Via Vallen dan Kaum ‘Julid’

1118

Berkaca pada kasus Via Vallen, dulu saya mengira kasus pelecehan seksual sangat susah untuk diselesaikan karena harus melawan dominasi laki-laki, melawan pola pikir maskulin yang mengganggap perempuan itu boleh ‘digoda’. Namun anggapan itu berubah, kasus Via Vallen ini justru menunjukkan bahwa perempuan pun turut andil melestarikan kekerasan terhadap perempuan.

Bagaimana tidak, ketika Via Vallen berani mengatakan dan menunjukkan bukti bahwa dia mengalami pelecehan seksual, perempuan-perempuan lain justru menganggapnya cari perhatian, cari popularitas, bahkan menudingnya sok suci karena menolak ajakan dari pelaku pelecehan. Alasannya, Via Vallen adalah perempuan penyanyi dangdut.

Apa karena Via Vallen penyanyi dangdut lantas ia boleh dilecehkan? Apakah lantas bila menjadi penyanyi dangdut kita tidak boleh protes bila dilecehkan?

Jadi begini ya saudara-saudara netijen yang budiman, bahwa pelecehan seksual itu ada dalam beragam bentuk dan sepatutnya jangan pernah ada pemakluman atas tindakan tersebut!

Tidak ada korelasi apapun antara pekerjaan dan pelecehan seksual. Pelecehan tetap pelecehan.

Pelecehan/pe·le·ceh·an/ n: proses, perbuatan, cara melecehkan. Itu menurut KBBI lho ya. Nah, bagaimana dengan pendapat para netijen yang budiman mengenai kasus Via Vallen ini? Saya yang pas kebetulan selo banget menelusuri komen-komen para netijen di akun media sosial Via Vallen. Hasilnya, banyak perempuan mendadak jadi ‘hakim’ dengan menyalahkan Via Vallen yang menjadi korban pelecehan di dunia maya. Saya tidak habis pikir mengapa bisa banyak perempuan yang justru menyalahkan Via Vallen padahal sudah jelas bahwa Via  Vallen adalah korban pelecehan yang semestinya dibela.

Sebenarnya tidak hanya Via Vallen saja yang mengalami nasib seperti itu. Banyak perempuan yang menjadi korban pelecehan di dunia maya maupun di dunia nyata mengalaminya. Mari kita tengok data yang dihimpun dari Komnas Perempuan tentang pelecehan seksual melalui dunia maya sepanjang 2017. Terdapat puluhan kasus pelecahan yang dialami perempuan yang terdiri dari cyber harassment (20 kasus), cyber violence (14), cyber grooming untuk menipu perempuan sebagai korban (1), cyber harrasment untuk mengancam dan mengganggu (20), illegal content (16), malicious distribution atau ancaman distribusi foto dan video pribadi (19), kemudian rekrutmen untuk drug trafficking atau perdagangan orang (21).

Balik lagi ke kasus Via Vallen, saya merangkum beberapa ucapan dari netijen ketika Via Vallen memutuskan mempublikasikan isi pesan dari pelaku pelecehan:

  1. wajar lah digoda, khan dia penyanyi dangdut
  2. ya baru segitu aja kok lebay
  3. kok gak mau sih, S***** khan bule, ganteng lagi
  4. kenapa sih harus diposting, kenapa gak lapor polisi saja, mau nyari popularitas ya?
  5. Kalo gak suka ya di ignore aja. digoda kayak gitu biasa aja kali.

Komentar-komentar itu membuat kepala saya pening. Bagaimana tidak, pelecehan yang dialami oleh Via Vallen dianggap resiko pekerjaan, dianggap sebagai hal yang biasa, dilecehkan oleh orang asing justru dianggap berkah, kemudian pihak korban disuruh diam saja bahkan dianjurkan untuk menerimanya. Rasanya ingin teriak ‘woiii otak udah pindah di jempol apa?’*Boleh emosi gak ini?*

Tidak banyak korban pelecehan yang berani berbicara mengenai apa yang dia alami, ini baru pelecehan lho, bagaimana dengan korban kekerasan seksual? Para korban baik pelecehan dan kekerasan seksual ini membawa luka sampai di penghujung hidupnya.

Via Vallen cukup berani, sangat berani, dan karena dia seorang public figure maka keberaniannya ini semestinya kita dukung agar bisa jadi contoh untuk para korban untuk tidak diam. Bukan justru dihakimi ya para netijen yang budiman nan julid. Jadi netijen yang julid mah gampang, tapi mbok ya pinter dikitlah, masa kalah pinter dari si-hape sih!

Satu hal lagi, tidak ada korelasi apapun antara pakaian, pekerjaan, tindakan atau apapun itu yang menjadi pembenaran “wajarlah loe diperkosa, dilecehkan, pakaian loe kayak gitu, kerjaan loe kayak gitu.” Sebenarnya pelecehan dan kekerasan seksual itu terjadi karena adanya relasi kekuasaan yang tidak imbang. Berat ye bahasanya? Sederhananya gini, para pelaku kekerasan itu sebenarnya tidak peduli dengan baju yang dipakai korban, tidak peduli dengan pekerjaan yang ditekuni korban, bahkan tidak peduli dengan status sosial para korbannya. Tujuan para pelaku adalah untuk menunjukkan “kekuatannya” memaksakan dominasinya terhadap korban, di situ dia bakal merasa puas.

Sebagian dari kita tumbuh dalam dunia yang memuja maskulinitas, bahwa laki-laki harus kuat, bahwa laki-laki yang harus ambil kontrol dalam segala hal. Perempuan? ya jadi subordinate saja, mengerjakan pekerjaan domestik, tidak usah berpendidikan tinggi lha ujung-ujungnya di dapur, hingga muncul istilah bahwa perempuan itu cukup dengan macak, masak, lan manak atau dandan, memasak, dan melahirkan.

Akan tetapi, kejadian Via Vallen semakin menegaskan bahwa kita tidak hanya melawan relasi kekuasaan yang tercipta akibat pemujaan terhadap maskulinitas, tapi juga melawan perempuan yang terjebak dalam dunia subordinate-nya. Jika kalian para perempuan merasa biasa saja saat dilecehkan, ya udah silakan diam saja, tapi jangan pernah meminta korban lain untuk diam untuk tidak melawan. Karena jika meminta korban untuk diam, maka kalian telah turut terlibat sebagai pelaku pelecehan terhadap kaum kalian sendiri.

 

Tentang penulis:

Irine Octavinati Kusuma Wardhanie. Alumni Pers Mahasiswa Natas, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Saat ini menjadi Produser Lapangan CNN Indonesia

 

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Bila Anda menyusuri Kota Semarang, jangan lupa mampir ke kawasan Pecinan. Yah, Semarang merupakan salah satu kota yang terus berupaya...

Ada anekdot yang pernah penulis baca, tersebutlah seorang remaja di beri tantangan untuk menghasilkan uang dari sebuah lahan sawah, dengan...

Membuat Indonesia semakin maju baik butuh ide-ide cemerlang. Kecemerlangan ide itu pun tidak bisa copy paste menjiplak dari kemajuan negara...

Pagi ini (Rabu, 27/6/2018) saya lebih bergairah karena Argentina semalam menang. Bahkan siaran ulang pagi tadi masih kunikmati kembali gol...