Tiga Episode Kehilangan

95
pixabay.com

SATU

Bandung, Januari 2002

#Widya

{Neng Iya, telepon Mami. Aya nu penting.}
SMS (pesan singkat) dari Mami, ibuku, mengagetkanku. Ada apa gerangan. Ada yang sakitkah? Ataukah Bi Euis yg sedang masa-masa penyembuhan, jangan-jangan ke rumah sakit lagi.

Segera aku keluar dari kosan. Arahku tertuju ke wartel Gerlong Girang di sebrang Koramil. Dompet kecil sisa uang 100 ribu kubawa serta.

Wartel kalau hari biasa gak terlalu penuh. Beda cerita kalau malam minggu. Kucari no wartel Kuningan yang biasanya kuhubungi kalau minta uang bulanan atau minta uang buku ke Mamih.

“Assalamualaikum, A ini Neng Iya, Widya, anaknya Mamih Nurhayati. Boleh disambungkan?” AKu meminta penjaga wartel A Agus untuk menyambungkan telepon wartel ke Mamih.
“Oh Neng Iya. Bentar, ini Maminya juga ada di luar.”

Krreett. Pintu wartel ditutup. Telepon masih nyala. Billing di wartel Gerlong sudah 4000. Interlokal.
Kreet. Pintu dibuka. Hening.
“Aslkm, Neng Iya, huuuhuuuuu, Bi Euis tos teu aya. Nembe ngantunkeun di bumi.”
“Astagfirulloh, Mih nu leres. Bohong, ahh……Ya Allah Bi Euis, huuuuuhuuuhuuu.”

Kami berdua saling bertangisan di telepon. Bi Euis sudah meninggal dunia. Firasat tidak enak itu menjadi kenyataan
“Enggal geulis geura uih. Enjing subuh weh. Ayeuna mah tos wengi moal aya mobil” Mamih menyuruhku segera pulang ke Kuningan.

“Muhun atuh, Mih. Neng uih subuh.”
Berita dari Mami, membuatku shock. Bi Euis adik kandung Mami yang selama ini suka mengasuhku. Bi Euis yang menjadi pelarianku saat dimarahin Mami. Telah meninggalkan kami. Terasa sakit hati ini kehilangannya.

Selama ini Bi Euis menderita sakit jantung. Tubuhnya beberapa bulan terakhir melemah. Ia meninggalkan seorang anak perempuan satu-satunya, Ade Denok.

Kondisi Bi Euis liburan lebaran kemarin masih sehat, meski terlihat lemah. Bi Euis punya penyakit jantung. Satu-satunya dari saudara Mami yang memiliki penyakit Jantung. Jantungnya lemah. Beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Bi Euis sudah bagaikan ibu kedua bagiku. Anaknya De Denok, sudah kuanggap adik sendiri.

Jam 3 subuh aku sudah berdiri di terminal Ledeng. Setengah empat baru dapat angkot Ledeng-Cicaheum. Dari Terminal Cicaheum bus Damri menuju Kuningan sudah bersiap, jam 5 subuh berangkat, penumpangnya hanya terisi setengah karena bukan weekend.

Tiketnya 25 ribu sampai terminal Cirendang Kuningan. Dari Cirendang sambung angkot ke Pasar Baru Kuningan. Dari Pasar Baru sambung angkutan pick up L300 ke kecamatan Hantara, Desa Tundagan. Meski meninggalnya di Ciniru, jenazah dibawa ke rumah Abah dan Enin di Tundagan. Dimandikan dan dishalatkan di Tundagan.

Azan duhur berkumandang, saat mobil L300 memasuki kampung Warung Doyong. Secepat kilat kuberlari ke rumah Abah. Kulari-lari kecil sambil menangis terisak. Jalan menanjak membuatku terengah-engah. Cape tidak dirasa.

Dekat rumah kulihat, Mamih, Abah, Enin, Uwa-uwa, Bi Kokom, sudah berkumpul. Secepat kilat aku menghambur ke pelukan Mamih.
“Mamihhhhhhh, Bi Euis mana? Mihhh…….”
Sekeliling terasa gelap, badan lemas. Tubuh jatuh di pelukan Mamih.

