Hikayat Cina Ngapak, Peranakan, Totok, dan Dampak Politiknya

417

Saya tidak pernah sadar bahwa saya termasuk produk kawin-silang, penyerbukan budaya, atau apalah namanya, yang tidak hadir dalam banyak benak masyarakat di Indonesia. Ibu saya peranakan Cina hokkian dari Semarang dan ayah saya Jawa tulen. Saya besar di Gombong, wilayah Kebumen yang, “Ora Ngapak, Ora Penak.”

“Loh, kamu Cina kok ngapak?” begitu sering kali orang berkomentar ketika pertama mendengar logat. Mereka sambil mengerinyitkan dahi seperti melihat makhluk dari planet Namex. Bagi banyak orang, menjadi Cina dan ngapak seperti kontradiksi yang tak terdamaikan. Ini karena Cina identik stereotip dengan tajir, modern, terpelajar, bersih, perkotaan, sementara ngapak sebaliknya, miskin, bodoh, kampung, dan kotor. Padahal, di daerah Banyumasan, Jawa Tengah, spesies cina-ngapak berjibun.

Anggapan bahwa keturunan Cina di Indonesia itu seolah satu, padu, dan homogen membuat kehadiran cina-ngapak seperti saya seolah memerkosa ruang mental soal koordinat pengelompokan sosial. Padahal, keturunan cina di Indonesia itu sangatlah heterogen, ada berbagai macam sifat dan wataknya, yang terkadang tak akur satu sama lain.

Masih dalam perayaan Imlek 2018 ini, baiklah saya secuil memeriahkan dengan tulisan untuk merayakan perbedaan keturunan-keturunan Cina di Indonesia. Dengan harapan pembaca yang budiman tidak lagi menyederhanakan persoalan peranakan yang suka bikin geger sejak zaman pra-kolonial ini.

Pengelompokan keturunan Cina di Indonesia pada umumnya dibagi dua menjadi Cina totok dan peranakan. Meskipun istilah ini sebenarnya sudah tidak lagi dianggap terlalu tepat, namun masih banyak digunakan dalam istilah sehari-hari, dan sedikit banyak menggambarkan. Pengelompokan ini juga di satu sisi menyederhanakan berbagai kecenderungan asal etnis keturunan Cina yang ada di Indonesia.

Di zaman kolonial, para Cina totok dahulu kala adalah orang-orang yang lahir di tanah Cina dan bermigrasi setelah dewasa. Sementara, cina peranakan adalah keturunan yang sudah lahir dan besar di Indonesia. Kalau saklek berdasarkan kelahiran, sebenarnya hampir semua keturunan cina di Indonesia adalah peranakan.

Namun, istilah totok vs peranakan ketika digunakan lebih luwes cukup bisa memetakan secara garis besar pembedaan peranakan cina di Indonesia. Saat ini, yang dianggap cina totok adalah mereka yang masih menjaga budaya leluhur, terutama berbicara bahasa Cina, baik itu mandarin, hokian, atau dialek-dialek lokal lainnya. Kelompok ini biasanya hidup bergerombol di perkampungan Cina. Ketika bermigrasi ke nusantara, mereka datang secara berkelompok melalui kongsi dagang atau semacam migrasi bedol desa.

Di Nusantara, mereka membentuk perkampungan-perkampungan cina atau pecinan. Karena bertetangga dengan orang Cina maka budaya kelompok ini cenderung terjaga. Kelompok totok ini ada di Sumatera seperti Palembang, Medan, dan Kalimantan Barat, seperti Singkawang. Di dekat Jakarta, berkunjunglah ke Teluk Naga dan Anda bisa menemukan kelompok ini. Ibaratnya produk, kalau cina asli di daratan adalah Cina Ori, maka cina-cina totok adalah KW Super atau aspal.

Sementara, kelompok peranakan jamak dipahami sebagai keturunan Cina yang tidak lagi ketat menjalankan adat dan budaya leluhur. Ketidakmampuan berbicara bahasa nenek moyang biasanya menjadi garis pemisah totok dan peranakan. Terlebih, kalau peranakan yang bahasa ibunya ngapak seperti saya.

