Pers Mahasiswa Tidak Pernah Padam!

243

Sempat beberapa tahun lalu saya menerima pertanyaan, apakah sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada Pers Mahasiswa?

Ada dua alasan waktu itu yang melatarbelakangi pertanyaan kawan saya itu, pertama pascaruntuhnya rezim Militerisme Orde Baru Soeharto, Pers di Indonesia mengalami kebebasan yang luar biasa setelah puluhan tahun terkekang oleh rezim. Pada masa itu, Pers yang kritis, selalu dianggap membahayakan rezim dan akan menghadapi tekanan; breidel atau jurnalisnya dibunuh!

Pers Indonesia di kontrol, tidak sesuai dng selera rezim akan dilibas. Tiap hari rakyat dicekoki oleh informasi-informasi dari rezim melalui kekuasaan Menteri Penerangan. Berbagai cara dilakukan rezim, salah satunya mengatur SIUP, yang menjadi momok industri Pers.

Berbagai Strategi Pers untuk bisa bertahan ada yang kompromi, ada yang halus penyajiannya dan tidak sedikit yang nekat dan bergerilya mengabarkan kebenaran.

Di tengah tekanan itulah, adanya Pers Mahasiswa menjadi alternatif bagi suara kebenaran yang disembunyikan. Pers yang seutuhnya berbasis dilingkungan kampus tidak mempunyai beban sejarah kelam, tidak terkait industri, tidak terkait afiliasi politik hanya semata-mata memegang amanah keberpihakan masyarakat.

Informasi yang benar bagi masyarakat menjadi tanggungjawab. Untuk itulah, Pers Mahasiswa Bergerak menyuarakan kebenaran ditengah represi Pers, menjadi kanal informasi jernih ditengah kepungan represi.

Sekalipun basis gerakan di kampus, Pers Mahasiswa juga tidak luput dari terkaman rezim, dianggap membahayakan. Sejumlah Pers Mahasiswa kritis juga di Breidel, SAS Persma Jember, Indikator Persma FE Unibraw, Lentera Salatiga -sekadar menyebut contoh- dan sejumlah persma di beberapa kampus di Indonesia.

Tahun 1998 Orde Baru tumbang. Soeharto menyerah pada rakyat. Pintu Kebebasan Pers terbuka. Tidak ada halangan bagi Pers Industri untuk menyuarakan kebenaran sekencang Pers mahasiswa.

Dimensi alternatif yang disandang Pers Mahasiswapun lamban laun meredup, sekalipun tidak pernah mati karena yang dibutuhkan sekadar reposisi dalam kerangka media alternatif. Persma tidak benderang namun membara.

Belum sepenuhnya reposisi gerakan persma pasca Orde Baru terbentuk, Pers Mahasiswa kembali menghadapi tatangan baru, berkembangnya era digital.

Selain menghadapi tantangan reposisi isu gerakan, persma menghapi tantangan format, karena era digital segala informasi terlalu cepat, jika persma tidak mempunyai speed, ia juga akan menghadapi ancaman ditinggalkan.

Dalam dua latar belakang itulah yang menjadi alasan pertanyaan kawan saya. Namun waktu itu saya tidak bisa menjawab tegas.

Sebagai individu yang juga banyak belajar dan menggiatkan aktivitas pers mahasiswa, saya tidak yakin persma akan padam, karena pers mahasiswa dalam kerja jurnalistik membawa ruh kemanusiaan, membawa jiwa masyarakat yang berhak atas keadilan. Nilai ini tidak akan pernah padam dalam gempuran apapun. Persma tidak benderang bukan berarti mati, saat itulah persma mengobarkan bara.

Dugaan saya tidak keliru, bara Pers Mahasiswa itu nyata. Insvestigasi mendalam teman-teman Balairung terkait perkosaan dalam lingkup akademik di UGM telah membuka mata kita semua, bagaimana kultus institusi akademik bebas dari pelecehan dan kelerasan seksual seketika pudar, kampus menjadi ancaman bagi perempuan! Kampus pun marah dan tidak adil juga mensikapi kasus ini.

Belum berakhir kasus UGM, Pers Mahasiswa Suara Usu Medan, harus dinonaktifkan pengurusnya karena memuat cerpen yang dianggap menyalahi moral karena cerpen tersebut diindikasikan cerita yang memuat unsur LGBT. Pupus juga pandangan saya terhadap kampus sebagai tempat belajar, mengasah alar, nalar dan pikir.

Belum berakhir kisah Suara Usu, kembali saya dibukakan mata terkait pelecehan seksual dari Majalah Mahasiswa Ideas yang tegas memprotes Kampus Jember yang tidak tegas melawan kekerasan seksual, sehingga terkesan menutup-nutupi.

Peduli terhadap isu-isu kemanusiaan, HAM, Women Rights, saya kira adalah gagasan bagus dalam menguatkan posisi Persma saat ini. Persma bisa menjadi bagian dari kampanye besar terhadap keadilan sosial. Sekalipun ini sudah dilakukan, fokus pada sejumlah isu khusus bisa mempertajam nilai gerakan persma.

Balairung, Suara Usu dan Ideas, mungkin yang telah muncul, saya yakin sudah ada banyak Persma yang melakukan tindakan serupa. Tinggal menunggu waktu.

Saya pun akhirnya bisa tegas menjawab, Persma tidak akan pernah padam dan tidak ada selamat tinggal padanya, yang ada selamat tinggal ketidakadilan kampus!

Penulis:

Eko Bambang Subiantoro; Alumni pegiat pers mahasiwa LPM Indikator FE Unibraw dan Direktur Riset PolMark Indonesia.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Suatu siang beberapa hari lalu, tiba-tiba berbagai group media sosial kelompok jurnalis dan aktivis yang saya ikuti geger. Sebuah screen...

Sempat beberapa tahun lalu saya menerima pertanyaan, apakah sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada Pers Mahasiswa?

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...