Pancasila, Ramadan dan Persekusi

158

“Saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah Pancasila. Sila itu artinya asas atau dasar dan di atas dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi”

Demikian cuplikan pidato terkenal Soekarno pada 1 Juni 1945 tentang dasar negara Indonesia di depan sidang Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan.

Hari ini kita menyaksikan bagaimana perdebatan di media sosial begitu sengit. Begitu banyak hal yang diperdebatkan, dipertentangkan menjadi bahan cacian dan bullying. Kita kehilangan keramahan kita di media sosial. Media sosial hari hari ini menjadi alat intimidasi, alat identifikasi lawan untuk kemudian diburu dan diintimidasi. Tercatat sampai hari ini ada 59 orang yang menjadi target persekusi media sosial. Mereka dilabel sebagai penista agama/ulama. Identitas (foto profil, pekerjaan, alamat rumah, kantor, dll) dan postingan mereka disebar ke media sosial.

Kemudian mereka yang masuk dalam daftar persekusi ini digeruduk di rumah atau kantor, diancam dengan kekerasan, dipaksa meminta maaf secara lisan atau tulisan, dan digiring ke kantor polisi. Tercatat sudah beberapa nama menjadi korbannya, ada ibu dengan dua orang anaknya yang harus lari dari rumahnya, ada bocah 15 tahun yang di datangi beramai-ramai lalu dipukuli dan dipaksa meminta maaf. Media sosial menjadi alat teror. Organisasi dan identitas kelompok mengambil peran penegak hukum melakukan penghakiman berdasarkan postingan di media sosial.

 

Seakan kita diminta untuk merenungkan kembali makna dan semboyan dalam Bhineka Tunggal Ika dan melupakan sejenak kengerian yang di tampilkan para demagog media sosial dan organisasi barbar. Merenung kembali akan makna Ketuhanan, Kemanusian, Demokrasi, Keadilan sosial, dan Kesejahteraan.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki sejarah panjang, jauh lebih tua dari Indonesia. Semboyan ini ditemukan dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis pada abad XIV pada era Kerajaan Majapahit. Mpu Tantular merupakan seorang penganut Buddha Tantrayana, namun merasakan hidup aman dan tentram dalam kerajaan Majapahit yang lebih bernafaskan agama Hindu

Dalam kitab tersebut Mpu Tantular menulis “Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” (Bahwa agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina(Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah, tetapi satu jua, artinya tak ada dharma yang mendua).

Jika diartikan dari sepenggal arti setiap bahasa jawa kuno tersebut secara harfiah mengandung arti bhinneka (beragam), tunggal (satu), ika (itu) yaitu beragam satu itu. Selain itu, Bhineka Tunggal Ika juga menjadi perbincangan diantara para tokoh saat sebelum Proklamasi antara Muhammad Yamin, Bung Karno, I Gusti Bagus Sugriwa dalam sidang-sidang BPUPKI. Bahkan Bung Hatta sendiri mengatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah ciptaan Bung Karno setelah Indonesia merdeka.

Setelah beberapa tahun kemudian ketika merancang Lambang Negara Republik Indonesia dalam bentuk Garuda Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika dimasukkan ke dalamnya. Secara resmi lambang tersebut dipakai dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat yang dipimpin Bung Hatta pada 11 Februari 1950 berdasarkan rancangan yang dibuat oleh Sultan Hamid II (1913-1978).

Sekali lagi kita patut untuk bersyukur atas ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila pada hakikatnya ialah kontrak sosial dan titik temu di antara para pendiri bangsa. Itu tecermin dari pidato Soekarno pada Sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.

Ia menyatakan, “Kita bersama-sama mencari persatuan philoshopisce grondslag, mencari satu weltanschauung yang kita semua setuju. Saya katakan lagi setuju! Yang Saudara Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hajar setujui, yang saudara Sanoesi setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Liem Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari modus. Tuan Yamin, ini bukan kompromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita bersama-sama setujui.”

Jauh setelah ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara tersebut, kita tahu banyak jalan terjal yang harus dilalui. Tetapi Pancasila sekali lagi adalah titik temu peradaban, sebuah area kesamaan dari nilai-nilai yang diambil dari agama, adat, suku, ideologi yang berbeda-beda. Sayangnya, kita makin jauh dari nilai-nilai yang baik itu, sehingga pada praktiknya belum mampu mencerahkan batin dan lahir rakyat. Lalu sebagian orang malah mencoba mencari ideologi lain dan menyalahkan Pancasila.

Dus, kembali pada Media sosial dan Persekusinya. Saat ini Ketuhanan kita seakan mengalami erosi nilai dengan memudarnya semangat keberagamaan. Seiring bangkitnya kembali Chauvinisme Islam dan sejumlah aksi intoleran yang di pertontonkan secara terbuka (teriakan bunuh dan penggal secara terbuka di teriakan oleh tokoh). Bahkan hingga adanya Bom bunuh diri yang di gelar pendukung ISIS. Ini tentu sangat disayangkan, mengingat pentingnya agama yang menjadi ruh dari sila pertama Pancasila. hal itu semakin menjadi kekhawatiran kita semua, terlebih tidak tegasnya pemerintah dalam menindak aktivitas intoleran tersebut.

Begitupun Sila Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, dimana kemanusiaan tergerus oleh pragmatisme, hedonisme dan konsumtifisme. Sehingga kemanusiaan semakin teralienasi dari ruang publik. Maraknya kasus yang melukai kemanusiaan baik kepada anak, pelajar dan para wanita. Kekerasan kelompok kriminal juga mulai berani muncul di ruang publik, tentu hal ini harus disikapi dengan serius. Jangan sampai korban kemanusiaan terus berjatuhan karena lambatnya kita dalam mengantisipasi.

Dan terakhir, entah apa yang ada dibenak penyebar kebencian itu dengan menyebarkan info hoax, membuat ancaman pada mereka yang berbeda, memfitnah pemerintah disertai olok-olok untuk mereka yang berbeda. Sudah cukup kita belajar dari Rohingya, Suriah, Libya dan Irak betapa toleransi menjadi nilai yang begitu berharga untuk dijaga. Dan akhir kata semoga dengan Api dan semangat panacasila, kehidupan kita semakin damai dan harmonis dengan sesama manusia dan sekalian makhluk. (Foto: Ilustrasi/ Flickr)

#SayaTeguhKurniawan
#SayaPancasila
#SayaIndonesia

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Pertanian sebaiknya jangan disempitkan artinya sebatas produksi pangan, tapi merupakan kehidupan itu sendiri. Meski setiap hari bersentuhan dengan pangan, namun tak banyak...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things — Henry Mille Kabupaten Sumenep merupakan labuhan terakhir di...

Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini...