Obsesi Pipin dan Optimisme Perempuan Lajang

134

Sejak pertama kali melihat poster film Kenapa Harus Bule? di linimasa media sosial, saya langsung merasa bahwa film ini akan terasa begitu Indonesia.

Adalah Pipin Kartika (Putri Ayudya) si tokoh utama tampil dengan sangat khas perempuan Indonesia kebanyakan (tidak semua) yang saya kenal: berkulit gelap, pakai aksesoris serba mencolok, memoles wajah dengan bedak setebal-tebalnya sementara warna kulit lehernya begitu kontras, gemar merias wajah dengan memilih warna-warna terang pada bibir dan kelopak mata.

Selain itu, deskripsi singkat yang menjelaskan bahwa Pipin merupakan seorang bule hunter, semakin meyakinkan saya bahwa film ini akan membicarakan persoalan mindset orang Indonesia pada umumnya tentang kedudukan satu ras dengan ras lainnya. Ditambah dengan nama Nia Dinata selaku salah satu produsernya, jadilah dengan sigap saya segera menuju ke bioskop pada hari pertama pemutarannya pada 22 Maret 2018 lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

***

Kalau ada adegan yang sekiranya paling berkesan, bagi saya adegan Pipin kecil bersama teman-temannya menonton topeng monyet adalah bagian terbaik sepanjang film ini.Pipin kecil yang kurus dan berkulit gelap berkali-kali menerobos kerumunank awan-kawannya yang tampak riang menonton si Mimin, monyet yang sedang beraksi. Ketika si pengarah monyet berseru “Mimin pergi kepasar!”, seketika itu pula perhatian teman-temannya beralih ke Pipin. Mereka lalu berseru-seru “Pipin Mimin, Pipin Mimin” sambil tertawa-tawa.Mengejek.

Sorot close up ke wajah Pipin dan Mimin secara bergantian dan lambat, terasa begitu dramatis. Ini adalah deskripsi masa kecil yang menyakitkan. Namun harus diakui bahwa keadaan yang demikian, bukan barang langka di lingkungan kita. Saya yakin tidak sedikit perempuan Indonesia dewasa yang punya masa kecil serupa. Dijadikan bahan olok-olokan karena fisiknya dianggap tidak memenuhi standar kecantikan yang berlaku di lingkungannya.

Adegan ini pula yang sekiranya dapat dijadikan dasar yang membentuk pola pikir Pipin dewasa: terobsesi diperistri oleh bule, lelaki kaukasia, yang setahu Pipin memandang perempuan sepertinya adalah perempuan eksotis dan cantik. Pipin lalu memukul rata bahwa semua lelaki kaukasia memiliki pola pemikiran yang sama perihal kesetaraan gender: tidak akan menjadikan istrinya babu dan menghargai perempuan mandiri.

Obsesi ini lalu membawa Pipin ke berbagai kelab malam di Jakarta dan beragam aplikasi kencan untuk berburu bule.Tak cukup di Jakarta, Pipin lalu mengikuti saran teman dekatnya Arik, untuk melanjutkan perburuan bule di Bali.Saran yang ternyata memiliki rencana terselubung untuk menghubungkan kembali Pipin dengan masa lalunya.

 

 

 

 

 

 

Akan tetapi, kenapa Pipin tampak begitu keras berusaha? Pipin sudah menginjak 29 tahun, usia yang menurutnya menjadi batas maksimal perempuan menjalani masa lajang. Dia ingin segera menikah, punya anak, dan menyudahi tekanan sosial yang kerap menghantui perempuan dewasa yang masih lajang.

Di Bali yang memang dikenal sebagai gudangnya bule, Pipin dihadapkan pada kenyataan bahwa pilihannya untuk terlepas dari jerat beban sosial dengan menikahi bule, harus dipikirkan ulang. Bahwa “kulit putih” tidak selalu identik dengan kemajuan dan kesetaraan.Bahwa kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan identitas ras seseorang.

Maka amat patut rasanya memberi semua jempol yang kita miliki untuk Putri Ayudya yang sungguh memerankan Pipin dengan sempurna. Putri adalah salah satujebolan ajang kecantikan besar di Indonesia yang mengusung jargon beauty, brain, behaviour. Ajang ini dikenal menghasilkan perempuan-perempuan muda “berkelas”, yang tentu saja berada pada kutub yang jauh berbeda dengan sosok Pipin Kartika.

 

 

Dalam sebuah wawancara pun Putri mengakui betapa menantangnya memerankan Pipin. Baik secara pembawaan fisik dan pemikiran.
Setidaknya kalau mau dibandingkan dengan perannya di film Tjokroaminoto dan Pesan dari Samudera, Kenapa Harus Bule? adalah pencapaian terbaik Putri Ayudya sejauh ini. Dan tentu saja menambah semarak regenerasi aktris tanah air jika Anda cukup jenuh pada Tara Basro dan Dian Sastrowardoyo.

Saya tidak cukup familiar dengan Andri Chung yang duduk di kursi sutradara. Saya hanya tahu satu film yang pernah ia garap: The Sun, The Moon and The Hurricane, film bertemakan LGBT yang dipublikasikan secara terbatas pada 2015 lalu. Mungkin dari sedikit pembacaan pendek itu bisa memahamkan saya kenapa ada sedikit unsur homoseks yang diselipkan Andri di film ini.Tentu saja dengan cara yang jenaka dan tidak terduga.

Ini sungguh film komedi yang bikin saya terbahak dari awal sampai akhir.Tapi, sekaligus bikin saya berkaca sendiri. Pipin adalah saya beberapa tahun lalu.Yang panik oleh tekanan pertanyaan soal pasangan.Yang panik kalau keluar rumah tanpa bedakan. Yang terjebak dalam hasrat “tidak ingin direndahkan” tapi kemudian tidak mencari nilai unggul apa yang membuat orang-orang akan memperhatikan kalau saya sedang bicara. Yang menganggap satu-satunya kunci pembebas dari segala penghinaan yang seorang perempuan dapatkan, adalah laki-laki rupawan yang mapan.

Kalau ada hal yang agak mengganggu, saya rasa kehadiran sosok Buyung, teman kecil Pipin yang menaruh hati padanya, justru meruntuhkan optimisme bahwa perempuan tetap bisa bahagia tanpa pasangan yang memenuhi semua standar sosial yang ada.

Meskipun tidak ada deskripsi tersurat mengenai potensi Pipin yang bisa membuatnya mendapat atensi tanpa harus menjadi cantik, saya rasa amat disayangkan bahwa proses kesadaran untuk mengandalkan potensi diri secara utuh justru absen.

Ya, kehadiran Buyung justru membawa hawa Disney Princessera jadul ke layar. Mungkin karena sejak awal film ini sudah diniatkan sebagai love story, maka sosok Buyung dianggap penting. Tapi sungguh, jika tak ada Buyung, Kenapa Harus Bule? adalah sumbangan besar yang dapat menggenjot optimisme perempuan lajang. (Foto: Ilustrasi Viu &Ecka Pramita)

 

Ratih Fernanndez. Alumnus LPM EKSPRESI Universitas Negeri Yogyakarta. Seorang periset dan penulis lepas, berdomisili di Yogyakarta.

 

 

Tulisan Ratih:  Mengabdi Setan Agar Disayang

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Bila Anda menyusuri Kota Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Pecinan. Yah, Semarang merupakan salah satu kota yang terus berupaya...

Ada anekdot yang pernah penulis baca, tersebutlah seorang remaja di beri tantangan untuk menghasilkan uang dari sebuah lahan sawah, dengan...

Berkaca pada kasus Via Vallen, dulu saya mengira kasus pelecehan seksual sangat susah untuk diselesaikan karena harus melawan dominasi laki-laki,...

Membuat Indonesia semakin maju baik butuh ide-ide cemerlang. Kecemerlangan ide itu pun tidak bisa copy paste menjiplak dari kemajuan negara...