Danau Cigaru, Surga Tersembunyi di Tangerang

380

Begitu turun dari motor, tiga bocah kecil itu berlari menuruni lembah. Di bawah sana, di depan danau, teronggok badak besar terbuat dari batu. Ketiganya lantas menaiki badak bercula itu. Maria Ulfah, 22 tahun, membantu menaiki ketiga bocah itu satu per satu.

Dengan sigap, kakak Maria Ulfah, Ali Khumaeni, 26 tahun, memasang kamera gawai. Maria Ulfah dan ketiga keponakan kecilnya bergaya dengan berbagai gaya. Dengan lanskap danau biru dan goresan pepohonan hijau di belakangnya.

cigaru-2

Di pojokan danau, Maria melihat perahu tertambat dengan sebuah pondok di depannya. Persis seperti sebuah rumah di tepi danau dengan pelabuhan sendiri. Seorang bapak keluar dari pondok itu dan menawarkan jasa naik perahu. Tarifnya Rp10.000 per orang.

Maria mengiyakan. Lantas menaiki perahu itu disusul keponakan, juga kakaknya. Perahu meninggalkan tambatan, berdayung mengelilingi danau. Sabtu siang itu, Maria sengaja menyempatkan waktu berlibur ke Danau Cigaru, Cisoka, Tangerang. Dari rumahnya di Kresek, Tangerang, ia harus menempuh perjalanan 22 kilometer dengan kendaraan bermotor.

Meski berasal kabupaten yang sama, mahasiswa Jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA ini justru memperoleh informasi soal Danau Cigaru dari teman-teman kampusnya yang telah lebih dulu kesini. Sambil mengajak keponakannya berwisata, Maria sekaligus ingin membuktikan celoteh teman-temannya soal keindahan danau ini.

“Ternyata betulan indah. Nggak nyangka di daerah saya ada tempat seperti ini,” katanya, sumringah.

Jika Maria datang bersama keluarga, Andi Widodo, 29 tahun, menempuh perjalanan dari Kebayoran ke Danau Cigaru seorang diri. Andi sejak lama menyukai travelling. Berbalus kaos putih, celana pendek dan ransel di punggung, laki-laki asal Jawa Tengah ini menempuh perjalanan Jakarta-Danau Cigaru selama 2 jam.

Dari Kebayoran, Andi naik kereta commuterline hingga Stasiun Tigaraksa. Ia kemudian berjalan kaki sepelemparan batu sampai pangkalan angkot jurusan Taman Adiyasa – Balaraja. Di Pasar Cisoka, ia turun dari angkot, lantas melanjutkan perjalanan hingga Danau Cigaru dengan berjalan kaki selama 30 menit. “Lumayan capek, tapi terbayar dengan keindahan tempat ini,” katanya.

Mahasiswa pascasarjana salah satu kampus swasta di Jakarta ini memperoleh informasi keindahan Danau Cigaru dari media sosial. Ia memilih mengunjungi tempat ini karena lokasinya tak begitu jauh dari Jakarta, dengan kemudahan akses transportasi kereta. “Belum ada tempat sejenis di Jabodetabek,” katanya.

Berawal dari Tambang Pasir

cigaru-3

Suhandi, 45 tahun, warga setempat, mengatakan lahan danau ini milik seorang pengusaha properti asal Kalimantan yang kini menjadi warga Kampung Jengkol, Cisoka, Tangerang. Mulanya lahan ini adalah tambang pasir seluas 3 ha yang beroperasi sejak 2001.

Pasir hasil tambang itu digunakan untuk membangun sejumlah perumahan yang berdiri di wilayah Cisoka. Diantaranya adalah Perumahan Taman Kirana Surya, Triraksa Village dan Kota Batara Cisoka. Suhandi yang kini menawarkan jasa perahu berkeliling danau, dulunya pegawai tambang pasir itu.

Tahun 2009, pasir di wilayah ini telah habis digali. Bersisa sejumlah cekungan tanah. “Pasir sudah habis, ya ditinggalkan,” katanya.

Tahun 2015, muncul keajaiban. Air dalam cekungan yang mulanya berwarna keruh, berubah menjadi hijau kebiruan. Pada waktu-waktu tertentu, air danau berubah, dari hijau menjadi kebiruan atau dari biru menjadi kehijauan. Ada 3 cekungan berderet yang airnya berubah warna, sedang lainnya tidak. Luas danau biru ini sekira 1,5 ha. Dengan lanskap deretan pepohonan hijau, danau ini tampak indah dipandang mata. “Ini karena faktor alam, kekuasaan Yang Maha Esa,” kata Suhandi.

Sejak itu warga berbondong-bondong mengunjungi Danau Cigaru. Makin lama informasi keindahan danau ini tersebar luas dan pengunjung makin ramai.  Awal tenar, pengunjung yang datang mencapai ribuan. Mereka memenuhi lahan terbuka yang mengelilingi ketiga danau itu. Sejumlah gubuk bermunculan di pinggir jalan, berderet menjual makanan.

Jika hari minggu, pengunjung yang datang bisa mencapai 500an. Mereka tak hanya berasal dari Jabodetabek, tapi juga berbagai wilayah lainnya. “Pernah waktu itu ada pengunjung dari Padang semobil datang kesini, cuma mau liat danau ini,” kata Suhandi.

Hasil penelitian Badan Lingkungan Hidup setempat menyimpulkan air danau ini memiliki keasaman di bawah angka tujuh. Kadar asam yang rendah itu menyebabkan air ini tak bisa langsung diminum. Selain soal kadar asam, perubahan warna terjadi akibat ganggang yang tumbuh di dalam air. “Katanya sorotan cahaya matahari yang membuat air dengan ganggang itu berubah-ubah warnanya,” ujar Suhadi. (Foto: Fleur de Nufus)

Penulis:

Fleur

Fleur de Nufus

Alumni LPM EKSPRESI UNY Yogyakarta. Saat ini sibuk mengerjakan tugas-tugas redaksi di GATRA dan Bersatoe.com.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Publik dibuat terkejut ketika majalah pers mahasiswa Lentera Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ditarik peredaraannya oleh rektorat dan polisi pada...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...