Cina peranakan muncul karena dua penyebab. Pertama, orang-orang Cina yang bermigrasi secara individu ke nusantara dan tidak tinggal di pecinan. Kedua, orang-orang di pecinan yang terlepas dari komunitasnya. Umumnya ini karena menikah dengan pasangan dari kelompok budaya lain. Alhasil, karena tidak tinggal dengan tetangga-tetangga satu kultur, cina peranakan tidak lagi ketat menjalankan budaya nenek moyang. Kalau cina totok itu KW Super, cina peranakan merentang dari KW1 hingga KW3, seperti saya. Kebanyakan kelompok ini tinggal di pulau Jawa; baik pesisir utara, tanah sunda, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Cina yang Tidak Selalu Akur 
Perbedaan di atas ternyata memiliki banyak rentetan-rentetan mulai dari kebiasaan hidup sehari-hari hingga pilihan politik. Kelompok cina totok seperti enggan mengakui kelompok peranakan dan menghujat kami sebagai orang-orang yang “tercerabut dari akar budaya.” Ibaratnya handphone, ke-cinaan kami di chasing saja.

Bagi kami peranakan, banyak yang tak peduli dengan tudingan itu. Kaum peranakan merasa tidak perlu lagi menjaga “kemurnian” menjadi Cina. Jika sebagian orang totok mengirim anaknya bahkan ke negeri Cina supaya menemukan identitasnya. Kaum peranakan asoy geboy dalam identitas hibrid yang tidak menentu. Di era kemerdekaan awal, sengkarut ini terwakili dalam keributan kelompok asimilasi vs Integrasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, cina peranakan cenderung lebih membaur dengan kelompok etnis setempat. Di tempat saya besar, Anda bisa menemukan bocah-bocah peranakan bermain dengan anak-anak suku Jawa. Di kelompok pehobi sepeda balap dulu, dari belasan anggota, ada dua peranakan, termasuk saya, dan kami biasa-biasa saja. Di tanah Jawa, meskipun Anda bermata sipit dan berkulit kuning, Anda akan tetap dipanggil, “mas” atau “mbak” dan bukan “ko” atau “cie.” Panggilan internal “ko” dan “cie” hanya beredar di keluarga-keluarga peranakan.

Sedikit curcol, awal-awal menetap di Jakarta, saya risih dipanggil “ko” karena terkesan sok akrab. Maklum, hanya kerabat yang terbiasa memanggil dengan sebutan-sebutan itu. Di mata peranakan seperti saya, kaum totok terkesan lebih ekslusif ketimbang peranakan. Mereka asyik di lingkungan dan lingkaran sosial sendiri dan seolah-olah menganggap “pribumi” sebagai ancaman. Masih ada juga yang mengecap “pribumi” sebagai malas dan kalau bisa, jangan dijadikan pasangan untuk menikah. Semoga saya salah.

Dalam politik, suara kelompok totok ini sempat terkumpul dalam partai-partai tionghoa setelah reformasi. Partai beridentitaskan Tionghoa seperti Partai Reformasi Tionghoa Indonesia, Partai Pembauran Indonesia, dan Partai Bhinneka Tunggal Ika menjadikan para totok sebagia lumbung suara. Tak heran, wakil di DPR dari Partai Bhinneka Tunggal Ika, yakni L Sutanto, berasal dari Kalimantan Barat (Kalbar).

Kaum peranakan? Jikapun memilih biasanya merasa tidak perlu partai dengan identitas sendiri. Peranakan merasa cukup terwakili dengan partai-partai yang umumnya nasionalis. “Pokoknya dari bisa nyoblos sampai mati, mami milih partai PDI,” kata mami saya ketika saya tanyakan komentar soal iklan Partai Nasdem.

