Resep Masakan Anticorona ala Kulinerita Kekinian

52

“People who love to eat are always the best people.” – Julia Child

Pengalaman berharga dari kemunculan virus corona adalah orang-orang memanfaatkan waktu luangnya untuk menekuni hobi yang lama tersisihkan karena sibuk bekerja di luar rumah. Saat #dirumahaja dan berkumpul dengan keluarga, terasa membosankan jika hanya dilewati dengan monoton. Maka beragam kreativitas pun terasah kembali.

Seperti Mba-mba saya ini yang tergabung dalam grup WhatsApp Kulinerita Kekinian. Mereka orang-orang yang sibuk bekerja, namun bisalah menyisihkan sedikit waktu buat ngumpul.

Saat berkumpul bukannya masak-masak, adalah sekali-kali masak di rumahnya siapa. Tapi yang paling sering, mereka nongkrong cantik di kafe atau rumah makan, berburu makanan hits lewat jastip atau beli online, hingga olahraga bareng.

Pembatasan berkumpul dan himbauan #dirumahaja membuat semua orang bertukar kabar lewat media sosial, begitupun para penulis resep di buku ini.

Hampir setiap hari saya melihat foto masakan diunggah di Instagram atau Facebook mereka. Saya yang tak pintar masak hanya bisa menelan ludah karena ingin menyicip. Keinginanku pun muncul untuk terjun memasak juga.

Gayung bersambut, niatku itu mendapat sebuah kejutan dari mba-mba ini; masakan mereka dibuatkan resep hingga jadi buku. Prestasi di kala pandemi, benar-benar mereka penyuka kuliner yang kekinian. Ditambah lagi, buku dalam bentuk PDF itu disebar secara sukarela.

Dari sampulnya saja sudah menarik karena tersaji bumbu-bumbu dapur yang ditata menarik. Membaca judulnya, saya teringat website Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia, bersatoe.com. para penulis memang alumni pers mahasiswa dan banyak yang terjun menjadi jurnalis atau aktivis.

Di halaman berikutnya ada foto kolase para penulis sambil memegang kertas yang jika digabung, tertulis: “biar kami yang mikir resepnya, kamu #dirumahaja.”

Selain foto, mereka juga menambahkan catatan ringkas. Seperti Lynda Putri, jurnalis Jawa Pos ini mengaku bosan saat harus bekerja dari rumah. Dapur berukuran 2 x 2 pun menjadi tempat hiburannya selama #dirumahaja. Atau Ecka Pramitha yang menjadikan memasak sebagai terapi untuk mengisi waktu. “Tidak hanya mengisi energi baru, tetapi memasak juga menjadi ajang bernostalgia. Tak ada standar baku dalam memasak, semua soal rasa, selera, dan kenangan,” tuturnya.

Dalam buku ini ada resep kudapan, hidangan utama, makanan penutup, hingga minuman. Totalnya ada 32 resep yang dibagi 4 bab. Bagian 1 adalah menu cemilan seperti Cilok Bumbu Kacang yang ditulis Ecka Pramitha, Dumpling Spring Rolls ala Nungki Kartikasari, dan Roti Jala dari Nisa Zonzoa.

Di bagian ke 2 berisi 10 resep masakan dengan tema Makan Siang Fusion, Menu Timur, dan Barat. Di bagian 3 adalah Stressed is Desserts yaitu Brownies Panggang Tanpa Mixer, Apple Pie, Chocorella Banana, Pancake Energen, serta Setup Roti Tawar.

Paling menarik bagi saya adalah bagian terakhir; minuman. Ada resep minuman terhits di awal pandemi: Dalgona Coffee. Selain gambarnya, nama-nama minuman di buku resep ini juga segar-segar, misalnya ada Jus Anticorona, Setup Nanas, Wedang Tolak Flu, Lemongrass and Honey Tea, dan Jus Detox.

Bagi saya yang baru belajar masak, buku ini adalah hadiah yang berharga juga pelajaran berharga. Bahwa #dirumahaja kita bisa berkreasi dan berkarya di dapur. Sehingga corona bukan alasan untuk diam saja di rumah.

Peresensi: Rezki Alvionitasari, Jurnalis dan Ibu Rumah Tangga, Alumnus LPMH Universitas Hasanuddin Makassar.
Judul: Bersatoe dalam Rasa: Kumpulan Resep Masakan Praktis untuk #dirumahaja
Penulis: Citra Amalia, Ecka Pramitha, Eka Zul, Fleur de Nufus, Nisa Zonzoa, Lynda Putri, Nungki Kartikasari

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

“Jika kau tak punya kenangan, meski di dalam hati pun kau takkan bersamanya. Tapi, walau jika yang kau miliki hanya...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...