Perempuan, Depresi, dan Apa yang Bisa Kita Lakukan

210

Apa yang terlnitas di benakmu saat mendengar kabar ada seorang ibu yang tega mengajak ketiga buah hatinya yang masih kecil untuk bunuh diri bersama-sama? Beberapa di antara kita mungkin akan menganggap perempuan tersebut sudah tidak waras lantaran tindakan ‘buta’ yang dilakukannya. Namun, apakah sesederhana itu memahami kasus ibu muda tersebut?

Kejadian ini mengingatkan saya kembali tentang kasus perempuan-perempuan lain di penjuru dunia, baik dari kalangan publik figur maupun masyarakat awam, yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena merasa tidak mampu lagi menanggulangi frustasi berkepanjangan yang dialaminya. Sejauh pengamatan saya, hal ini biasanya dipicu oleh rasa kehilangan ketika ditinggalkan orang yang dicintainya, harga diri rendah setelah mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pelecehan seksual, perkosaan, kondisi pasca melahirkan, dan lain-lain.

Perasaan tidak berdaya, harga diri rendah, serta hilangnya harapan hidup hingga muncul ide atau tindakan bunuh diri adalah beberapa gejala khas yang melekat pada seseorang yang mengalami depresi. Lalu, apakah benar jika ada isu yang menganggap bahwa perempuan memang rentan mengalami depresi?

World Health Mental (WHO) menyebutkan, depresi dipandang sebagai masalah kesehatan mental yang lebih banyak dialami oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Pada tahun 2020, gangguan depresi diprediksi menjadi penyebab utama kedua dari beban kecacatan global dan kondisi ini dua kali lebih umum terjadi pada perempuan. Melihat kondisi tersebut, alangkah lebih bijak jika kita menganalisis bersama terkait kerentanan seorang perempuan untuk mengalami depresi. Hal ini bertujuan agar kita tidak menelan secara mentah informasi-informasi yang kita terima.

Depresi merupakan sebuah gangguan suasana perasaan (mood) yang biasanya ditandai oleh emosi-emosi negatif (misal: harga diri dan kepercayaan diri berkurang, rasa bersalah yang besar, merasa hidupnya tidak berguna, pesimis), memiliki gagasan atau tindakan bunuh diri, tidak berminat untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial, pola tidur terganggu, konsentrasi dan energi menjadi tidak optimal, dan nafsu makan berkurang yang menyebabkan berat badan menurun drastis. Gejala-gejala depresi tersebut, terutama munculnya suasana perasaan yang negatif, bisa rentan dialami oleh perempuan. Mengapa?

Dalam artikel yang ditulis oleh Paul R. Albert, seorang profesor neuroscience dari University of Ottawa, Kanada, disebutkan bahwa perempuan cenderung memiliki sensitivitas emosi yang lebih besar dibandingkan laki-laki dalam hal menjalin hubungan dengan orang lain. Sebaliknya, laki-laki merasa sensitif terhadap urusan karier karena ia memang lebih berorientasi pada tugas atau tujuan yang ingin dicapainya.

Pernyataan yang dikemukakan ahli ini mengingatkan saya pada dua perempuan korban KDRT yang pernah saya dampingi. Dua perempuan yang terdiagnosa mengalami depresi ini menunjukkan emosi-emosi negatif khas yang sama seperti perasaan hampa, tidak berdaya, pesimis, sedih yang berlarut-larut, cemas, maupun takut. Pengalaman itu mendukung argumen saya jika sensitivitas perempuan yang besar membuatnya sering memainkan perasaan saat menghadapi stresor dari lingkungan sosial. Hal ini dapat memicu adanya tumpukan emosi negatif yang bisa mengarah pada stres hingga depresi.

Laki-laki mungkin pernah merasakan emosi serupa, namun menurut ahli, laki-laki yang mengalami depresi lebih menunjukkan gejala mudah lelah, mudah tersinggung, sulit tidur, kehilangan minat untuk melakukan aktivitas yang produktif, dan menghindari rasa frustasinya tersebut dengan melakukan tindakan maladaptif seperti penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang. Hal paling ekstrem yang terjadi adalah laki-laki menggunakan tindakan menyakitkan yang bisa mematikan ketika ia memang ingin mengakhiri luka jiwa yang tidak terselesaikan dengan cara bunuh diri.

