Belajar dari Para Ibu, Sang Penikmat Literasi

109
“Kau mungkin punya harta tak berhingga
Tumpukan emas dan permata
Aku takkan pernah lebih kaya daripadamu
Tapi, aku punya ibu yang membacakan buku untukku.”
Strickland Gillilan
Sedang apa mereka? Ya benar. Mereka sedang membaca. Beberapa waktu lalu di sore hari pukul 16.00 WITA, saya dan kak @AlexanderFeni menuju desa Lefa, Termanu, Kabupaten Rote Ndao, NTT. Perjalanan yang panjang dengan kondisi jalan yang belum bagus membuat kami sampai di sana pukul 18.00 WITA dengan menggunakan motor.
Tujuan kami kesana adalah untuk mengedukasi anak-anak gemar membaca dan meningkatkan kemampuan literasi mereka. Di desa ini belum ada listrik (saya berterima kasih, ada satu penduduk yang memakai penerangan dengan diesel saat kami disana). Selain itu lokasi yang jauh dari kota Baa, membuat segala akses susah didapat.
Kami bersyukur, Tuhan menunjukkan pemandangan yang luar bisa bagi saya dan kak @AlexanderFeni/Sepri. Hampir 3 jam setengah, bukan hanya anak-anak, tapi Ibu-ibu ini, asyik membaca buku cerita untuk usia SD. Saya melihat kerinduan mereka untuk mengenal banyak hal melalui buku. Sempat saya ada percakapan dengan Ibu-ibu ini.

“Ma, lebih besar mana, Bekantan jantan atau betina?,” tanya saya kepada Ibu samping kanan saya.“Betina kak.” Jawab beliau.

Tiba-tiba, seorang ibu didepan saya menyela. “Sonde (bukan), tadi lu (kamu) sonde baca dengan betul. Langgar-langgar (lompat-lompat bacanya). Bekantan jantan lebih berat dua kali lipat dari betina.” Kata ibu tsb.

Spontan ibu samping saya, baca ulang buku yang tadi beliau sudah baca dengan judul “BEKANTAN”. Saya hanya meringis geli melihat percakapan itu.

Anak-anak masih bergilir membaca 11 buku yang saya sediakan di tas. Sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 21.00 WITA. Kemudian kami pamit untuk pulang. Saya juga sempat berjanji minggu depan akan membawakan buku resep masakan, agar ibu-ibu ini bisa belajar memasak di rumah dengan berbagai resep.

Hal yang membuat saya kagum, zaman sekarang, saya bisa menemukan orang-orang yang tidak malu bahkan mau membaca hal-hal sederhana sampai 3 jam setengah. Mereka begitu antusias dan bahkan sampai beradu argumen dari bacaan buku anak-anak yang mereka baca. Mereka juga memerhatikan anak-anak mereka agar ikut membaca.

Apakah kita bisa seperti ibu-ibu ini? meluangkan waktu mereka untuk menemani anak mereka sekadar membacakan buku cerita? Membaca buku, selain menambah wawasan bagi ibu dan anak, bila dilakukan bersama-sama antara Ibu dan anak, mampu meningkatkan kedekatan emosional mereka. Selain itu, anak merasa bahwa ibu mereka adalah ibu yang benar-benar peduli.

Dari hal sederhana tersebut, kita bisa belajar untuk melindungi anak-anak ini menuju kehancuran. Kebiasaan membaca bersama juga memudahkan ibu untuk berkomunikasi bahkan menjadi momen bagi ibu untuk bertanya bahkan berdiskusi tentang masalah anak, kesulitan anak, bahkan hal-hal yang menjadi kebingungan anak.

Anak-anak yang tidak mendapat perhatian, mereka akan bermasalah tidak hanya di rumah, tapi juga di sekolah bahkan di lingkungan dimana mereka tinggal. Saat ibu (dan ayah) mereka tidak bisa memberikan perhatian dan kasih sayang, mereka akan mencari kebahagiaan, kenyamanan, perlindungan di luar rumah, bahkan bila semua tidak didapat, mereka akan melakukan tindakan penyimpangan yang menjerumus pada hal-hal buruk lainnya. Lebih parahnya, mereka juga menjadi trouble maker untuk merusak karakter teman-teman yang lain.

Dengan berbagai manfaat tersebut, apakah kita memilih tak peduli atau sebaliknya? Tuhan berkata, apa yang kita tabur, itu yang kita tuai. (Foto: Nadia Elly & Pixabay)

Nb: saya menerima sumbangan buku bacaan, bisa hubungi saya 081210657724.

Penulis:


Nadia Elly, Alumni LPM Situs Universitas Airlangga Surabaya, Pemerhati anak di pulau terselatan Indonesia

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Pertanian sebaiknya jangan disempitkan artinya sebatas produksi pangan, tapi merupakan kehidupan itu sendiri. Meski setiap hari bersentuhan dengan pangan, namun tak banyak...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things — Henry Mille Kabupaten Sumenep merupakan labuhan terakhir di...

Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini...