“Ketika Indonesia dikoyak beragam isu kebhinekaan, bahkan sejak dari ranah terkecil keluarga, apa yang bisa kita lakukan?” 

Begitulah kesan pertama yang saya tangkap tatkala berselancar ria di internet sebelum mengiyakan ajakan seorang sahabat menonton film Lima.

Hadir sebagai film besutan para sineas muda, film Lima digadang-gadang bisa jadi ‘oase’ nasionalisme di tengah keringnya ideologi dan falsafah hidup bangsa Indonesia.

Tak tanggung-tanggung, ada lima sutradara bergerak bersama menggarap film yang mengangkat nilai-nilai luhur pancasila sebagai satu tema besar. Bahkan, masing-masing sutradara memegang peran mengarahkan satu sisi cerita.

Ialah, Shalahudin Siregar (sila pertama), Tika Pramesti (sila kedua), Lola Amaria (sila ketiga), Harvan Agustriansyah (sila keempat), dan Adrianto Dewo (sila kelima).

Film ini juga didukung oleh para aktris dan aktor kenamaan. Beberapa di antaranya, Prisia Nasution, Yoga Pratama, Baskara Mahendra, Tri Yudiman, Dewi Pakis, Ken Kuzaida, dan Alvin Adam.

Rilis pada 31 Mei, film besutan Lola Amaria Production itu pas betul dengan momen hari kelahiran Pancasila, yakni 1 Juni. Sesuai dengan tujuan pembuatannya: menjadikan Pancasila bukan sekadar dihafakan, tapi juga diamalkan.

Cerita dibuka dengan suasana berkabung sebuah keluarga ketika Maryam, tokoh ibu tiga anak yaitu Aryo, Fara dan Adi, yang mengidap penyakit dan meninggal dunia.

Persoalan lalu mencuat, ketika ada keributan tentang bagaimana Maryam dimakamkan. Sebab Maryam muslim, sementara anak-anaknya non islam kecuali Fara.

Asisten rumah tangga keluarga itu, Bi Ijah, digambarkan pula pontang-panting ditolak oknum masjid yang keberatan membantu prosesi pemakaman Maryam, karena ia muslim yang sempat pindah agama.

Di sisi kehidupan lain, ada sosok Fara, seorang pelatih atlet renang yang berada di pusaran sistem korup. Idealismenya diuji tatkala atasannya memaksakan memasukkan atlet ‘titipan’ untuk Asian Games. Ironisnya, alibi memilih ‘anak bangsa’ sebagai simbol persatuan justru dijadikan tedeng aling-aling guna memuluskan akal rakus kecurangan yang “UUD” alias ujung-ujungnya duit.

Sepanjang cerita, penonton disuguhkan oleh sengkarut yang jalin menjalin dalam sebuah anggota keluarga. Dimulai dari Maryam, Adi, Fara, Aryo, dan Bi Ijah. Persoalan pribadi yang sekaligus kini menjadi PR besar bangsa. Perisakan, aksi main hakim sendiri, juga simalakama antara bisnis dan idealisme.

Juga, kenyataan pahit yang harus dikecap Bi Ijah ketika memutuskan kembali ke kampung halaman: kedua anaknya tertangkap mencuri dua buah kakao di lahan milik perusahaan. Seperti ironi yang berkelindan di negeri ini: hukum tajam pada si miskin dan tumpul pada yang kuasa.

Kelima tragedi yang menyelimuti pun berusaha untuk dijahit menyerupai barisan sila demi sila dalam pancasila. Mulai dari Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyakatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tentu, kita semua sudah bisa menerka jika alur film Lima hendak menyampaikan pesan-pesan pancasila yang disuguhkan dalam realitas sehari-hari. Entah yang biasa kita alami secara langsung, kita saksikan di sekitar, atau yang sekadar kita ketahui dari beragam sajian berita koran hingga online.

Lola dkk juga secara gamblang menggiring persoalan di setiap cerita ke titik ‘damai’. Para tokoh ditampilkan sebagai problem solver yang bijak dan menerima kebhinekaan dengan baik. Hingga akhirnya, ujung cerita film pun happy ending.

Ya, apresiasi memang tetap patut diberikan bagi Lima. Ia mampu menyuguhkan ragam realitas lengkap dengan cara penyelesaiannya sekaligus. Secuil kisah anggota keluarga yang berusaha merangkum ragam persoalan kelima sila pancasila.

Hebatnya, semangat gotong royong pada Lima juga tak hanya diucapkan tapi dibuktikan. Hal itulah yang jadi kekuatan tersendiri dalam film ini yaitu melalui produksi film yang dijalankan secara gotong royong relawan hingga penggalangan dana secara online bagi masyarakat luas. Tujuannya, tentu demi sebuah cita-cita karya anak bangsa yang membangun Indonesia.

Membidik kawula muda, Lima juga menggaet massa yang cukup jitu. Niat Lima untuk menghadirkan kembali semangat nasionalisme utamanya di kalangan generasi muda yang relatif mudah terombang-ambing adu domba dan perpecahan, di dunia nyata atau maya, juga pantas diberi pujian.

Meskipun, dalam proses penyelesaian masalah dalam film Lima masih terkesan serba pintas dan dipaksakan. Misalnya saja, yang paling kentara, ketika anak-anak Bi Ijah mencuri yang penyebabnya kurang dituturkan rasional hingga akhirnya dibebaskan begitu saja.

Apa yang ada di dunia nyata, tentu tak sederhana itu.

Ada banyak aral melintang atas konflik kebhinekaan dan agama di Indonesia, yang hingga kini masih berkelindan bahkan tumpang tindih yang sulit untuk diurai ujung pangkal dan penyelesaiannya.

Alhasil, di akhir menonton film ini, saya merasa masih ada pikiran yang menggangu sekaligus “PR” yang entah sampai kapan bisa usai. Ada beragam persoalan ‘pancasialis’ yang mondar-mandir setiap saat di sekitar kita. Dekat dan lekat.

Lantas, apakah yang bisa kita lakukan? Jadi ‘penonton’ yang meratapi atau ikut andil menghadapi?

Penulis:

Nurul Nur Azizah. Alumni Unit Pers Mahasiswa (UPM) Isola Pos Universitas Pendidikan Indonesia. Pembelajar kehidupan yang kini berdomisili di Jakarta.

BERIKAN KOMENTAR