan bahwa pembuatan film itu kerja tim yang membutuhkan komitmen bersama. Masing-masing bertanggungjawab pada tugasnya.

Pada produksi film sebelumnya, proses kami belum selengkap ini. Sebelumnya adegan tanpa di-direct secara tegas. Semua orang bisa berperan sebagai sutradara yang bisa mengatur dan menentukan. Begitu juga dengan properti syuting, semua sekenanya. Tak beda dengan kostum. Pada film-film sebelumnya, ada kostum yang tak sesuai zaman. Walau harus diakui memproduksi film mengikuti pakem lebih butuh effort ekstra. Baik tenaga, pikiran, dan dana.

Suatu hari di saat istirahat syuting Bintang di Langit Jakarta, saya sempatkan membuka Facebook. “Ting”. Sebuah postingan lama dimunculkan Facebook, yaitu tentang syuting film Hantu Hape setahun lalu. Saya baru menyadari, jarak waktu syuting Bintang di Langit Jakarta dengan syuting Hantu Hape setahun persis. Persis sama-sama Desember.

Gambar Idoep Jembatan untuk Belajar

Seiring dengan syuting film Bintang di Langit Jakarta, anak-anak ODM juga memproduksi film lain. Inti pesannya tidak boleh mencorat-coret di uang kertas. Sebab, di uang itu ada gambar pahlawan. Bermodal pengetahuan saat syuting Bintang di Langit Jakarta, penggarapan film tentang uang ini juga sudah terpola secara benar.

Jika di awal-awal ODM memposisikan film sebagai jembatan untuk mengisi acara, kini fungsinya sudah meningkat, film sebagai jembatan menyampaikan pesan.

Bagi anak-anak ODM, film juga berfungsi sebagai jembatan untuk belajar. Belajar teori dan langsung praktik. Jika dipersentasekan, saat syuting berlangsung materi teori nyaris hanya satu persen, sedangkan 99 persennya adalah praktik. Dengan proses belajar seperti ini anak-anak langsung paham dan merasakan manfaatnya. Membuat film itu mengasyikkan sekaligus mengabadikan kisah kehidupan.


77b82a83-3d95-455f-848a-c8175d5a89eb

Penulis:

Edy Supratno. Mantan Pemimpin Redaksi Shautul Quran, Universitas Sains Quran Jawa Tengah. Kini menjadi pembimbing di Omah Dongeng Marwah

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Pertanian sebaiknya jangan disempitkan artinya sebatas produksi pangan, tapi merupakan kehidupan itu sendiri. Meski setiap hari bersentuhan dengan pangan, namun tak banyak...

"Saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah Pancasila. Sila itu artinya asas atau dasar dan...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things — Henry Mille Kabupaten Sumenep merupakan labuhan terakhir di...