Jam 2 siang aku terbangun. Saudara-saudara Mamih mengelilingiku. Kakakku, A Indra, juga sudah datang dari Bogor. Jenazah Bi Euis sudah dimakamkan pukul 08.00 pagi tadi. Makamnya dekat di belakang rumah, areal pemakaman keluarga di atas bukit, dikelilingi sawah hijau, dan dinaungi gunung-gunung kecil dan dijaga hutan Tundagan yang masih alami.

Suatu saat bila sudah sampai umurku dan menua. Aku ingin dimakamkan dekat Bi Euis. Kehilangan Bi Euis kehilanganku yang paling dalam.

DUA

Bandung, November 2005

#Jun

Sore ini aku antarkan Widya ke Rumah Sakit Bandung Sehat di atas bukit. Posisinya ada di atas kota Bandung. Sejuk dan segar suasana rumah sakitnya. Calon bapak mertua Pak Darmono rencananya akan dioperasi prostat besok.

Hari Jumat sore beres kuliah Hukum Humaniter aku segera memacu motor ninja 2 tax-ku ke simpang Dago. Janjian dengan Widya di K-Mart Simpang Dago. Dari jalan Cimandiri menuju arah Jl Dipati Ukur, kulihat Widya sedang duduk di depan K-Mart Simpang Dago. Ia tersenyum padaku.

#Widya

Sudah 7 bulan kami bersama. Selama ini kekasihku A Jun tak pernah mengecewakan. Setia dan selalu ada kalau kubutuhkan. Pertengkaran-pertengkaran kecil mewarnai kehidupan percintaan kami. Tanpa itu mungkin kisah kasih kami terasa hambar.

Hari ini aku mau bawa A Jun ke Bapak. Memperkenalkan dan meminta restunya. Kebetulan besok bapak akan dioperasi saluran prostatnya.

Sudah saatnya melangkah ke tahap berikutnya. Semester sekarang aku ambil skripsi, tahun depan lulus, aku harap sudah memiliki pendamping wisuda. Diantara beberapa laki-laki yang dekat hanya A Jun yang serius menikah. Mamih sudah setuju sama A Jun sewaktu kubawa ke Kuningan.

Itu dia datang. Aku tersenyum padanya. Kuambil tangan kanannya dan kucium. Dia langsung mengelus lembut rambutku dan mengacak-acaknya. Kebiasaan mengesalkan tapi sekaligus romantisnya dia seperti itu.

Arjun kakak kelasku di organisasi, ketua organisasi mahasiswa. Panggilannya Jun, aku manggilnya Aa atau A Jun. Kalem dan lembut orangnya. Tapi kalau berbicara semua orang langsung perhatian padanya.

Rambut panjang sebahu tipikal aktifis, kacamata minus, dan percaya diri. Motornya berisik dia pakai 2 tax, mereknya Ninja. Aku gak terlalu suka, bikin telinga sakit. Tapi kata dia motor ini sangat kencang. Dan A Jun sangat menyukai motornya.


Aku dan Widya kemudian berboncengan menuju rumah sakit. Memasuki bangsal kelas 2 yang berisi 3 pasien, Widya mengenalkanku dengan calon mertua, Pak Darmono. “Gimana Pak, Sehat? Kenalkun Arjun temannya Widya.” Aku salaman dengan bapaknya Widya.

Pak Darmono sudah lama mengeluh sakit di saluran prostatnya, besok sudah diputuskan operasi pembersihan saluran.

“Oo, ini toh yang suka diomongin Widya sama Bapak. Ada yang serius hubungan ngajak nikah,” sambut Pak Darmono sambil terus megangin tangan. Aku tersenyum tersipu malu. Ternyata sering diomongin Widya ke bapaknya.
“Inggih, pak. Iya.” Sambutku campur bahasa Jawa sekenanya.

Bapaknya Widya asli orang Jawa, Madiun. Ibunya Mamih Nurhayati orang Sunda Kab Kuningan. Mereka sudah lama bercerai. Tapi hubungan anak dan bapak masih terjalin.

