Kadang kehidupan tidak berjalan linier. Tidak selalu berpola lahir, besar menjadi balita, sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya anak, punya cucu, kemudian meninggal. Apalagi dibandingkan penderitaan Ahoker, paling banter cuma ditinggal mantan (Gubernur DKI Jakarta) pas lagi sayang-sayangnya. LOL.

Sementara itu, banyak orang yang tidak memperoleh kemewahan, meskipun sudah berdedikasi dan bekerja keras: dilahirkan di keluarga dengan suku dan agama mayoritas. Apalagi jika bukan dari gender dominan (laki-laki), maka status minoritas sempurna sudah di negeri ini.

Perjuangan minoritas selalu menarik untuk disoroti, salah satunya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang memiliki kehidupan kontroversial, bahkan setelah lama ia dipenjara. Seperti yang diceritakan dalam film A Man Called Ahok (AMCA), film produksi The United Team of Art. Film ini membuat penonton mengharu biru, karena Ahok berani mendobrak pakem yang tidak sanggup dilakukan kaum minoritas lainnya, pun kaum mayoritas pro-kesetaraan. Jangankan melakukan keberanian seperti yang Ahok lakukan, untuk membelanya di media sosial pun kita masih khawatir akan di-unfriend sobat karib, atau minimal ditanyain, “Kamu masih Islam?” Hehe.

Nah, kembali ke film AMCA. Kekurangan pertama Putra Matuta sebagai sutradara adalah tidak memberikan film ini disclaimer: sebelum menonton, mohon Ahoker siapkan tissue secukupnya, dan dilarang mengajak gebetan jika tidak mau terlihat rapuh karena meneteskan air mata.

Oke, kita mulai. Film ini diawali suara asli Ahok yang meminta pendukungnya pulang, saat melakukan aksi solidaritas pada hari penahanannya di Mako Brimob. Adegan awal ini serasa mengoyak kembali luka dalam yang belum semuanya sirna. Bayangkan, akhirnya mendengar kembali suara mantan terindah yang sudah setahun lebih tidak kelihatan. Masak baru mulai udah mewek ajah….

Pembuka ini lumayan membuat shocking, kita diingatkan pada satu peristiwa paling tragis dalam rangkaian isu SARA sejak awal Ahok menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo yang terpilih menjadi Presiden Indonesia, sampai dengan rangkaian demonstrasi besar kasus penistaan agama yang dialamatkan kepadanya. Kasus penistaan agama dengan cepat menghancurkan suara Ahok, tingkat kepuasan penduduk DKI Jakarta atas kinerja Ahok yang mulanya di atas 70 persen dengan elektabilitas lebih dari 50 persen, kemudian anjlok menjadi kurang dari 40 persen.

Dalam film ini, peristiwa politik Pilkada DKI Jakarta itu hanya dipaparkan di awal dan di akhir film. Sementara jika diamati lebih dalam, film ini bisa menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa Ahok memiliki karakter dan melakukan tindakan yang anti-mainstream.

Ayah Ahok, Kim Nam (Denny Sumargo), adalah seorang pengusaha kontraktor yang ketika menjalankan bisnisnya selalu dihadapkan dengan birokrasi berbelit-belit dan korup. Kita sudah familiar dengan istilah, “kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah”. Ahok kecil (Eric Febrian) merasa ayahnya tidak melakukan perlawanan berarti atas budaya korup itu. Kim Nam hanya rela kehilangan proyek-proyek besar dan menerima kondisi bisnisnya terhambat, kemudian pindah haluan menjadi penambang timah.

Sedikit hal yang menjadi pertanyaan saya soal Ahok kecil dalam film ini, kok karakternya kalem dan pendiam, berbeda dibandingkan Ahok in real life?

Anyway, Ahok dan adik-adiknya dibiasakan orangtuanya menyaksikan semua peristiwa yang terjadi dalam keluarga. Ini mengingatkan kita kenapa Ahok merekam dan mempublikasikan setiap kebijakan dan rapat yang dilakukan pemerintahannya melalui YouTube. Agar kita bisa menjadi saksi gimana ia berusaha menegakkan nilai integritas, selain ngasih kita hiburan bagaimana Ahok mampus-mampusin orang-orang yang digaji dengan duit rakyat tapi….

Ahok dewasa (Daniel Mananta) malah lebih berani daripada ayahnya. Ia berusaha melawan sistem korup dengan lebih frontal. Setelah lulus kuliah, Ahok pulang ke Belitung dan ingin menerapkan manajemen bisnis yang bersih, sistematis dan modern, agar bisnis ayahnya bisa sustainable, juga tidak bangkrut. Ia melawan birokrasi korup, salah satunya dengan memboikot dan merumahkan sementara seluruh karyawannya.

“Kita lawan sistem busuk ini, kita buat perubahan” kata Ahok mengajak kawan karibnya Musyono (Edward Akbar) untuk mereformasi binis Ayahnya.

Namun Kim Nam menolak dan menjuluki Ahok sebagai anak kota, anak kuliahan yang hanya memikirkan sustainability bisnis tanpa memikirkan nasib orang banyak. Sound familiar? Yap. Adegan ini seakan-akan menjawab kebijakan Ahok antara lain penggusuran penduduk yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung dan dipindahkan ke rusun. Dalam peristiwa Pilkada DKI Jakarta, ia juga diserang habis-habisan oleh aktivis dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) karena dianggap tidak manusiawi.

