Merayakan Indonesia Lewat Pangan Pokok Nusantara

28

Buah yang berkhasiat, berwarna kuning, manis rasanya dan hanya berbuah sekali dan setelah itu pohonnya mati… itulah pisang.

Kalimat di atas adalah penutup bab 5 buku karangan Ari Ambarwati berjudul “Nusantara Dalam Piringku, Merayakan Keberagaman Pangan Pokok”. Bab ini membahas tentang buah pisang.

Saya termasuk penyuka pisang dan berbagai olahannya, tapi sejujurnya baru tahu kalau buah ini termasuk pangan pokok dan mengandung karbohidrat.

Pantaslah jika pisang memiliki banyak macam olahan masakan, seperti di daerah saya, Sulawesi Selatan, ada pisang ijo, pisang epe’, dan barongko. Sering juga ibu saya memasak nasi dicampur potongan pisang yang belum manis.

Sesuai judulnya, buku Nusantara Dalam Piringku ingin merayakan keberagaman pangan pokok. Jagung, umbi-umbian, sagu, sorgum, beras, dan pisang. Meski beras kini seolah merajai makanan pokok di Indonesia, ternyata sagu, sorgum, dan umbi-umbian lebih dulu menjadi pangan pokok sebelum padi masuk dan dibudidayakan.

Salah satu pesan yang juga ingin disampaikan Ambarwati dalam bukunya, bahwa Nusantara kaya akan pangan pokok, bukan hanya nasi. Ada 77 bahan tanaman berkarbohidrat yang bisa dikonsumsi sebagai makanan pokok. Namun tidak semuanya dimuat dalam buku setebal 166 halaman ini.

Pada bab 1, ada beragam fakta seputar pangan pokok, termasuk sejarahnya di Indonesia. Yang mulai menarik kala Ambarwati menulis soal pangan pokok dan gaya hidup. Beberapa tahun terakhir memang kerap hadir artikel tentang alternatif pengganti nasi yang lebih sehat. Bagian ini akan disenangi pegiat gaya hidup sehat.

Lanjut ke bab 2, satu jenis pangan pokok dibahas, yakni jagung. Buku ini pun kian menarik karena bukan hanya soal kandungan gizi dan sejarah dari tanaman zea mays itu, tapi juga ada cerita legenda tentang jagung. Misalnya kisah dari Flores Timur berjudul Benih Jagung dan Sepenggal Kisah Perempuan Lamaholot.

Setiap bab yang membahas tentang satu pangan pokok, pada bagian akhirnya memuat beragam resep yang berbahan dasar tanaman itu. Misalnya dari bahan singkong ada keripik singkong, combro, dan gethuk. Lalu pisang rai, pisang epe, dan pisang goroho.

Buku bersampul putih ini ringan dibawa dan cocok dibaca santai namun isinya ilmiah dan informatif. Ada informasi kesehatan, sejarah, bahkan humor yang kadang satire di dalamnya.

Gambar dan infografis yang terpisah dengan tulisan menjadi pelengkap sehingga tidak bosan membacanya. Ambarwati, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Malang ini, merayakan pangan pokok Nusantara dengan menyajikan buku ini.

Rezki Alvionitasari, Alumni Lembaga Pers Mahasiswa Hukum Universitas Hasanuddin, kini sebagai Jurnalis Tempo

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Suatu siang beberapa hari lalu, tiba-tiba berbagai group media sosial kelompok jurnalis dan aktivis yang saya ikuti geger. Sebuah screen...

Sempat beberapa tahun lalu saya menerima pertanyaan, apakah sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada Pers Mahasiswa?

“Wah makeupnya kok STD banget sih” “Makeup-nya B ajah, siapa sih periasnya” “Pengantinnya gak manglingin, jadi gak istimewa” See, pernahkah kalian mendengar komentar seperti...