Belajar dari Alam Kendeng (1)

83

Bermula dari Lorotan Semar, Indah nan Memikat

Ada air jernih mengalir di bebatuan yang berundak-undak. Ada pemandangan batu karst yang tampak menjulang. Ada pemandangan sawah yang terhampar indah di sisi utara wilayah itu. Orang sekitar menyebutnya sebagai Lorotan Semar, sebuah dinding batuan yang sangat indah di seputar pegunungan Kendeng, Pati. Lokasi yang akan dijadikan sebagai pabrik semen.

Setiap kami berada di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Budaya Islam (STIBI) Syekh Jangkung, Pati, salah satu pemandangan yang selalu tampak di hadapan mata kami adalah Pegunungan Kendeng. Kampus kami memang berada tak jauh dari wilayah itu. Tepatnya di wilayah Kecamatan Kayen, salah satu kecamatan di Pati bagian selatan.

Dari kampus, kami bisa melihat pegunungan yang berwarna kehijauan, berada di sisi selatan, memanjang dari arah barat ke timur. Beberapa titik di antaranya terlihat berwarna putih. Itu warna asli tanah gunung yang terkelupas dari penutup pohon akibat tergerus longsor. Di kaki pegunungan itu terhampar berhektare-hektare tanaman padi yang amat subur.

Tetapi, walau Kendeng berada di halaman depan kampus kami, dan berjarak beberapa puluh kali pelemparan batu saja dari tempat kami berdiri, jujur sesungguhnya kami (termasuk mahasiswa kami yang berasal dari Pati) masih awam mengenal pegunungan ini. Apalagi mahasiswa yang berasal dari luar Pati, seperti Kudus atau Jepara, kabupaten yang bertetanggaan dengan Pati.

“Apa yang khas di wilayah Pati sini?” tanya saya kepada mahasiswa.

“Kendeng, Pak!” jawab mereka.

Sebagai orang yang tak tinggal di situ, dan berada di kampus ketika jadwal mengajar tiba, saya mencoba mengorek minat mahasiswa.

“Apa yang bisa kita perbuat untuk lingkungan Kendeng yang indah ini?”

Masing-masing mahasiswa saling berpandangan, dan berakhir dengan gelengan kepala. Saya berkesimpulan mereka pasti tidak banyak tahu. Ya sudahlah tak usah diperpanjang lagi obrolan tentang Kendeng, pikir saya. Barangkali memang tak ada yang menarik di pegunungan itu.

Hingga suatu sore, seorang staf STIBI bercerita tentang objek lingkungan yang indah di Kendeng, dan berhasil menarik minat saya untuk mengunjunginya.

“Apa lokasinya jauh?” tanya saya.

“Hmmm, tidak sampai setengah jam, Pak!” jawabnya.

Beserta lima orang lainnya, sore itu kami langsung meluncur ke kolasi. Kami menemukan objek wisata lingkungan berupa sungai dengan air yang terlihat sangat jernih. Dasar sungainya terbentuk dari batuan karst yang berundak-undak, membuat luncuran air yang mengalir di atasnya laksana air terjun.

 

Udara di sekitar objek itu sejuk dan bersih. Bukit kapur yang menjulang di sisi yang lain terlihat seperti memagari lembah, bagai menyapa orang-orang yang datang, membuat pemandangan di tempat ini jadi sungguh mengasyikkan. Selebihnya adalah pohon jati yang tumbuh subur di atas batuan karst.

Seketika saya langsung jatuh cinta pada pegunungan Kendeng, dan bertekad membawa mahasiswa STIBI ke objek yang orang populer menyebutnyasebagai Lorotan Semar di lain waktu. Buat saya, ini kesempatan mahasiswa berinteraksi masyarakat sekitar kampus, juga dengan alam yang keindahannya sangat menggetarkan hati.

