Pak Bondan Jurnalis yang Sudah “Naik Haji”

141

 

Di Indonesia, tidak banyak jurnalis sukses “naik haji”. Wujud naik hajinya jurnalis itu berat sekali, kata senior saya di persma dulu. Naik haji terbaik seorang jurnalis adalah menerbitkan hasil liputan investigasinya dalam bentuk buku. Apalagi bila bukunya sukses menguak cerita luar biasa, berdampak luas, dan menampilkan semua jenis keterampilan teknis menggali data maupun keterangan narasumber. Bondan Winarno jelas sudah “naik haji” sebagai jurnalis.

“Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi” adalah karya jurnalistik pilih tanding yang berhasil menelanjangi kebohongan pengusaha maupun pengambil kebijakan pertambangan menjelang runtuhnya Orde Baru. Skandal pemalsuan mata bor yang mengindikasikan ada potensi emas di Busang, Kaltim oleh Michael de Guzman, berhasil dikuak Bondan mendetail. Bondan mengeluarkan ongkos pribadi ke Kanada, Filipina, bolak-balik Jakarta-Kalimantan, dan kota-kota lainnya. Termasuk ongkos untuk membuktikan Guzman memalsukan kematiannya sendiri.

Walaupun tidak akurat betul, film ‘Gold’ (2016) dibintangi Matthew McConaughey bisa menggambarkan rumitnya kasus pemalsuan data tambang di Indonesia, yang berujung pada goreng-gorengan saham Wall Street yang turut dibongkar Pak Bondan tersebut.

Sebelum Bre-X, Bondan melahirkan buku jurnalistik “Tampomas II: Neraka di Laut Jawa”, hasil liputan bencana transportasi memilukan saat masih berkarir di TEMPO. Artinya ketika dia belum menjadi sosok yang matang seperti ketika mengungkap skandal Bre-X, dia sukses menghasilkan feature panjang memikat.

Dua buku tersebut menjadi acuan belajar siapapun yang ingin berkarier sebagai jurnalis. Merugilah bila ada anggota pers mahasiswa atau anak komunikasi tak memiliki Bre-X ataupun buku Tampomas II di rak pribadinya. Jika ingin membaca ‘Bre X’, silakan berburu buku fisiknya di Blok M Square, seingat saya masih ada beberapa eksemplar tersisa. Atau sila baca versi digitalnya di tautan ini: https://drive.google.com/file/d/1A26FgpxKA55ILTWKLoTYvpVgAhGEzo7a/view

Saya heran mendengar kritikan beberapa orang, sebagian saya kenal, soal pilihan politik Pak Bondan sekian tahun belakangan. Sempat juga dulu muncul boikot segala macam terhadap bisnis kafenya. Padahal politik adalah hak pribadi beliau. Sebagai sesama jurnalis, saya tetap pada pendirian begini: kalau ada jurnalis muda ingin mengikuti jejak Bondan Winarno, itu aspirasi yang baik.

Tapi, Pak Bondan memang “curang”, bakatnya terlalu beragam. Beliau bisa menulis fiksi. Punya stamina menulis luar biasa. Sepanjang kariernya sebagai jurnalis berhasil independen. Memiliki keluwesan dan kegigihan menembus narasumber. Piawai membahas isu ekonomi yang rumit menjadi renyah dibaca di rubrik ‘Kiat’, pengelola media yang handal selama di Majalah SWA atau Suara Pembaruan, serta 15 tahun terakhir sukses melakukan rebranding personal: menjadi penikmat kuliner disegani (serta penulis panduan makan yang ciamik).

Lihat betapa lengkap tema yang sudah beliau jelajahi. Dari skandal perusahaan emas sampai mangut lele, semua bisa ditulis Pak Bondan sama menariknya. Andai Pak Bondan meninggalkan sepenuhnya jurnalisme di masa senjanya dan hanya makan enak saja, sebenarnya tak mengapa. Bre-X adalah amal bakti yang begitu besar bagi perkembangan jurnalisme Indonesia. Pak Bondan sudah mencatatkan namanya dalam sejarah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagi banyak orang, almarhum akan dikenang sebagai sosok presenter TV kebapakan yang membuat liur kita menetes tiap berkata “Maknyus!” Untuk saya, Bondan Winarno adalah jurnalis yang sudah “naik haji”, jurnalis sesungguhnya. Salah satu yang terbaik sepanjang sejarah republik ini.

Selamat jalan! Selamat beristirahat Pak Bondan. Hidup dan perjalanan kariermu begitu Maknyus! (Foto: Instagram Selera Kita & Martabak Tropika)

Ardyan M. Erlangga

 

Alumni Lembaga Pers Mahasiswa EKSPRESI, Universitas Negeri Yogyakarta. Penikmat dan Blogger Film. Saat ini sebagai Jurnalis di Vice Indonesia.

 

 

Tulisan lain Yandri: Sensor Film: Seabad Warisan Kolonial yang Menolak Dikuburka

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Indonesia adalah Negara yang memiliki 659 suku bangsa. Pun beragam dari segi agama dan kepercayaan. Indonesia Plural sejak awal. Realitas...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...

Berkaca pada kasus Via Vallen, dulu saya mengira kasus pelecehan seksual sangat susah untuk diselesaikan karena harus melawan dominasi laki-laki,...

Kadang kehidupan tidak berjalan linier. Tidak selalu berpola lahir, besar menjadi balita, sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya anak, punya cucu,...