Selama kuliah Widya meski kos di daerah Ledeng, tapi sering nginap beberapa kali di rumah bapaknya. Untuk tinggal serumah merasa tidak enak dengan ibu tirinya.

“Yo wisss, Nak Jun. Bapak restui hubungan kalian yah. Nanti kalau kalian nikah di Kuningan, bapak bakal sewa 1 bus ajak semua keluarga yang ada di Bandung ke sana. Jaga baik-baik Widya yah,” tak kusangka itulah wasiat terakhir bapaknya Widya kepada kami.

Widya malam itu menetap di rumah sakit, jagain bapaknya persiapan operasi. Besoknya kakaknya Kang Indra dan adik tirinya Mintarti yang aplus gantikan dari pagi. Operasi rencananya dilaksanakan jam 2 siang. Aku dan Widya rencana ke rumah sakit kembali jam 3 sore.

Jam 3 sore kami tiba di rumah sakit. Hari Sabtu off gak ada kuliah. Jadi bisa jemput Widya ke kosannya. Rumahku di Pasir Koja, jam 1 sudah stand by di kosannya Widya. Ajak makan siang dulu di Ampera terminal Ledeng. Beres makan langsung menuju rumah sakit.

Sampai di rumah sakit Pak Darmono masih di ruang operasi. Mengisi waktu aku salat dulu ke musala. Tak terasa 2 jam berlalu. Jam 5 operasinya baru selesai. Pak Darmono diantarkan ke ruang penyembuhan.

Jam 6 sore Pak Darmono mulai siuman. Kami bersyukur operasinya sukses. Aku dan Widya menunggu dulu di luar kamar. Kalau semua anaknya menunggu di dalam kasihan kamarnya penuh. Kasihan pasien lainnya yang sekamar.

Tak lama aku mencium wangi parfum atau bunga yang sangat wangi. Aku saling berpandangan dengan Widya. Ternyata ia pun sama menciumnya. Kami tablo -diam mematung- beberapa detik, mungkin 30 detikan sambil berusaha lebih keras mencium aroma itu. Aneh aroma rumah sakit biasanya wangi karbol. Ini kenapa wangi bunga yang sangat tajam dan harum.

Tak lama Mbak Mintarti manggil.
“Junnnn, Neng Iyaaa…..kemari bantu Mbak. Bapak koleps.” Terdengar suaranya panik memanggil kami berdua.

Segera saya masuk ke kamar, terlihat bapak pendarahan di luka operasinya. Bapak yang sudah sadar terlihat kesakitan dan seolah-olah mau muntah. Saya berlari keluar memanggil perawat. Rumah sakit ini belum ada bel darurat sangat merepotkan pasien.

Dua orang perawat datang, sambil membawa mesin penghisap cairan. Cairan dari luka operasi bapak disedot, terlihat warna merah bercampur darah. Keduanya panik. Perawat yang perempuan segera memanggil dokter jaga.

Belum sempat dokternya datang terlihat Pak Darmono telah menghembuskan napas terakhirnya. Kang Indra yang sedang membimbing membaca syahadat terlihat shock dan menangis. Air matanya menetes perlahan.
“Bapakkkk…….,” teriak Widya dan Mbak Mintarti.

Saya segera menenangkan keduanya ke bawah. Saat dokter datang, semua telah terlambat. Dokter menyatakan Pak Darmono sudah meninggal. Kak Indra sempat marah ke dokter dan perawat. Mengapa operasinya bisa gagal? Adakah malpraktek? Mbak Mintarti akhirnya menenangkan kakak tirinya.

Perasaaan sedih masih berkecamuk sesegera mungkin jenazah Pak Darmono diurus untuk dimakamkan.
Hari itu, pertama kalinya aku dan Widya bermalam mingguan di rumah sakit. Kami tidak tidur sampai subuh dan mengantar jenazah ke rumah Bapak di Dago. Setelah saudara berdatangan aku baru bisa tidur di sofa di serambi halaman.

TIGA

Kuningan, Maret 2019

#Jun

Saat ku sendiri, ku lihat foto dan video. Bersamamu yang telah lama kusimpan, hancur hati ini melihat semua gambar diri yang tak bisa, ku ulang kembali

Ku ingin saat ini, engkau ada di sini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah….

