2013 saat itu. Kami dalam perjalanan menuju ke Timur. Pesawat dari Jakarta mendarat di Lombok, lalu kami menunggu rombongan Komisi Kepemudaan Keuskupan Denpasar menjemput dengan kendaraan.

Kami hendak ke Sumbawa Besar, menjumpai para pendamping orang muda di sana. Kami hendak berbagi cinta, berbagi cerita dan berbagi kekuatan juga yang sejatinya, kesemuanya berasal dari Allah semata.

Perjalanan dari Lombok ke Sumbawa Besar bukanlah perjalanan yang mudah. Kami harus melewati jalanan panjang di tengah malam, termasuk melewati daerah berawa-rawa yang sangat menyengat aromanya.

Setelah daratan habis, kami menyeberang dengan kapal ferry yang cukup besar dan fasilitasnya baik. Semua anggota rombongan, ada sekitar 5 orang saat itu, turun dan memasuki lounge yang terang dan ada TV-nya.

Aku hanya sebentar di ruangan yang terang itu. Aku naik ke dek tertinggi, lalu duduk dalam kegelapan. Aku membiarkan tubuhku diombang-ambingkan gelombang lautan selama beberapa waktu. Setelah itu, aku berhati-hati berjalan ke pagar. Mestinya aku memakai pelampung sebagai bagian dari prosedur keselamatan, tapi aku tidak melakukannya. Entah kenapa; barangkali karena naluri petualangan itu begitu kuatnya sampai mengalahkan kehati-hatian.

Di pagar aku berpegangan, masih diombang-ambingkan gelombang, memandangi laut yang hitam, dan langit yang hitam. Begitu hitamnya lautan sehingga lebih tampak sebagai kubangan minyak raksasa. Begitu hitamnya langit sehingga tampak seperti jelaga saja. Aku sendirian saja di sana, mengalami malam, gelap, angin kencang dan gelombang.

Di Sumbawa Besar, keesokan harinya, kami mendengar kisah-kisah tentang malam, gelap, angin kencang dan gelombang yang berbeda dari orang-orang muda.

Sungguh suatu keprihatinan mendalam, ketika orang-orang muda, yang mempunyai peluang hidup paling besar dibandingkan tahap usia lainnya, seringkali justru mempunyai harapan hidup yang paling kecil.

Dari kisah-kisah yang disampaikan, ada soal-soal diskriminasi berbasiskan religi. Ada soal-soal identitas sosial yang terancam. Ada soal-soal konflik dan kekerasan. Ada ketakutan, kecemasan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang terbelenggu untuk menemukan jawaban.

Rm. Venus, seorang di antara kami, lantas bercerita tentang burung gereja. Sejak dahulu kala, orang menyebut burung-burung kecil berwarna cokelat itu dengan nama burung gereja. Mengapa? Karena burung-burung itu memang suka sekali berada di dalam dan di halaman gereja. Kemudian datang suatu masa ketika jendela-jendela ditutup karena gereja menggunakan AC. Burung-burung itu pun pergi ke manapun; ke ladang, ke pepohonan, ke hutan, bahkan ada yang singgah di masjid. Yang menarik adalah, kendati burung-burung itu tak lagi berada di gereja, orang tetap menyebutnya burung gereja.

Melalui kisahnya, Rm. Venus hendak menyampaikan pesan tentang identitas yang melekat. Identitas kekatolikan, bahkan di tengah situasi krisis sekalipun, tidak akan mudah lenyap atau hilang karena iman adalah rahmat dari Allah sendiri. Itulah kenapa kita seringkali berdoa: Tuhan, tambahlah selalu imanku.

Aku hanya sekadar tamu di tanah itu. Aku segera pergi setelah usai sesi. Rm. Yomi, adalah satu di antara sekian banyak yang setiap hari mengalami realitas itu.

Pengalaman sebentar bersama Rm. Yomi adalah pengalaman tentang malam, kegelapan, angin dan gelombang. Pengalaman itu sangat menginspirasi dan meneguhkan, ketika aku hingga kini, melintasi malam-malam gelapku sendiri.

Aku masih mengarungi gelombang kehidupan, Rm. Yomi.. sementara Romo telah bebas dan pergi semakin jauh ke Timur.. ke arah terang.. dan terang yang sejati adalah Kristus sendiri.

Selamat menjumpai Kekasihmu yang sejati, Romo.. Dia yang telah menemani Romo dalam malam dan gelap, kini menyambut Romo dalam terang yang kekal. Jadilah pendoa bagi kami semua. Jadilah sahabat dalam malam, gelap, gelombang dan angin kencang. Temanilah kami merindukan terang, dalam perjalanan menuju cahaya.

*Artikel ini juga dimuat di orangmudakatolik.net

BERIKAN KOMENTAR