Selain besarnya kadar sensitivitas perasaan perempuan yang menjadi salah satu pemicu depresi, sebenarnya apa saja sih, hal-hal yang bisa menyebabkan perempuan rentan mengalami depresi? Mari kita cari tahu jawabannya!

1. Faktor Genetik
National Institute of Mental Health menyebutkan, perempuan yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan jiwa seperti salah satunya depresi, maka ia mempunyai resiko untuk mengalami depresi. Namun, kondisi ini tidak dapat ditelan secara hitam putih saja karena perempuan yang tidak memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan jiwa pun bisa saja mengalami depresi. Kombinasi antara bawaan genetik dengan stresor lingkungan lah yang dapat memicu seorang perempuan rentan mengalami depresi.

Seorang perempuan yang cenderung merasa tidak berdaya dan memiliki vitalitas hidup yang rendah akan mudah merasa frustasi dan sedih berkepanjangan jika pasangan tidak lagi menafkahinya secara lahir dan batin. Pun perempuan yang memiliki pembawaan emosi tidak stabil, maka ia dapat melakukan tindakan maladaptif seperti menarik diri dari pergaulan sosial atau bahkan mengancam untuk bunuh diri ketika merasa tersakiti atau diabaikan oleh orang yang dicintainya.

2. Perubahan Hormon
Paul R. Albert, seorang ahli neuroscience, menemukan fakta bahwa depresi yang dialami oleh perempuan berhubungan dengan perubahan hormon yang dapat mempengaruhi emosi dan suasana perasaannya. Beberapa penelitian juga membuktikan jika sebagian besar gangguan depresi yang dialami oleh perempuan berasal dari meningkatnya aktivitas hormon gonadal saat melahirkan anak.

Selain itu, perempuan yang mengalami Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) juga menunjukkan gejala-gejala psikologis seperti kesedihan yang ekstrem, rasa tidak berdaya, sensitivitas emosi yang tinggi, insomnia, nyeri otot, dan lain-lain. Ada pula perempuan yang mengalami peningkatan resiko depresi lantaran menghadapi transisi dari fase pramenopause menuju menopause. Meskipun demikian, perubahan hormon bukan lah satu-satunya faktor yang memicu munculnya depresi pada perempuan. Ada ahli yang menyebutkan jika aktivitas hormon akan berinteraksi dengan faktor genetik dan stresor lingkungan untuk bisa memunculkan sebuah gangguan depresi.

3. Kemampuan dalam Mengatasi Masalah
Peristiwa-peristiwa negatif yang biasanya memicu seorang perempuan rentan mengalami depresi adalah masalah peran dan tanggung jawabnya di dalam rumah tangga, KDRT, kemiskinan, diskriminasi gender, dan lain-lain. Riset membuktikan jika perempuan memiliki respons yang berbeda terhadap masalah-masalah tersebut daripada laki-laki dan hal ini membuat perempuan cenderung mengalami depresi. Idealnya, perempuan dapat dikatakan sehat secara mental ketika ia mampu mengendalikan situasi dengan kekuatan pribadi yang dimilikinya.

Misalnya, ia bersedia terbuka dengan orang lain jika hendak mencari bantuan, mengendalikan emosinya sendiri dengan cara relaksasi, meditasi, atau ritual agama yang dianutnya, terlibat dalam aktivitas yang produktif meskipun diterpa masalah, dan lain-lain. Sebaliknya, perempuan yang cenderung banyak memendam perasaan sendiri, menghindar untuk menyelesaikan masalah, memandang hidup secara negatif, terlalu larut dalam emosinya yang tidak stabil, dan tidak banyak berinteraksi dengan orang lain, bukan tidak mungkin akan menimbulkan bibit-bibit gangguan depresi.

Nah! Itu lah gambaran umum yang menerangkan tentang alasan perempuan rentan mengalami depresi. Sebagai manusia yang ingin sehat secara jiwa dan jasmani, tugas kita tidak hanya berhenti pada pemahaman mengenai penyebab depresi pada perempuan, namun kita juga harus menyadari kondisi diri sendiri atau orang-orang yang berada di dekat kita saat ini.

