Belajar Berempati Lewat Night Bus

74

“Apa itu, Pak?” lontar Amang Zakaria (Yayu Unru), menunjuk ke bawah jembatan tempat pos 1 berada.

“Oh, biasa, mata-mata,” jawab komandan pos 1 (Arswendi Nasution) dengan santai.

Si Amang, supir bus Babad bergidik melihat aksi penyiksaan di bawah jembatan itu. Satu korban dikubur hidup-hidup sekujur tubuhnya kecuali kepala. Sementara korban lain rambutnya dijambak, lalu kepalanya ditenggelamkan ke dalam sungai.

Amang membawa puluhan penumpang dari Rampak menuju Sampar, kota asalnya. Sampar adalah kota kecil di Aceh yang memiliki kekayaan alam melimpah. Pada 1998, kota ini dilanda konflik berkepanjangan antara pemerintah dan kelompok separatis bernama Sampar Merdeka (Samerka).

Bus itu berisi ragam penumpang. Ada seorang nenek bersama cucu balitanya hendak berziarah ke makam anak tunggalnya, seorang penyair tuna netra, sampai pengusaha lokal yang cerewet. Selain itu ada sepasang muda-mudi hendak melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan tambang di Sampar, wartawan lepas dari Jakarta, aktivis LSM yang mencari kawan-kawannya yang hilang dalam penugasan, dan mahasiswa kedokteran.

Kengerian penyiksaan itu tak lantas membuat Amang ragu meneruskan perjalanan. ia yakin mereka semua bisa akan tiba dengan selamat, berikut Bagudung, kenek setia yang sudah seperti keluarga sendiri.

Keyakinan Amang rupanya tidak mewujud jadi kenyataan. Mereka harus melewati 12 jam mencekam di tengah dua kubu yang sedang berkonflik itu. Belum lagi sekelompok bandit perang yang jauh lebih kejam meneror penumpang bus.

Conflict doesn’t choose its victims. Tagline yang terpampang di poster ini hendak menegaskan, film Night Bus bercerita tentang konflik kemanusiaan yang menelan banyak korban sipil tak bersalah. Satu kalimat yang dilontarkan si aktivis LSM dalam salah satu adegan pun semakin melengkapinya; “Semua nyawa itu sama nilainya. Semuanya penting”.

Meski demikian, tidak sedikit warganet yang mengira Night Bus adalah film horror, seperti Train to Busan. Night Bus memang bukan film horror, tapi cukup berhasil menciptakan ketegangan khas konflik kemanusiaan yang sungguh mengoyak nurani kita.

Adalah Teuku Rifnu Wikana yang pertama kali menuliskan naskah berdasarkan kisah nyata ini dalam bentuk cerita pendek. Bertahun lalu, aktor yang telah membintangi banyak film ini pernah terjebak teror dalam sebuah perjalanan bus malam yang melewati daerah konflik.

Meskipun unsur politik menjadi latar belakang konflik di Sampar, Night Bus lebih berfokus mengisahkan ketegangan demi ketegangan yang dialami penumpang. Maka tak perlu membayangkan dar der dor adegan kontak senjata antara dua kubu berkonflik. Tak ada pula adegan perundingan atau rapat-rapat mengatur strategi perang yang macam-macam.

Hal ini tidak serta merta membuat film yang diproduseri Darius Sinathrya ini jadi tidak menarik. Justru di situ letak kekuatannya. Night Bus hendak mengajak kita berempati pada para korban yang terjebak dalam perang. Apalagi Indonesia memiliki sejarah panjang terkait konflik kemanusiaan yang serupa dengan film ini dan masyarakat sipil adalah pihak yang paling menderita.

Night Bus semakin terasa manusiawi karena tidak menghadirkan sosok tertentu sebagai pahlawan. Tidak aparat tentara pemerintah, tidak pula Samerka. Para penumpang diceritakan saling bahu-membahu meredam ketakutan mereka sendiri. Sebuah usaha yang mungkin tidak banyak menghasilkan apa-apa, tapi apalagi yang bisa dilakukan di tengah konflik yang tidak dipahami oleh korban-korbannya.

Nama besar aktor-aktor yang terlibat di film sungguh pas dan meninggalkan kesan yang dalam. Teuku Rifnu Wikana, Toro Margens dan Alex Abbad memang selalu tampil mengesankan di setiap filmnya. Namun Yayu Unru yang paling lihai “menari”, membuat tokoh Amang jadi sulit dilupakan. Edward Akbar yang sebelumnya lebih banyak membintangi film drama percintaan pun tampil sesuai porsi dan membuat perannya sebagai Yudha menjadi akting terbaiknya. Tak lupa gadis cilik pemeran Laila (Messi Gusti) yang menumpang bus bersama neneknya. Tak berlebihan menyebut bocah ini luar biasa karena berhasil menampilkan sosok balita yang menggemaskan dan misterius sekaligus.

Ada banyak cerita yang tidak jelas pemaparannya terkait latar belakang beberapa penumpang bus. Misalnya masa lalu Anisa (Hana Malasan), mahasiswa kedokteran, yang pernah diperkosa tapi tidak jelas oleh tentara pemerintah atau Samerka karena ia menumpahkan amarah kepada keduanya. Atau si bos bandit yang tiba-tiba langsung berbicara dengan dialek Jakarta kepada Yudha padahal mereka belum saling mengenal. Meski begitu, Night Bus adalah film yang baik untuk ditonton dan didiskusikan lebih lanjut.
13310406_1150514188331958_5840114211818967318_nPenulis:

Ratih Fernanndez. Alumni LPM EKSPRESI Universitas Negeri Yogyakarta. Seorang periset dan penulis lepas, berdomisili di Yogyakarta.

 

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Pertanian sebaiknya jangan disempitkan artinya sebatas produksi pangan, tapi merupakan kehidupan itu sendiri. Meski setiap hari bersentuhan dengan pangan, namun tak banyak...

"Saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah Pancasila. Sila itu artinya asas atau dasar dan...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things — Henry Mille Kabupaten Sumenep merupakan labuhan terakhir di...