Ketika Cina Jadi Investor Ketiga Indonesia
Sebagai bagian peranakan, saya merasa persoalan peranakan semakin lama semakin pelik. Di era Presiden Xi Jinping, Cina mendorong perusahaan-perusahaanya untuk berinvestasi di berbagai belahan dunia lain, termasuk Indonesia. Alhasil, investor dari negara mitra dagang terbesar pertama di Indonesia ini merangsek ke posisi ketiga pada 2017 dengan total investasi USD 3,4 miliar dan Hong Kong , yang juga bagian dari Cina, keempat dengan nilai USD 2,1 miliar. Jika dihitung dengan perusahaan-perusahaan Cina di Singapura, mungkin mantan negara tirai bambu ini menjadi yang pertama.

Perubahan ekonomi ini berimplikasi pada politik, ketika kepentingan status quo terganggu dengan dinamika baru ini. Amerika Serikat, sebagaimana tercermin dalam kehadiran Menhan AS Jim Mattis, ketar ketir.

Hubungannya dengan peranakan? Di awal-awal ekspansi, Cina sempat mengumumkan apa yang disebut dengan diplomasi bambu. Diplomasi ini adlaha menjadikan diaspora Cina di berbagai negara sebagai jembatan penhubung. Dan, Indonesia seperti menjadi tempat perang proxy kepentingan global Cina dengan kompetitornya.

Konflik ekonomi yang sedikit banyak menyumbang pada politik ini juga menjadikan siapapun semakin rentan dengan tudingan sebagai “antek cina.” Banyak kampanye hitam tak berdasar menggembar-nggemborkan pengambilalihan Indonesia oleh Cina melalui masuknya tenaga kerja asing. Skenario dengan memanfaatkan proyek reklamasi ini disebut-sebut memanfaatkan keturunan Cina di Indonesia untuk mempermulus penguasaan Indonesia. Padahal, para Cina totok sendiri sudah banyak yang merasa Indonesia sebagai tanah air. Kenapa meragukan sentiment kebangsaan mereka karena data genetis?

Pilkada Jakarta merupakan salah satu tohokan terkuat ketika Ahok kalah dalam Pilkada DKI, sebagaimana disebutkan Denny JA, karena faktor agama. Padahal, sebagian besar masyarakat merasa puas dengan kinerjanya. Penekanan pada politik identitas, dengan menjadikan cina kambing hitam berbagai masalah, rentan terulang pada Pilkada dan Pilpres 2019. Baru-baru ini saja, ucapan selamat Imlek dari Mahfud MD sudah mendapat hujatan karena dianggap menjadi auto-murtad ketika menyampaikan ucapan selamat tahun baru Cina.

Tudingan-tudingan terhadap keturunan Cina berasumsikan pada satu stereotipe dan penyederhanaan. Cina dianggap homogen dan mengabdi pada cina daratan. Padahal, cina itu majemuk, termasuk yang ngapak, dengan berbagai orientasi politik. Karena itu, memahami bahwa keturunan Cina ada berbagai macam, merupakan salah satu kunci untuk tidak terhanyut pada propaganda hitam yang menyeret-nyeret identitas. Sudah cukup menjadikan cina sebagai kambing hitam persoalan Indonesia, saatnya mencari kambing putih (baca, akar persoalan sebenarnya). (Foto: Analisadaily/ilustrasi)

Guruh Dwi Riyanto

Guruh “Ian” Riyanto (Alumni Pers Mahasiswa Natas Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, kini Mahasiswa S2 Politik di Universitas Paramadina)

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Bila Anda menyusuri Kota Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Pecinan. Yah, Semarang merupakan salah satu kota yang terus berupaya...

Ada anekdot yang pernah penulis baca, tersebutlah seorang remaja di beri tantangan untuk menghasilkan uang dari sebuah lahan sawah, dengan...

Berkaca pada kasus Via Vallen, dulu saya mengira kasus pelecehan seksual sangat susah untuk diselesaikan karena harus melawan dominasi laki-laki,...

Membuat Indonesia semakin maju baik butuh ide-ide cemerlang. Kecemerlangan ide itu pun tidak bisa copy paste menjiplak dari kemajuan negara...