Mengabdi Setan Agar Disayang

193

Film Pengabdi Setan lahir dari tatanan patriarkis dengan berondongan pertanyaan, “Kapan punya anak?”

Bagi perempuan yang sudah menikah, dan dalam lingkup patriarkis, melahirkan dianggap sebagai tahapan yang harus dilalui agar seorang perempuan menjadi “lengkap.” Tentu saja tidak termasuk di dalamnya perempuan-perempuan yang menjalani hidup selibat semacam biarawati atau bikuni. Maka, ketika usianya dianggap cukup untuk melewati tahapan itu, seorang perempuan akan segera “diburu”. “Sudah isi, belum?”, “Kok belum punya momongan juga?”, “Kapan ibu/bapak dikasih cucu?”, dan sederetan pertanyaan yang sama dengan redaksional berbeda.

Pertanyaan-pertanyaan itu akan menjelma menjadi tekanan, hingga menstimulus seorang perempuan untuk melakukan sesuatu agar tekanannya menurun. Hal inilah yang Joko Anwar jadikan pijakan cerita─entah ia sengaja atau tidak─film remake Pengabdi Setan yang ia perjuangkan selama satu dekade.

Adalah Ibu, penyanyi terkenal yang sudah sepuluh tahun membina rumah tangga dengan suaminya. Hubungan Ibu dan ibu mertuanya bukanlah hubungan yang menyenangkan. Si mertua tak suka putranya menikahi seniman. Apalagi selang sepuluh tahun, mereka belum juga punya anak. Secara implisit, sang ibu mertua menyalahkan menantunya, istri anaknya.

Seperti dalam film itu, kasus serupa banyak terjadi di kehidupan nyata. Kita sering menyaksikan perempuan menjadi pihak pertama yang disalahkan bila program hamil belum juga berhasil.

Dalam film itu, si penyanyi akhirnya punya anak juga setelah sepuluh tahun berlalu. Bahkan beruturut-turut setelahnya, lahir tiga anak lagi. Kebekuan hati sang mertua pun mencair. Hubungan mereka menjadi baik dan sang suami─yang sudah menjadi bapak─kian menyayangi istrinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Singkat cerita, bertahun-tahun kemudian setelah kematian Ibu, baru diketahui bahwa anak-anaknya lahir dari persekutuan sang Ibu dengan setan. Ya, sang penyembah setan adalah Ibu, yang tidak ingin kehilangan suaminya dan bermaksud memperbaiki hubungannya dengan mertua.

Mengabdi pada setan yang adalah tindakan tercela, sekalipun dipicu oleh alasan sentimental yang begitu manusiawi: ingin disayangi. Agar kebutuhannya akan cinta dapat dipenuhi, Ibu harus memenuhi standar-standar sosial yang melingkupinya, yakni memiliki anak. Cara itu berhasil. Hidup Ibu jadi bahagia bersama suami dan ibu mertuanya. Keputusannya mengabdi pada iblis memerdekakan Ibu dari tekanan sosial sebagai “perempuan kering.”

Saya lalu teringat ungkapan “lebih mudah cari musuh ketimbang mencari teman.” Hanya dengan tatapan sinis, sepuluh musuh bisa kita dapatkan dalam sehari. Namun untuk mendapatkan teman, lengkap dengan kasih dan sayangnya, seluruh harta kekayaan pun rasanya takkan cukup. Dalam keseharian, kita seringkali menjadi Ibu, yang melakukan hal-hal buruk hanya agar bisa dicintai. Kita bisa menfitnah dan mencuri, hanya agar dipandang ‘ada’ dan kemudian disayangi, lalu dipuja-puja.

Jika film-film horror Indonesia lainnya memunculkan sosok hantu perempuan dengan pijakan cerita pada kasus kekerasan seksual atau akses layanan kesehatan yang terbatas, Pengabdi Setan versi Joko Anwar mengambil sisi lain. Bahwa selain dua masalah di atas, tekanan sosial untuk memiliki anak bagi perempuan yang sudah menikah di Indonesia, adalah masalah pelik yang tidak kita sadari risikonya.

Penonton Pengabdi Setan sendiri sudah tembus 3.468.792. Kabarnya pada November akan diputar di Malaysia dan Singapura. Bahkan, sejumlah negara Amerika Latin, Jepang, dan Polandia sudah turut membeli film ini pula. Entahlah, apakah jutaan penonton yang menjerit-jerit di bioskop itu menyadari masalah dasar si Ibu yang membawanya pada iblis, dan tidak akan merusuhi lagi saudara atau kerabat perempuannya yang sudah menikah dan belum memiliki anak. Yang pasti, jangan sampai ada Ibu-Ibu lain, yang melakukan hal buruk demi menyudahi hujan pertanyaan “kapan punya anak”.

Saya berandai-andai, kelak akan ada film horor tanah air yang menampilkan hantu perempuan yang semasa hidupnya dirusuhi dengan pertanyaan super menyebalkan: “kapan nikah?”.

 

Penulis:

Ratih Fernanndez. Alumnus LPM EKSPRESI Universitas Negeri Yogyakarta. Seorang periset dan penulis lepas, berdomisili di Yogyakarta.

 

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Pertanian sebaiknya jangan disempitkan artinya sebatas produksi pangan, tapi merupakan kehidupan itu sendiri. Meski setiap hari bersentuhan dengan pangan, namun tak banyak...

"Saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah Pancasila. Sila itu artinya asas atau dasar dan...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things — Henry Mille Kabupaten Sumenep merupakan labuhan terakhir di...