Kim Nam mengibaratkan perang melawan birokrasi korup ini seperti berburu harimau. Pada acara makan bersama, ia selalu memberikan nasehat kepada anak-anaknya, ia menegaskan bahwa saat berburu “harimau” ganas, mereka harus membawa saudara kandung, karena saudara kandung akan mempertaruhkan nyawa ketika orang lain lari. Lagi-lagi (atau memang saya doang yang merasa), kita diingatkan kembali dalam kasus penistaan agama, Ahok tidak didampingi lembaga-lembaga bantuan hukum yang terkenal dengan pembelaan hukumnya kepada minoritas, atau pengacara-pengacara terkenal dengan latar belakang Islam moderat yang sangat mungkin bisa lebih meringankan. Waktu itu, kita juga bertanya-tanya, kenapa pengacaranya hanya Fifi Lety? Di mana suara ketua-ketua partai dan tokoh-tokoh politik pendukung Ahok? Ada sih, tapi hanya satu atau dua, tidak massif. Padahal kan koalisinya gemuk? Well, pada akhirnya, elektabilitas partailah pemenangnya. Tidak hanya masyarakat yang takut tidak disholatkan apabila meninggal, parpol pun takut dimasukan dalam daftar partai penista agama.

Kembali ke laptop, pada acara makan bersama, Kim Nam juga mengatakan ia sangat berharap anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang bisa dibanggakan Belitung: dokter yang membangun rumah sakit agar orang-orang Belitung tidak perlu jauh berobat ketika sakit, pengacara dan bupati yang mensejahterakan warga Belitung. Denny Sumargo dengan sangat apik (menurut saya ia bintangnya film ini) meyakinkan mimpi gila Kim Nam kepada anak-anak keturunan Cina, beragama non-Muslim dan bukan keluarga yang kaya, untuk melakukan hal hampir mustahil: menjadi penguasa. Ia percaya dengan pepatah Tiongkok lama “Orang miskin kalah dengan orang kaya, orang kaya kalah dengan penguasa.” Menjadi pemimpin adalah jalan terbaik untuk membantu masyarakat dan membangun bangsa. Di lain kesempatan, Ahok kecil menanyakan kembali apa mungkin mimpi gila Kim Nam diwujudkan: “Kita ini sebenarnya orang Cina atau Indonesia?” yang dijawab oleh Kim Nam “Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini, Hok.” Duh, jleb, mewek lagi deh….

Hal yang juga menarik, adalah adegan mengenai kebiasaan Kim Nam yang selalu membantu orang-orang membutuhkan, meskipun keluarganya bukan orang kaya. Kim Nam akan mengambil obat-obatan di apotek istrinya, Buniarti Ningsing (Sita Nursanti), meminjam barang kepada sahabatnya Koh Asun (Ferry Salim) untuk dipinjamkan kepada orang lain, apapun itu.

Sifat penolong ini menurun ke Ahok kecil, yang mengorbankan tabungannya dan tabungan adiknya, Basuri, agar bisa membayar biaya persalinan tetangga yang miskin. Kita pun kembali teringat bagaimana Ahok menggunakan uang operasional Gubernur DKI Jakarta untuk membiayai warga kurang mampu yang sedang sakit, menebus ijazah warga yang ditahan oleh sekolah, dan bahkan mengembalikan sisanya.

Sebagai film biopik tentang Ahok, film ini justru lebih banyak berfokus pada Kim Nam muda. Porsi adegan Ahok dewasa hanya sedikit, sehingga banyak hal yang seharusnya bisa dieksplorasi, malah mendapatkan porsi kecil. Misalnya serangan isu SARA yang dimulai saat Ahok bertarung menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan menjadi Bupati Belitung Timur. Adegan provokasi terkesan setengah-setengah. Pertarungan Ahok dengan politisi bermental korup hanya digambarkan saat Ahok diminta menandatangani dokumen perjalanan dinas fiktif dan penolakan ide relokasi dana perjalanan itu untuk subsidi pendidikan dan kesehatan masyarakat miskin. Keseluruhan film yang sebenarnya penuh konflik ini seakan kurang ada klimaks. Kurang memuaskanlah.

Film ini diakhiri dengan peristiwa yang juga tragis, yaitu ketika Veronika membacakan surat dari Ahok di hadapan para pendukungnya. Salah satu kutipannya, “Gusti ora sare,” atau Tuhan tidak tidur. Adegan ini cukup menyedihkan, mengingat pada saat ujian itu datang, Veronika dianggap seperti malaikat cantik yang setia mendampingi. “When everything goes wrong, you are the one who is right, Ibu Vero” kala itu…. Namun kemudian publik tercengang, ternyata selama bertahun-tahun Veronika menghianati suaminya. Lengkap sudah penderitaan Ahok. Well, setidaknya penderitaan penonton yang menangis selama film berlangsung, berakhir sudah. Segeralah ke rest room, cuci muka biar mata tidak sembab.

Overall, film ini recommended, apalagi untuk para orang tua. Karena ia mengajarkan bahwa keluarga adalah sekolah terbaik yang memberikan edukasi tentang nilai-nilai kerja keras, kemanusiaan, egalitarianisme, integritas dan anti-korupsi. Akting Daniel Mananta patut diapresiasi, karena hampir mirip dengan Ahok, dari cara berjalan, suaranya yang serak, dan tatapan matanya yang tajam. Hanya momen saat Ahok tersenyum yang kurang disajikan, padahal senyumnya manis (halah). Belitung juga digambarkan sangat indah dengan pengambilan high angle dari udara. Menurut saya, nilai film ini 8 dari 10.

Selesai nonton, kangen kepada mantan terindah kok makin menggebu. Duhhhh.

 

Penulis:

Ilmira. Alumnus Lembaga Pers Mahasiswa Himmah Universitas Islam Indonesia (UII). Pernah berkuliah di Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Akuntansi UII, kini menjadi banker di salah satu bank asing di Jakarta.

 

BERIKAN KOMENTAR