Bukannya diri ini tak terima kenyataan.
Hati ini hanya rindu. Alunan lagu dari penyanyi Andmesh Kamelang mengiringi kepergianku dari kota kecilmu, Kuningan.

Terasa baru kemarin aku antar dirimu ke UGD Rumah Sakit Kabupaten. Setelah mencari-cari kamar, ditolak di rumah sakit swasta dengan alasan penuh atau karena BPJS, entahlah, akhirnya kami mendapat kamar. Kebetulan rumah sakit ini memiliki dokter spesialis kulit dan spesialis penyakit dalam sekaligus.

Dua hari kemudian dari UGD itu, Papa berdiri di pusara kamu. Memeluk anakmu Sena yang baru 2 tahun. Entah mengapa anakmu diam seribu bahasa. Seolah paham mamanya ada di dalam makam yang baru itu.

Mamih dan saudara-saudaramu sudah pulang ke rumah. Derai tangis mereka mewarnai pemakamanmu. Maafkan papa yang gak ada di sampingmu saat kau pergi meninggalkan kami. Maafkan papa, Widya.

Kembali kurapalkan surat Yaasiin sambil membaca buku Yasin di tangan. Kupanjatkan doa-doa terbaik semoga kau bisa tenang di alam kuburmu. Janji Allah kepastian, kamu insya Allah syahid. Tak akan dipersulit di alam kubur. Tenangkan hatimu sayang. Tenangkan pikiranmu. Menangislah seperti papa menangis. Anak-anakmu: Sena, Minerva, dan Aphrodite akan papa jaga baik-baik.

#Widya

Pah, setelah ditinggal papa semalam, kenapa Widya merasa kesepian yah? Padahal hanya 2 hari kita pisah. Sabtu, papa sudah ada di Kuningan kembali.
Semalam, Widya mimpi bertemu Bi Euis, Enin, dan Bapak. Mereka memeluk Widya dengan hangat, menciumi Widya, dan mengelus-elus rambut Widya. Widya hanya bisa menangis dalam pelukan mereka. Tapi Widya kangen dengan papa dan anak-anak.

Kata perawat, besok suntikan terakhir obat alergi via infusan. Sabtu sudah boleh pulang. Tapi entah, Widya pulang ke mana? Widya merasa betah di Kuningan. Widya malas pulang ke Jakarta, ke rumah kita. Tapi, apakah papa mau tinggal di Kuningan juga? Cari pekerjaan baru di sini dengan gaji UMR di bawah Jakarta.

Widya takut, baca di internet penyakit alergi bisa akibatkan kematian. Na’udzubillah. Widya masih ingin mengurus anak bayi kita Aphrodite. Anak perempuan kita Dite harus mendapat kasih sayang ibu seutuhnya. Pah, cepat balik ke Kuningan.

Love,
Widya.


Catatan terakhir istriku baru kubaca seminggu kemudian setelah ia meninggal saat beres-beres barang bawaannya. Catatan itu tersimpan rapi dalam buku harian kecilnya seukuran buku saku. Mimpinya bertemu Bi Euis, Enin, dan Pak Darmono seolah isyarat kepergiannya.

Bandung, 2 Juli 2019.

Juniar Syah. Mantan Ketua UPM Isola Pos UPI Bandung dan DEN 2002 PPMI Nasional. Mantan Ketua Penerbitan LITERAT Satrasia UPI. Sekarang buruh pabrik di Kab Bandung. Ayah dari 3 orang anak yang sedang lucu-lucunya. Bukan penulis tapi senang belajar menulis.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Suatu siang beberapa hari lalu, tiba-tiba berbagai group media sosial kelompok jurnalis dan aktivis yang saya ikuti geger. Sebuah screen...

Sempat beberapa tahun lalu saya menerima pertanyaan, apakah sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada Pers Mahasiswa?

Bagi orang yang pernah berkecimpung di dunia gerakan, maka kondisi hari ini patut menjadi refleksi bersama, terlebih statement salah satu...