UMKM: Siasat Bersemi di Masa Pandemi

128

Kita ini seperti berada di biduk berbeda namun menghadapi badai yang sama.

Efek dari Pandemi Covid-19 telah menyebabkan terpuruknya berbagai sektor, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terutama usaha mikro dan ultra mikro. Sejumlah pihak termasuk pemangku kebijakan mendorong pelaku usaha untuk memasarkan produk melalui online atau e-commerce.

E-commerce sekarang menjadi sebuah solusi bagi pelaku usaha yang masih menjalankan usaha dan bisa memasarkan produknya. Menurut informasi yang dihimpun, peningkatan transaksi di platform online terbilang signifikan.

Seperti data dari Bukalapak, produk hobi outdoor, indoor, olahraga naik 70 persen, produk kesehatan naik 90 persen, makanan minumal herbal naik 200 persen, dan transaksi makanan pokok naik 350 persen. Belum lagi akun yang menjual masker, vitamin dan produk kesehatan lainnya.

Saat ini, kita semua sedang terkoreksi baik yang sudah melesat atau baru mulai. Dan tantangan kita semua ialah sama-sama survival, karena kita sudah melewati masa paniK dan khawatir. Sebenarnya yang tetap bersemi ialah semangat dan keyakinan kita.

Jurus jitu bertahan di masa pandemi bagi para pelaku UMKM:

1. Mental Survival

Paling utama dulu ialah jaga kesehatan karena bisa menjadi risiko jika kita mengabaikan. Lalu tenang dan sabar untuk kembali ke core bisnis, karena semua serba survival mode. Kemudian menerima kondisi yang tidak pernah diduga ini, tidak hanya kita tapi semua orang terdampak.

Dimulai dengan cara efisiensi di beberapa cost pengeluaran dan fokus pada apa yang bisa kita ubah baik barang yang dijual maupun strategi. Mental disiapkan jika kita harus turun langsung dan pegang sendiri usaha di lapangan.

2. Pelajari Behavior Customer

Belajar dan memahami perubahan behavior dari target market kita sekarang mengalami perubahan. Dari sebelumnya tren penjualan tahun ke tahun setiap Ramadan sudah menyiapkan barang-barang misalnya fashion, aksesoris, namun tahun ini berubah secara drastis.

Konsumen lebih mengalihkan daya beli dan beradaptasi pada hal-hal yang lebih urgent dan sesuai kebutuhan. Nah ini pentingnya punya database pelanggan, hal ini penting sebagai follow up komunikasi dan kategorisasi kebutuhan mereka.

3. Move ke Platform Digital

Sampai saat ini, baru 17-18 persen yang memaksimalkan platform digital dari 5,9 juta, dan perkiraan selama masa pandemi ini akan meningkat.

Kita bisa mulai belajar lagi melirik whatsapp bisnis, google Bisnisku dan promosi jejaring di Instagram. Cara masuk Google Business bisa masuk di browser, optimasi dengan detail usaha kita dengan jelas.

Kembali ke beberapa waktu lalu, platform messaging (whasapp dll) tidak ada commercenya, bahkan sosial media pun belum commerce, kini semuanya sudah commerce — tinggal ujungnya diberi saluran untuk transaksi, bisa di marketplace ataupun di web-commerce

Jika pulu pemasar via digital, mikirnya sudah cukup dengan hanya memakai 1-2 saluran saja, misalnya via Instagram atau via Facebook saja. Kini behaviour pelanggan dalam perkembangannya semakin kompleks, mereka perlu difasilitasi kemudahan untuk bertransaksi. Sebelum berujung pada transaksi, perlu di-influence sampai beberapa kali pertemuan dengan sebuah produk.

Jika pemasaran atau brand yang tidak sigap, dia rentan mati, sekalipun sudah berada di ranah digital. Banyak brand besar yang babak belur dan banyak UKM berjaya karena pinter memanfaatkan celah untuk memanfaatkan semua platfom sebagai channel transaksi.

4. Long Term for Prepare

Meski dalam kondisi sulit seperti sekarang bukan berarti kita tidak bisa berpikir long term. Termasuk kalau mau tetap buka bisnis di masa sekarang juga bisa asalkan terukur, kita mesti punya parameter dan lebih efisien dan jangan sampai meleset.

KIta tidak bisa mengontrol yang ada di luar kita tapi bisa mengontrol kesiapan kita sejauh apa, seberapa besar kita menguasai pasar, sektor mana saja saya bisa masuk dengan modal yang tidak besar.

Tertarik diversifikasi usaha atau memulai usaha yang sesuai dengan kondisi pandemi, berikut item yang bisa dijadikan peluang usaha baru:

1. Frozen Food (ready to cook dan ready eat), konsumen lebih suka masak di rumah untuk menjaga higienitas.

2. Konsumen lebih concern ke imunitas tubuh, misalnya obat herbal, jamu, vitamin menjadi salah satu kebutuhan yang dicari,

3. Konsumen mulai aware sama kesehatan dan fisik, muai mencari alat olahraga misalkan tools untuk Yoga.
Termasuk yang akan tetap dicari seperti masker kain dan hand sanitizer.

4. Konsumen mulai adaptif dengan kebiasaan baru yang semua serba akses online termasuk sekolah. Peluang bisnis tools bahan belajar dan mengajar belum banyak yang memainkan.

“Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan…” Ibnu Sina

Note: Artikel ini disarikan dari Diskusi Live Instagram #NgabuburitFAA series 4, UMKM: Siasat Bersemi di Masa Pandemi, Senin 11 Mei 2020

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

"When someone else's destruction seems like our victory, then there's no one in the world who's as devastated as us"

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

"People who love to eat are always the best people." – Julia Child

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

Ada anekdot yang pernah penulis baca, tersebutlah seorang remaja di beri tantangan untuk menghasilkan uang dari sebuah lahan sawah, dengan...