Kisah Mahabarata di Kendeng

Lorotan Semar terdapat di Dukuh Ngalingan, Desa Sumbersari, Kecamatan Kayen, Pati. Lokasinya persis di sisi utara pegunungan Kendeng, dengan ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju ke lokasi itu, jika kita memutarinya dari sisi utara pegunungan, jalur yang paling mudah diingat adalah arah Rumah Sakit Umum (RSU) Kayen. Dari sini jaraknya sekitar lima kilometer ke arah selatan.

Lorotan Semar berada di Sungai Tapan. Air sungai ini bersumber dari Belik Ngalingan, di Sumbersari, serta dari mata air Jrambah Lor yang berada di Desa Duren Sawit (sak wit), Kecamatan Kayen. Pada musim hujan, sungai ini berlimpah air. Tetapi, sebaliknya pada musim kemarau air mulai mengecil mengalir. Bahkan tak jarang mengering.  Air sungai ini mengalir ke utara. Di bawah sana, mayoritas petani memanfaatkannya untuk bercocok tanam padi. Hamparan sawah yang amat luas dan hijau kian menambah indahnya pemandangan.

Kresno, warga setempat yang juga aktivis lingkungan, mengatakan, objek ini dulunya semak belukar. Jadi, wajar banyak masyarakat belum banyak mengetahuinya. “Mulai dibuka sebagai objek wisata pada awal 2016,” tambah guru sekolah dasar ini.

Tetapi, walau baru dibuka,nama Lorotan Semar sudah memasyarakat di telinga penduduk. Berdasarkan cerita turun temurun, menurut Kresno, warga asal Sumbersari itu, nama lorotan diambil dari bentuk sungai tersebut, yang miring saat dipakai untuk berselancar, atau ber “plorotan” dalam bahasa Jawa.

Lalu mengapa Semar?

 

Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, ketika itu Begawan Mintaraga, dari kelompok Pandawa, sedang bertapa di gua Indrakila. Ke mana pun Pandawa pergi, para punakawan, yang terdiri atas Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong selalu setia mendampingi.

Mintaraga bertapa cukup lama. Hal ini membuat Semar mulai terserang rasa bosan. Untuk membunuh kebosanan itu, sambil menunggu sang dewa atau susuhunannya usai bertapa, Semar pun bermain seluncuran di lokasi itu. Jadilah lokasi ini dinamai Lorotan Semar.

Persis di bawah plorotan tersebut terdapat sebuah gua dengan ukuran sedang. Dilihat dari atas posisinya berada di sebelah kiri. Persis di hadapan tulisan Lorotan Semar saat ini. Konon di dalam gua itu terdapat relief-relief jurus persilatan.

Batuan “Berselimut”

Bagi orang tertentu, objek Lorotan Semar mungkin hal biasa terdapat di pegunungan kapur yang menjulang. Tetapi, bagi saya, berada di tempat ini seperti menemukan momentum yang sangat spesial. Saya jatuh cinta pada pegunungan Kendeng dipicu oleh objek wisata lingkungan ini. Keindahan alamnya membuat kami seperti penasaran untuk mengenal Kendeng lebih jauh.

Secara teori, tanah Kendeng merupakan jenis tanah hasil pelapukan batuan kapur (batuan endapan). Tanah jenis ini biasanya miskin unsur hara. Walau demikian, tanah jenis ini baik untuk tanaman jati dan palawija. Rerumputan dan pepohonan pun tumbuh subur di bebatuan itu. Tampak hijau menghampar layaknya selimut bagi bebatuan itu. Pemandangan ini persis seperti pegunungan kapur di Maros, Sulawesi Selatan, atau di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

Di sekitar Lorotan Semar, bongkahan batuan berselimut itu akan tampak jelas dilihat dari lokasi sekitar Kelompok Bermain (KB) anak Mutiara Bunda, yang berada di Dukuh Ngalingan. Adapun tumbuhan yang hidup di atas bebatuan bisa dilihat di atas tulisan Lorotan Semar. Di atas batu yang panjangnya sekitar 10 meter ini terdapat banyak pepohonan.