Lalu, bagaimana jika kita menemukan diri kita atau orang lain mengalami tiga atau lebih gejala-gejala depresi seperti yang saya sebutkan sebelumnya, alangkah baiknya segera mengikuti petunjuk di bawah ini:

 

 

 

 

 

1. Ekspresikan Perasaanmu!

Jika kita dihinggapi banyak pikiran dan emosi-emosi yang kalut, maka kita bisa mencari keluarga atau orang-orang terdekat yang kita percayai bisa mendengarkan ungkapan hati kita. Perempuan yang mengalami frustasi kadang hanya membutuhkan teman cerita yang bisa mengerti dan berempati terhadap kondisinya, bukan orang yang cepat untuk menilai dan menghakiminya. Namun tak dapat dipungkiri, tidak semua perempuan mudah merasa percaya terhadap orang-orang di sekitarnya. Jika hal ini yang terjadi, maka kita dapat menggunakan media-media lain untuk menuangkan semua kekalutan jiwa kita. Misalnya, melukis, menggambar, menulis curahan hati di media pribadi, bermain musik, menari, berdansa, drama, dan kegiatan seni lainnya yang menjadi minat pribadi kita. Riset telah membuktikan bahwa kegiatan seni dapat meningkatkan emosi positif seseorang.

2. Belajar Menghadapi Masalah secara Efektif

Semua orang menghadapi masalah dalam seumur hidupnya dan tugas kita adalah berproses untuk bisa menghadapi setiap persoalan serta berkembang menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari. Untuk itu, kita memerlukan keterampilan untuk menghadapi masalah yang efektif. Apa saja itu? Ya! menerima baik buruknya kehidupan kita dan tidak membandingkannya dengan hidup orang lain, belajar menjalin pertemanan yang baik dengan orang lain, berani mencari solusi secara mandiri, aktif terlibat dengan aktivitas-aktivitas di lingkungan sosial, tekad untuk berjalan terus menjadi pribadi yang lebih baik, fokus dengan tujuan hidup yang ingin kita capai, meningkatkan rasa syukur dan nilai-nilai spiritual lainnya yang kita anut, mengembangkan pola hidup fisik yang sehat, mengatur pola makan, dan lain-lain.

3. Kunjungi Psikiater dan Psikolog

Saat ini, kehadiran psikiater dan psikolog bukan lagi hal yang tabu untuk kita kenali bersama. Banyaknya kasus seseorang yang mengalami depresi bisa disebabkan oleh salah satunya, keengganan mereka untuk meminta bantuan ke psikiater dan psikolog. Padahal pada dasarnya, seseorang dengan depresi berat yang salah satu ciri khasnya ditandai dengan adanya ide atau percobaan bunuh diri, sudah harus mendapatkan penanganan khusus dari psikiater dan psikolog. Tritmen yang diberi biasanya berupa pemberian obat-obatan yang diperlukan untuk menstabilkan kondisi seseorang dan adanya pendampingan psikososial. Kita harus menyadari sejak dini karena jika kita membiarkan depresi menjalar di dalam diri kita atau orang-orang di dekat kita, maka bukan tidak mungkin hal ini akan berkembang menjadi sebuah gangguan jiwa berat atau biasa disebut dengan skizofrenia. Hal yang tidak kalah fatal lainnya adalah percobaan bunuh diri. (Foto: Shutterstock)

Raras Indah Fitriana (Alumni LPM HIMMAH Universitas Islam Indonesia, kini tengah menyelesaikan studi tesis di Magister Profesi Psikologi Klinis Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta).

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

“Tete dorang ini juga kam pu cucu, cuma de baru datang saja jadi jangan kam marah kitong juga mau pulang.” (Kakek...

Ada anekdot yang pernah penulis baca, tersebutlah seorang remaja di beri tantangan untuk menghasilkan uang dari sebuah lahan sawah, dengan...

Geliat tumbuh kembang pertelivisian Indonesia memperlihatkan grafik kemajuan yang sangat cepat dan luar biasa. Perkembangan itu terlihat jelas ketika Undang-Undang...

Bila Anda menyusuri Kota Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Pecinan. Yah, Semarang merupakan salah satu kota yang terus berupaya...

Yogyakarta tak hanya tentang Malioboro, Kraton atau barisan pantai pasir putih di Gunung Kidul, tetapi juga ada banyak alternatif wisata...