Selain berfungsi sebagai selimut, rerumputan dan pepohonan itu seperti sedang ingin memanjakan mata bagi yang melihatnya. Sekaligus bukti bahwa alam kita sangat subur. Lagu Koes Plous berjudul “Kolam Susu” yang dirilis 1973 itu benar adanya. Alam kita memang benar-benar istimewa. Di atas bebatuan pun tumbuhan bisa hidup dengan subur.

Mulai tertarik dengan Kendeng, berikutnya satu per satu mahasiswa mengusulkan lokasi lain yang ingin dikunjungi. Referensi destinasinya adalah cerita tutur masyarakat. Tetapi, semua masih berada di seputaran pegunungan Kendeng yang terbagi di wilayah Kecamatan Kayen, Kec Sukolilo, dan Kec Tambakromo. Di situ ternyata banyak objek yang menarik. Seperti gua kars, air terjun, bebatuan unik, dan embung.

Nano, alumnus Universitas Muria  Kudus (UMK), yang sering menjelajah alam, mengaku masih awam dengan objek Kendeng ini. Menurutnya, selama ini Kendeng tidak termasuk destinasi petualangan yang banyak dibicarakan pecinta alam. Beda misalnya dengan situs-situs peradaban di Gunung Muria, Lawu, Merapi, dan gunung-gunung lainnya.

Situs-situs yang terkait dengan kebudayaan masyarakat Pati, khususnya yang terkait dengan Saridin alias Syekh Jangkung, ternyata juga muncul di Kendeng.  Bagi saya, informasi tentang situs Saridin di puncak Kendeng termasuk hal baru. Informasi ini sekaligus mengingatkan saya pada mata kuliah sejarah kebudayaan yang saya ampu.

Jika kami di kelas membincangkan tentang kebudayaan Islam dan peradaban di Timur Tengah, yang letaknya nun jauh di sana, alangkah baiknya mahasiswa STIBI juga mengenal situs-situs Syekh Jangkung.  Apalagi nama tokoh abad ke-16 di era Kesultanan Demak itu menjadi nama kampus kami. Informasi yang diketahui terkait Syekh Jangkung baru sebatas makamnya. Lebih dari semua itu,  ternyata legenda hebatnya justru berada di puncak pegunungan Kendeng. Ini tantangan kami untuk menelusurinya.

Bersyukur, mahasiswa kami setuju mengikuti kuliah alam di wilayah Kendeng. Materi kuliah tentang sejarah oeradaban Islam klasik, peradaban Islam era Nabi Muhammad, dan era Bani Umayyah hingga Abassiyah, tetap berjalan seperti biasa. Namun, setelah kuliah selesai, kami berganti fokus mendiskusikan perdaban Kendeng seperti yang kami saksikan langsung.

Jika beberapa bulan lalu saya berpandangan bahwa tidak ada yang menarik dari Kendeng, kali ini sangat beda. Semakin bercengkerama dengan masyarakat Kendeng, akan semakin tahu bahwa banyak peristiwa kebudayaan di pegunungan ini yang masih tersimpan rapi dan belum terungkap. Kendeng bukan semata-mata persoalan gundukan batuan karst, tapi juga tentang kisah peradaban manusia penghuni Java Major sisi utara tempo doeloe. Bersambung. (Foto: Doc. Pribadi, Imgrum Club)

Edy Supratno, pengajar sejarah pada STIBI, Pati, dan pengasuh Omah Dongeng Marwah (ODM)

 

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Pertanian sebaiknya jangan disempitkan artinya sebatas produksi pangan, tapi merupakan kehidupan itu sendiri. Meski setiap hari bersentuhan dengan pangan, namun tak banyak...

"Saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah Pancasila. Sila itu artinya asas atau dasar dan...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things — Henry Mille Kabupaten Sumenep merupakan labuhan terakhir di...